HARI RAYA NYEPI: Umat Lain pun Ikut Menyumbang Ogoh-ogoh di Balun

Sejumlah patung ogoh-ogoh sedang dalam proses penyelesaian akhir di Pura Swetta Maha Suci, Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur pada Kamis (15/3) petang (Sumber: KOMPAS/ADI SUCIPTO K).

Oleh: ADI SUCIPTO KISSWARA

Lamongan, Baranews.co – Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur layak menyandang sebagai Kampung Pancasila dan destinasi Wisata Budaya. Balun mewakili wujud penghargaan atas kemajemukan dan keberagaman. Toleransi bukan hanya kata, tetapi diwujudkan nyata dalam kehidupan keseharian warganya, termasuk dalam membantu perayaan agama umat lainnya.

Kali ini, menjelang perayaan Nyepi dan pawai ogoh-ogoh ada delapan ogoh-ogoh yang dipersiapkan Umat Hindu Desa Balun. Tiga ogoh-ogoh lainnya partisipasi umat dan masyarakat lainnya seperti pemuda Kristen, dan komunitas supporter Persela, LA mania Balun Raya. Tahun lalu, dari tujuh ogoh-ogoh dua lainnya sumbangsih dari kelompok masyarakat non Hindhu.

KOMPAS/ADI SUCIPTO K

Pada perayaan Nyepi 1940 tahun saka ini, ada delapan ogoh -ogoh yang akan diarak dan dibakar di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur pada Jumat (16/3) ini. Tiga di antaranya partisipasi dari umat lain dan LA mania Balun Raya

Ogoh-ogoh pun ada yang dibuat di pura, ada yang dibuat di rumah warga juga di buat di kedai kopi LA Mania Balun Raya. Sebaliknya pada perayaan Natal tahun lalu, LA Mania Balun Raya dan umat Hindu juga membuatkan pernik-pernik hiasan pohon terang (pohon Natal). Antar umat beragama di desa yang mayoritas warganya bertani dan mengolah tambak ini, masyarakatnya hidup berdampingan dengan damai.

Menjelang peringatan Hari Raya Nyepi tahun baru saka 1940, umat Hindu yang berada di Desa Balun telah menyiapkan ogoh-ogoh yang akan diarak pada Jumat (16/3) sekitar pukul 15.00. Setelah diarak keliling desa, usai maghrib, simbol angkara murka dan watak tidak baik itu akan dibakar di lapangan desa.

Menurut Pemangku Pura Sweta Mahasuci Desa Balun, Ngarijo, pembuatan ogoh-ogoh di desanya dipusatkan di pura desa sejak Januari lalu. Lima dibuat di pura, tiga lainnya dibuat di rumah warga. “Pembuatan ogoh-ogoh yang di rumah warga, dibantu juga oleh saudara-saudara kami dari umat lain, yaitu Islam dan Kristen, sebagai bentuk toleransi antar umat dan antar saudara. Persiapan lama karena cuaca sering mendung dan hujan,” kata Ngarijo.

KOMPAS/ADI SUCIPTO K

Para pemuda non Hindu di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur Kamis (15/3) petang turut berpartisipasi menyiapkan ogoh-ogoh yang akan diarak dan dibakar oleh umat Hindu di Desa Balun pada Jumat (16/3)

Anggota LAmania, Purnomo menuturkan keikutsertaan Lamania merupakan bentuk partisipasi sebagai umat beragama untuk menjaga persatuan dan kerukunan. Anggota komunitas LA mania terlibat langsung dalam pembuatan ogoh-ogoh. “Kami mendisain sendiri bentuk patungnya. Bahannya berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya menggunakan kertas semen. Kali ini ini kami menambahkan serabut kelapa,” paparnya.

Sementara itu kelompok pemuda Kristen membuat ogoh-ogoh di rumah tokok Kristen setempat Sutrisno. Pada Kamis petang mereka menuntaskan ogoh-ogoh dan menyelasikan pengecatan. “Ini bentuk kami saling membantu. Diantara kami tidak pernah masuk urusan ritual keagamaan. Kami hanya ingin umat lain merayakan hari raya agamanya dengan lancar,” ujarnya.

KOMPAS/ADI SUCIPTO K

Sejumlah ogoh-ogoh sebagai simbol kejahatan, angkara murka dan watak buruk manusia pada Jumat (16/3) akan diarak keliling kampung dan dibakar di lapangan Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Lamongan, Anang Taufiq menilai potensi Balun, dengan toleransinya yang tinggi. Kebiasaannya masyarakatnya saling menghargai, merupakan sesuatu yang unik. Potensi itu jika dikelola khusus bisa menjadi Wisata Khas, Wisata Budaya, Wisata Kampung Pancasila.

Saat ini pihaknya telah membina sejumlah warga untuk membuat suvenir dan cendera mata khas Balun, sebagai wujud toleransi termasuk berbentuk kaos, kerajinan lampu, maupun camilan. Menurut dia, sayang jika keunikan itu tidak didorong untuk meningkatkan penghasilan warga. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply