Perjuangan Global Lawan Obesitas: Apa yang Anda Makan dan Cara Anda Berpikir

ARSIP – Angka-angka yang dirilis pemerintah hari Jumat, 13 Oktober 2017, menunjukkan tingkat obesitas di kalangan orang dewasa menjadi 40 persen, dari sebelumnya yang hampir 38 persen (Sumber: VOA Indonesia/AP Photo/Mark Lennihan).

Warga lokal Los Angeles, Kathleen Mulcahy, telah berjuang melawan berat badannya selama 55 tahun.

“Orang tua saya punya seorang bayi, seorang putra, dan ia meninggal saat lahir. Usia saya waktu itu 7 tahun, dan saya kira itu saat saya mulai menjadi gemuk. Ibu saya meninggal tiba-tiba saat saya berusia 12 tahun, dan berat badan saya langsung melonjak. Saat saya lulus SMA, berat saya sekitar 118 kg,” ujar Mulcahy.

Ia tidak sendiri.

Lemak, garam, gula

Masalah dengan obesitas di seluruh dunia telah melonjak tiga kali lipat sejak 1975, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Ini bukan saja masalah dengan negara-negara berpenghasilan tinggi seperti Amerika Serikat. Ada semakin banyak orang yang mengalami obesitas dan gemuk di negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah. Berat badan berlebih terkait dengan meningkatnya angka kematian global ketimbang berat badan di bawah rata-rata.

“Makanan cepat saji, perusahaan-perusahaan transnasional, perusahaan-perusahaan minuman ringan merambah negara-negara berkembang dan memiliki pengaruh yang sangat besar atas terjadinya epidemi kelebihan berat badan dan obesitas, karena mereka menambah kalori dan makanan olahan, garam, dan gula ke dalam pola makan yang mereka biasa makan,” ujar Dana Hunnes, seorang asisten profesor di the University of California, Los Angeles, Fielding School of Public Health.

Gaya hidup orang di negara-negara berkembang juga ikut berubah.

“Saat orang-orang mulai tinggal di kawasan perkotaan dan memiliki uang lebih banyak dan gaya hidup yang cenderung kurang aktif, berat badan mereka juga bertambah dan mengikuti pola gaya hidup Amerika Serikat,” ujar Hunnes.

Menurut seorang psikoterapis, Deena Solomon, ada alasan lain juga mengapa orang semakin gemuk secara global.

“Orang-orang menjauh dari keluarga asalnya. Mereka tidak memiliki sistem pendukung yang akan membantu mereka juga mengelola dan memiliki hubungan sebagai pilihan saat mereka mengalami stres, sehingga orang beralih ke makanan,” ujar Solomon.

Meskipun pola diet yang populer dapat menjadi sarana untuk menurunkan berat badan secara cepat, namun menjaga agar tidak kegemukan adalah tantangan tersendiri.

“Dalam menjaga berat badan yang ideal, studi secara meyakinkan menunjukkan pola makan dengan sayur-sayuran merupakan jalan keluar yang baik untuk jangka panjang,” ujar Hunnes.

Namun, apabila beralih menjadi seorang vegetarian terlalu esktrim, pola makan dengan sedikit daging juga dapat membantu, ujarnya.

Perubahan perilaku

Ketimbang fokus pada apa yang dimakan, Solomon membantu orang-orang untuk menjaga berat badan ideal dengan mengubah pola pikir orang untuk mengubah kebiasaan makannya. Ia mengatakan berat badannya 102 kg dan berhasil mengurangi 32 kg lebih dari 30 tahun.

Solomon menulis buku tentang pengelolaan berat badan dan telah membantu banyak klien seperti Mulcahy untuk memiliki kesadaran diri yang lebih besar. Bagian penting dari metodenya adalah sebuah jurnal, dimana mereka yang makan terlalu banyak menuliskan segala yang mereka makan sebelum mereka makan.

“Jadi kesadaran itu, rasa untuk lebih berhati-hati, menjadi lebih kuat ketimbang rasa kepuasan langsung yang ditimbulkan makanan. Namun anda harus mempelajarinya. Ini harus menjadi kebiasaan,” ujar Solomon.

Metode ini berhasil untuk Mulcahy, yang telah berhasil menjaga berat badannya saat ini selama hampir tiga tahun.

“Anda mendapatkan sebuah perasaan keberhasilan, rasa keberdayaan dan nilai, yang dapat anda terapkan dimana-mana,” ujar Mulcahy.

Psikologi makanan

“Cara kita berpiir tentang makanan, psikologi kita tentang makanan sangat penting dalam kaitannya dengan diet,” ujar Hunnes.

Bagaimana budaya yang berbeda berpikir tentang jenis-jenis makanan yang berbeda juga memainkan peran tentang apa yang orang makan dan berat badan mereka.

Kita tahu bahwa pola makan Barat, pola makan yang tinggi dengan kandungan produk-produk hewani, tidak menjadi dasar yang menunjang kesehatan agar tidak terjangkit penyakit diabetes Tipe 2, kanker, penyakit jantung, dan jumlah masalah kesehatan yang tidak terhitung banyaknya. Mengkonsumsi daging sebanyak itu, mengkonsumsi produk hewani sebanyak itu, sama sekali tidak sehat.

“Dan makan dengan pola makan tradisional yang didominasi buah dan sayur-sayuran serta biji-bijian dan serat adalah sesuatu yang kami (bangsa Barat) inginkan,” ujar Hunnes. [ww]/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*