PSIKOLOGI: Takut akan Kematian

Ilustrasi (Sumber: Harian KOMPAS).

Oleh: AGUSTINE DWIPUTRI

Kematian adalah suatu kepastian. Kita semua akan mengalaminya. Memang masih banyak orang yang menganggap tabu untuk membicarakannya. Padahal, sebagian orang mengalami rasa takut menghadapinya. Karena itu, dipandang perlu juga kita mengulas dan merenungkannya.

Edmund Bourne, PhD dalam bukunya, The Anxiety and Phobia Workbook (2010), mengatakan bahwa takut mati atau dalam istilah aslinya disebut sebagai tanatofobia dapat melibatkan satu atau beberapa ketakutan yang berbeda. Berikut adalah beberapa jenis ketakutan yang paling umum:

– Takut pada ketidakberadaan, sebuah akhir hidup yang permanen

– Takut pada hal yang tidak diketahui, tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kematian

– Takut akan akhirat yang negatif berdasarkan kepercayaan agama, seperti gagasan tentang neraka atau api penyucian

– Takut pada penyakit, rasa sakit, dan penderitaan yang berhubungan dengan kematian

– Takut akan kematian orang yang dicintai yang sangat erat hubungannya dengan Anda

– Takut pada hal yang akan terjadi pada orang yang dicintai di keluarga Anda setelah kematian Anda

– Takut akan benda mati, seperti jenazah atau sesuatu yang berhubungan dengan kematian, seperti peti mati, rumah pemakaman, dan kuburan (nekrofobia).

Menurut Kimberly Holland (2017), adalah wajar bagi seseorang mengkhawatirkan kesehatan mereka sendiri seiring bertambahnya usia. Hal ini juga biasa terjadi pada seseorang yang mengkhawatirkan teman dan keluarga mereka setelah mereka pergi. Namun, pada beberapa orang, kekhawatiran ini dapat berkembang menjadi kekhawatiran dan ketakutan yang lebih bermasalah. Memang tanatofobia tidak secara resmi diakui oleh American Psychiatric Association sebagai suatu gangguan. Sebagai penggantinya, kecemasan yang dihadapi karena ketakutan semacam ini sering dikaitkan dengan kecemasan menyeluruh.

Gejala

Gejala tanatofobia mungkin tidak hadir setiap saat. Mungkin kita hanya memperhatikan tanda dan gejala ketakutan ini ketika mulai memikirkan kematian atau kematian orang yang kita cintai.

Holland menjelaskan bahwa gejala paling umum dari kondisi psikologis ini meliputi lebih seringnya serangan panik, meningkatnya kecemasan, pusing, berkeringat, jantung berdebar-debar atau detak jantung tidak teratur, mual, sakit perut, dan peka terhadap suhu panas atau dingin. Kita mungkin juga mengalami beberapa gejala emosional, seperti menghindari teman dan keluarga untuk jangka waktu yang lama, marah, sedih, agitasi, rasa bersalah, dan khawatir terus-menerus.

Gejala biasanya meningkat pada usia 20 tahunan, kemudian memudar dengan bertambahnya umur. Namun, setelah menginjak usia lanjut, dengan berbagai pengalaman hidup, bisa saja gejala ini muncul kembali.

Penyebab

Bourne menjelaskan bahwa penyebab takut kematian bervariasi, tergantung pada ketakutan mana yang paling dominan. Filsafat eksistensialis berpendapat bahwa ketakutan akan ketidakberadaan adalah bawaan pada kondisi manusia dan dimiliki oleh semua manusia pada tingkat yang dalam. Beberapa bahkan mengatakan bahwa rasa takut akan kematian (dalam arti ketidakberadaan yang permanen) adalah ”inti” atau ketakutan mendasar di balik semua ketakutan.

Ketakutan lain tentang kematian berpusat seputar keyakinan agama tentang hukuman dan neraka di akhirat.

Rasa takut akan sakit dan penderitaan yang terkait dengan kematian mungkin timbul dari pengalaman traumatis ketika menyaksikan orang yang dicintai menjalani proses kematian yang berlarut-larut. Sering kali kematian orang yang dicintai dapat meningkatkan ketakutan akan kematian seseorang, seperti halnya ketakutan akan penglihatan dan benda-benda yang terkait dengan kematian.

Penanganan

Penanganan tanatofobia tentu saja tergantung pada sifat spesifik dari ketakutan khusus Anda. Apabila gejala sangat mengganggu, mungkin diperlukan bantuan ahli untuk melakukan terapi. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan adalah memberikan terapi perilaku kognitif yang bertujuan utama menanamkan pemikiran positif untuk menggantikan gambaran yang menakutkan itu. Kemudian, terapis dapat pula memberikan teknik relaksasi untuk mengatasi rasa panik dan takut ketika seseorang mengalami episode fobia. Konseling keagamaan juga dapat membantu mengendalikan gejala tanatofobia. Sering kali fobia dapat disebabkan oleh keyakinan yang salah tentang kematian dan kehidupan setelah kematian.

Margaret Manning (2015) menambahkan beberapa tips dari orang-orang berusia lebih dari 50 tahun yang telah menaklukkan ketakutan mereka akan kematian sebagai berikut:

1. Mengendalikan hidup

Luangkan waktu berkualitas bersama orang-orang yang Anda sukai. Cobalah hal-hal baru, yang terpenting tetap terlibat dengan aktivitas positif. Jika ada urusan yang belum selesai, bereskan. Jika ada seseorang yang perlu Anda ajak bicara, kontaklah.

Jangan terus melakukan pekerjaan yang sangat tidak memuaskan, berhentilah menjalin hubungan yang membuat Anda tidak bahagia. Rasa takut akan kematian sering kali merupakan rasa takut untuk tidak hidup sesuai dengan keinginan Anda sendiri. Anda layak melihat impian Anda menjadi kenyataan. Semakin Anda merangkul kehidupan, semakin berkurang rasa takut untuk menyerah saat waktunya tiba.

2. Belajar menerima bahwa kematian itu alami

Ini membantu mengenali diri kita sebagai bagian dari siklus besar dan menemukan rasa nyaman mengalami kenyataan bahwa setiap orang harus melalui ambang pintu yang sama: konsepsi, kelahiran, dan kematian.

Peneliti tentang kematian, Norman Van Rooy, pernah berkata, ”Seperti anak yang lahir, kita tidak punya pilihan selain menyerahkan diri kita kepada hal yang tidak diketahui.” Kita dapat memilih untuk melihat diri dan kontribusi kita terhadap dunia ini sebagai sebuah kehormatan. Kita memiliki hak istimewa untuk hidup. Jadi, mari kita bersyukur dan menerima kematian saat akhirnya tiba.

3. Membaca tulisan dan panduan tentang kematian

Banyak penulis telah berbagi renungan mereka tentang masalah kematian. Para pemimpin agama dan filsuf telah membangun perpustakaan hebat tentang kehidupan setelah kematian. Hasil kerja mereka mungkin tidak memberi tahu Anda secara pasti apa yang terjadi setelah Anda meninggal. Namun, mereka dapat membantu Anda mengatasi pertanyaan yang sama pentingnya tentang mengapa kita berada di sini dan bagaimana kita harus mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Takut akan kematian dari orang yang dicintai bisa menjadi sulit, tetapi bisa dilihat sebagai ”panggilan spiritual” untuk mengembangkan kekuatan batin dan kemampuan untuk berdiri sendiri, bahkan tanpa kehadiran seseorang yang disayanginya. Beberapa orang berbesar hati dengan keyakinan bahwa setelah kematian, mereka akan dipertemukan kembali dengan orang-orang tercinta yang telah pergi sebelumnya.

Mari bersama merenungkannya. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*