Kegagalan Konstruksi Diduga Penyebab Longsor di Underpass Soekarno-Hatta

Longsor di Underpass Soekarno-Hatta (Sumber: ekonomi.kompas.com).

Badan Geologi Kementerian ESDM menduga kegagalan kontruksi adalah faktor penyebab terjadinya longsor di Underpass Jalan Perimeter Selatan, Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang.

JAKARTA, Baranews.co – Musibah longsor di Jakarta dan sekitarnya kembali terulang. Underpass Jalan Perimeter Selatan, Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, longsor dan memakan korban jiwa.

Sebuah mobil yang ditumpangi dua orang terkubur longsoran saat melintasi underpass tersebut. Dyanti Dyah Ayu Cahyani (24) dinyatakan meninggal saat sedang dirawat di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang. Sementara Mutmainah saat ini sedang menjalani perawatan di RS Siloam Karawaci, Tangerang.

Kegagalan Konstruksi

Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar, insiden longsor tersebut terjadi karena kegagalan kontruksi yang dibangun. Beton penahan jalan yang tidak kuat menopang beban air saat hujan lebat menjadi faktor penyebab longsor itu. Padahal, kawasan tersebut salah satu titik merah atau rawan longsor.

“Longsor di Banten, masalah kegagalan sipil engineering. Beton penahan jalan tidak kuat menahan beban,” kata Rudy di Audotorium PVMBG, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (06/02/2018).

Rudy mengatakan, ada tiga kriteria wilayah yang dikatakan rentan terjadi pergerakan tanah atau longsor. Di antaranya memiliki lereng yang cukup terjal dan tidak kuat untuk menahan beban air saat hujan lebat.

Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat serta pihak bandara terkait longsor di underpass tersebut. Salah satunya yakni mengantisipasi terjadinya longsor susulan di lain titik.

“Kita terus berkoordinasi dan memetakan kawasan yang rawan keretakan tanah,” ujarnya.

Kelalaian pengawasan

Guru Besar Manajemen Konstruksi Universitas Pelita Harapan (UPH), Prof. Dr. Manlian Ronald Simanjuntak, kepada Gatra.com, mengatakan, kejadian ini diakibatkan kelalaian sistem operasional. Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan terkait manajemen konstruksi.

“Ini sebuah kelalaian akibat kurangnya controlling terhadap aspek penataan ruang, peran pemerintah daerah dalam mengontrol karya hasil pembangunan konstruksi, keandalan desain sistem struktur penahan tanah, keandalan bahan bangunan, juga keandalan metode pelaksanaan konstuksi,” katanya.

Sementara itu PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) selaku kontraktor perimeter selatan underpass kawasan Bandara Soekarno Hatta (Soetta) menerjunkan tim investigasi. Ini untuk meneliti runtuhnya perimeter di kawasan itu.

“Iya, penyebabnya sedang kita teliti. Nanti pasti ada penjelasan lebih lanjut,” kata Direktur Waskita Karya Tunggul Rajagukguk. [yp/ml  (mediaindonesia.com, gatra.com)/dw.com/swh].

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*