Mencari Sinyal di Dinding Jendela Rumah

Dua warga sedang mencari sinyal di dinding jendela rumah di pelosok Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Rabu (31/1/2018).(Sumber: KOMPAS.com/Markus Makur).

BORONG, Baranews.co – Siang itu, Rabu (31/1/2018), Benediktus Adeni (38) dan Levi Be Taja (25) beranjak dari rumah saudara mereka di Kampung Kelok, Kelurahan Tiwu Kondo, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, yang tidak ada sinyal di telepon seluler menuju Kampung Rai Kembang, ibu kota Kecamatan Elar.

Keduanya sudah empat hari berada di Kecamatan Elar untuk melaksanakan tugas sekaligus menjelajahi pelosok dan kampung-kampung di kecamatan tersebut.

Selama empat hari itu juga mereka tidak bisa berkomunikasi dengan anak, istri, dan keluarga di Kampung Mbapo, Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba, serta saudara mereka yang berada di Kota Borong ataupun kota lain di Indonesia.

Biasanya Adeni dan Taja selalu memberikan informasi melalui pesan singkat atau telepon menggunakan ponsel ketika berada tak jauh dari kampung, juga ketika ada kegiatan di Kota Borong.

Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan tidak ada jaringan atau sinyal saat berada di Kecamatan Elar. Satu-satunya jaringan ponsel di wilayah Manggarai Timur adalah jaringan milik suatu perusahaan telekomunikasi.

Satu-satunya cara menghibur diri mereka dengan mendengar musik di ponsel sambil mencari tahu informasi kepada saudara mereka tentang di mana jaringan sinyal ada di sekitar Kecamatan Elar.

“Saya sudah empat hari berada di Kecamatan Elar, Manggarai Timur, sejak datang hari Minggu (28/1/2018) bersama dengan saudara saya, Levi Be Taja. Sudah empat hari tidak bisa berkomunikasi dengan anak dan istri serta saudara yang berada di kampung maupun di Kota Borong serta saudara lain yang berada di seluruh Indonesia,” jelas Adeni saat ditemui Kompas.com di sebuah rumah di Kampung Rai Kembang, Kelurahan Tiwu Kondo, Kecamatan Elar, Manggarai Timur (31/1/2018).

Dia merasa terkejut saat mendapat informasi dari warga Elar bahwa ada sebuah rumah di sekitar Kampung Rai Kembang yang terdapat sinyal dan bisa melakukan komunikasi di dinding jendela rumah tersebut.

Ketika ada sinyal di dinding jendela, lanjut Adeni, dia merasa puas bisa memberikan informasi kepada istri, anak, dan keluarga di kampung tentang keadaan, cuaca, serta kondisi geografis di Kecamatan Elar melalui pesan singkat ataupun telepon.

“Walaupun jaringan di handphone naik turun dengan ditandai satu atau dua kotak jaringan, tetapi yang terpenting bisa berkomunikasi dengan keluarga dari pelosok-pelosok Kecamatan Elar. Itulah kondisi riil di kampung yang jauh dari kota. Kalau ke pedalaman dan pelosok-pelosok Manggarai Timur sebaiknya bawa sekaligus dengan sinyal, he-he-he,” ujarnya sambil melucu.

Adeni menjelaskan, saat berkomunikasi di dinding jendela, di luar rumah itu ada sekitar 10 orang ibu sedang menyiangi rumput di lahan persawahan yang hijau pada hari itu.

“Mereka semua memperhatikan saya dan saudara saya yang sedang berkomunikasi di dinding jendela. Mereka melihat saya dari lahan persawahan itu karena saya sangat bahagia bisa berkomunikasi dengan keluarga. Mereka terus melihat saya ketika asyik berbicara melalui pesan suara walaupun wajah tak kelihatan,” tuturnya.

Adeni menjelaskan, setelah selesai berkomunikasi dengan keluarga, dia mencoba membuka jaringan internet untuk mencari berita.

Berita-berita yang dicari yaitu seputar pemilihan calon cubernur dan wakil gubernur Nusa Tenggara Timur serta calon bupati dan wakil bupati Manggarai Timur 2018.

“Saya juga membuka Facebook untuk membaca informasi dari teman-teman di dunia maya. Tetapi, sinyalnya parah dan akhirnya saya hanya bisa memakai handphone untuk mengirim pesan singkat dan telepon, ucap Adeni.

Pemandangan di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Rabu (31/1/2018).
Pemandangan di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Rabu (31/1/2018)(Kompas.com/Markus Makur)

Sementara itu, Levi Be Taja saat ditemui Kompas.com di rumah yang sama, Rabu (31/1/2018), menjelaskan, dia berusaha beradaptasi dengan keadaan sulitnya berkomunikasi melalui ponsel di Kecamatan Elar.

Dia mengaku menerima keadaan itu karena tahu mengenai keterbatasan jaringan komunikasi di pelosok-pelosok Manggarai Timur.

“Sebelum saya menetap di Manggarai Timur, saya kuliah di Kota Makassar. Di sana tidak ada kesulitan dengan jaringan telekomunikasi, juga banyak alternatif jaringan, ada Telkomsel, Flexi, dan lain sebagainya. Sementara di Manggarai Timur hanya ada Telkomsel. Itu yang saya tahu, mungkin ada yang lainnya,” jelasnya.

Taja mengatakan, dia menerima keadaan sulitnya berkomunikasi di Kecamatan Elar dan Elar Selatan, termasuk harus mengurungkan niat untuk mengakses internet karena tidak ada sinyal.

Secara terpisah, Mama Bibi Mue di Kampung Wae Solo, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, menuturkan, Rabu (31/1/2018), apabila warga Elar dan Elar Selatan mau menelepon anak mereka yang kuliah di luar Pulau Flores atau keluarga di Kota Borong dan Ruteng, mereka harus pergi ke bukit-bukit untuk mencari sinyal.

Mereka juga bisa ke rumah tetangga untuk mendapatkan jaringan seluler di dinding jendela rumah.

“Warga yang tersebar di kampung-kampung di seluruh Elar dan Elar Selatan masih mengalami kesulitan jaringan telepon seluler. Warga selalu mencari sinyal di kawasan perbukitan. Kami masih mengalami kesulitan jaringan telepon seluler di pelosok-pelosok,” tutur Mama Bibi Mue.

Menempuh jarak jauh

Tidak mudah menjangkau Kecamatan Elar, keadaan topografi dan geografi kampung-kampung di wilayah itu yang membuatnya sulit dijangkau. Ditambah lagi dengan kondisi infrastruktur yang memprihatinkan.

Perlu dipertimbangkan dengan baik apabila ingin bertualang ke wilayah tersebut. Soal kendaraan, sepeda motor trail atau motor besar adalah kendaraan yang cocok dipakai di sana.

Banyak warga yang memakai motor besar dan kecil, begitu pula pegawai yang bertugas di wilayah itu. Kalau mereka bepergian ke Kota Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur, atau ke Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, bisa juga menggunakan oto colt, mobil beratap kayu atau sering disebut bus kayu.

Adapun jarak tempuh dari Kota Borong ke Kota Elar sekitar 102 kilometer. Itu belum termasuk ke kampung-kampung dan pelosok-pelosok di Elar. Sedangkan dari Kota Ruteng ke Kecamatan Elar ditempuh dengan jarak 87 kilometer.  (Kontributor Manggarai, Markus Makur/kompas.com/bh).

Be the first to comment

Leave a Reply