Nelayan Natuna: Maling Ikan Dulu Ramai, Kini Satu Pun Enggak Lihat

Laut Natuna Utara menjadi wilayah yang paling rawan disusupi oleh kapal-kapal maling ikan dari negara tetangga. Selain sumber daya laut seperti ikan yang masih banyak ujung garis pantai, Natuna juga langsung berbatasan dengan negara-negara lain.

Natuna, Baranews.co – Laut Natuna Utara menjadi wilayah yang paling rawan disusupi oleh kapal-kapal maling ikan dari negara tetangga. Selain sumber daya laut seperti ikan yang masih banyak ujung garis pantai, Natuna juga langsung berbatasan dengan negara-negara lain.

Namun, sejak Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan aksi penenggelaman, para nelayan di Natuna sudah jarang melihat kapal-kapal pencuri ikan.

“Itu memang sudah drastis turun, tapi masih ada. Tapi tidak sebanyak dulu, kalau dulu konvoinya banyak, tapi kalau sekarang kita mau nengok satu saja sudah susah,” kata Mahyu, nelayan dari Kecamatan Sumbi, Natuna, Selasa (30/1/2018).

Menurut dia, sebelum adanya aksi tegas pemerintah melalui penenggelaman, kapal-kapal maling ikan dari luar negeri bisa dibilang nekat dan tidak mempedulikan para nelayan lokal.

“Kalau dulu dari garis pantai itu 5 mil sudah dibabat, tapi sekarang enggak, sudah 30-40 mill baru jumpa dia. Itu kadang-kadang dua buah tiga buah dari Vietnam,” ungkap dia.

Sudah sepinya kapal pencuri ikan juga membuat para nelayan tradisional di Natuna bisa kembali mencari ikan dekat dengan bibir pantai dan tidak perlu lagi jauh.

“Biasanya kami melaut itu sampai 30 mil dari Sumbi, perjalananya 10 jam, kalau berangkat tengah malam siang sampai sini,” ungkap dia.

Hasil tangkapan ikannya pun kini sudah naik, dia menceritakan sekali melaut bisa mendapatkan keuntungan sekitar puluhan juta. Waktu melaut pun bisa mencapai satu minggu bahkan sampai belasan hari.

“Operasional minimal itu Rp 10 juta, karena minimal itu kita melaut 1 minggu, jadi tidak datang langsung pulang, dengab modal segitu alhamdulillah kadang-kadang bisa sampai Rp 20 juta lebih, soalnya kita juga kejar target juga. Jadi enggak bisa kalau dapat sekian pulang,” kata dia.

Sementara itu, Tarmini yang juga nelayan di Natuna menyebutkan, keberadaan kapal asing sudah sangat jarang.

“Kalau kapal asing saya tengok sepi, tidak pernah kami jumpai sama sekali, tapi kemarin masih ada yang tangkap dengan bahan peledak,” kata Tarmini.

Seiring dengan jumlah kapal maling ikan yang berkurang, pemerintah melalui KKP juga mendirikan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di Selat Lampa.

Keberadaan SKPT Natuna ini agar memberikan kepastian harga jual ikan karena terdapat cold storage yang mampu menampung ikan sampai 200 ton dan dioperasikan oleh Perum Perindo.

Asisten Manager Perindo Unit Natuna, Roberto mengatakan, peran dari BUMN di SKPT ini memberikan kepastian harga ikan kepada para nelayan.

Dia mencontohkan, seperti harga ikan jenis angoli yang ditetapkan Rp 50.000 per kg. Harga ini berlaku untuk pasokan sepi maupun tengah banyak.

“Nelayan inginnya kepastian harga, tidak naik turun. Rp 50.000 itu sepanjang tahun,” kata Roberto.

Selain itu, kata Roberto, Perindo juga memudahkan para nelayan kecil yang ingin menjual ikannya kepada Perindo. Di mana, cukup menjualnya kepada pengepul yang menjadi mitra, harganya pun sudah disesuaikan dengan harga pasar. (detik.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*