Timnas Indonesia, Sepakbola “Ngotot” Tanpa Filosofi

Pemain Timnas Indonesia setelah mencetak gol pertama ke gawang Islandia (Sumber: topbola.net)

Oleh: Syaiful W HARAHAP

Pelatih kesebelasan nasional (Timnas) Indonesia silih berganti, tapi di kancah regional ASEAN saja tetap saja keok. Laga persahabatan dengan debutan Piala Dunia 2018, Islandia, (14/1) di Stadion GBK Jakarta Timnas bertekuk lutut 1-4. Sebelumnya tim Indonesia Selection juga dibantai Islandia dnegan skor 6-0.

Kesebelasan-kesebelasan nasional di dunia selalu mempunyai ciri khas yang cenderung sebagai filosofi ketika bermain. Belanda, misalnya, dikenal dengan total football, Italia dengan catenaccio, Jerman dengan der panzer, dll.  Nah, Timnas kita ganti-ganti pelatih tanpa pijakan filosofi yang kuat.

Yang pernah didengung-dengungkan adalah ‘sepakbola ngotot’ (untuk menang). Tapi, sengotot apapun pemain kalau tidak memenuhi unsur-unsur bermain sepakbola yang baik tidak ada tentulah hasilnya, maaf, ‘ke laut’ alias kalah. Lalu ada lagi semboyan ‘semaksimal mungkin’. Ini juga slogan yang ngaco karena tidak semua aspek dalam sepakbola bisa dilakukan maksimal oleh pemain dan tim. Maka, perlu ada strategi berupa keunggulan khas yang disebut filosofi yaitu pijakan atau pegangan yang jadi penentu arah (permainan).

Ketika Timnas masuk final Piala AFF tahun 2010 sukacita pun mewarnai penggemar bola nasional, tapi pada laga itu dikalahkan Malaysia 3-2. Ketika itu Timnas tenggelam dalam superreality yang dibesar-besarkan media massa, terutama televisi, yang nyaris  tanpa cacat (Baca juga: Timnas PSSI Korban Hyperreality Stasiun Televisi Nasional).

Kembali ke laga dengan Islandia sebagai penonton penulis melihat ada unsur-unsur Spanyol dalam pergerakan pemain, lebih khusus lagi gaya tiki-taka yang dijadikan filosofi bermain bola di Stadion Camp Nou oleh Barcelona. Sebagai orang Spanyol bisa saja Luis Milla terinspirasi oleh tiki-taka.

Celakanya, Milla tidak mempesiapkan faktor-faktor pendukung pola bermain yang jadi andalan Barcelona itu yaitu pemain-pemain tanggung di lini tengah. Soalnya, tiki-taka mengandalkan distribusi bola dari pemain tengah yang menjadi awal serangan ke mulut gawang lawan.

Sebagai induk olahraga sepakbola PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) sudah beberarpa kali dijalankan dengan mengutamakan disiplin, tapi disiplin yang diterapkan tidak terkait langsung dengan teknik sepakbola.  Disiplin di sepakbola adalah menjalankan peran di lapangan hijau dan mengikuti instruksi pelatih dari tepi lapangan.

Penguasaan bola juga sering terlalu lama di kaki seorang pemain yang disebut ‘menggoreng bola’ yang memberikan ruang dan waktu kepada pemain lawan untuk menghalau. Maka, yang terjadi adalah pemain (kita) yang cepat (berlari) sementara bola tetap di kaki satu pemain. Padahal, dalam sepakbola yang dijalankan adalah bola bergerak dengan cepat dari kaki satu pemain ke pemain lain sempai ke mulut gawang lawan.

Ketika pelatih Wiel Coerver asal Belanda menangani pemain-pemain muda di awal tahun 1970-an yang dipusatkan di Salatiga, Jateng, banyak yang berharap akan lahir kesebelasan nasional. Sayang, ketik aitu Coerver memilih hengkang dan pulang ke negaranya karena tidak kuat menghadapi campur tangan berbagai pihak. Coerver meninggal di Beladan tahun 2011.Seorang teman sekelas di salah satu STMN di Kota Medan, Sumut, yang ikut dipilih  Coerver juga dipulangkan dengan alasan yang tidak jelas. Yang jelas ketika itu hanya teman itu yang bermarga.

Tahun 1970-an sampai tahun 1980-an pemain-pamin PSMS Medan banyak yang namanya berbau Jawa. Mereka itu berasal dari perkebunan yang banyak di Sumut. Laga sepakbola secara rutin dijalankan di perkebunan dan antar perkebunan. Orang tua anak-anak karyawan yang masuk tim sepakbola akan dapat ‘promosi’ di lingkungan administrasi sehingga ‘anak-anak perkebunan’ merasa bangga bisa memberikan sesuatu kepada orang tuanya.

Dulu pekan olahraga secara nasional berjalan secara kontiniu dan konsisten mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA yang kemudian memunculkan pemian handal. Agaknya, program talent scouting tidak berjalan dengan baik di Indonesia karena tetap saja ada unsur KKN.

Selain itu pembelaan yang berlebihan terhadap pemain yang melawan wasit, bahkan ada yang mendorong, meludahi dan menunjukkan kemaluan membuat pemain arogan dan tidak lagi memakai akal sehat dalam bermain bola.  Sepakbola kita komplit karena kaki juga dipakai menendang lawan dan wasit, tangan pun main menjotos pemain lawan dan wasit. Ini benar-benar menyakitkan tapi tidak jadi bahan evaluasi pengurus PSSI. Buktinya, hukuman bagi pemain tidak dilakukan seperti hukuman terhadap pemain di Eropa berupa larangan bermain dan denda.

Penantian penggemar bola di Tanah Air terkait dengan prestasi Timnas tinggal menghitung hari yaitu pada laga di ajang Asian Games 2018 pada Agustus 2018. Kalau tetap tidak bisa juara itu artinya perlu evaluasi yang komprehensif yang melibatkan pakar-pakar terkait secara objektif. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply