PENYAKIT KATASTROPIK: Beban Ekonomi Negara Bertambah

Ilustrasi (Sumber: cektkp.id)

JAKARTA, Baranews.co – Penyakit katastropik yang butuh biaya terapi mahal kian membebani biaya pelayanan kesehatan dan ekonomi negara. Meski Program JKN-KIS membuka akses masyarakat mendapat layanan kesehatan, fokus program yang bersifat kuratif atau pengobatan membuat pencegahan penyakit terpinggirkan. Akibatnya, mata rantai penyakit katastropik sulit diputus.

Sejak 2014 hingga kini, lebih dari seperlima pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) digunakan untuk menanggung delapan jenis penyakit katastropik. Penyakit katastropik itu terdiri dari penyakit jantung, kanker, gagal ginjal, stroke, thalasemia, sirosis hati (hepatitis), leukemia, dan hemofilia.

”Penyakit jantung mengambil porsi pembiayaan terbanyak, lebih dari 50 persen, dibandingkan delapan penyakit katastropik lain,” kata Kepala Humas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Nopi Hidayat, di Jakarta, Rabu (3/1). Sebanyak 50-70 persen dari total kasus penyakit katastropik dibiayai.

Pada 2016, BPJS Kesehatan membiayai 6,5 juta kasus penyakit jantung dengan nilai Rp 7,5 triliun. Setelah jantung, jumlah kasus dan pembiayaan terbesar 2014-2016 adalah untuk penyakit gagal ginjal, kanker, dan stroke. Pada 2017, hingga September, beban biaya kanker dan stroke melampaui gagal ginjal.

Besarnya biaya penyakit katastropik pernah memunculkan wacana pada November 2017 bahwa BPJS Kesehatan tak akan menanggung lagi pembiayaan penyakit katastropik. Isu itu muncul karena besarnya pembiayaan penyakit katastropik membuat BPJS Kesehatan terus merugi. Wacana itu ditolak masyarakat karena kerugian BPJS Kesehatan dipicu banyak hal, tak hanya besarnya tanggungan penyakit katastropik.

Isu itu langsung dibantah BPJS Kesehatan. ”BPJS Kesehatan masih menanggung 100 persen biaya bagi penderita penyakit katastropik,” kata Direktur Perluasan dan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Andayani Budi Lestari, Selasa (2/1).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Lily S Sulistyowati menyatakan, tak mudah menurunkan angka penyakit katastropik di Indonesia karena terkait gaya hidup. Faktor risiko penyakit degeneratif muncul sejak janin atau usia balita. Gizi buruk pada anak balita meningkatkan risiko penyakit degeneratif saat dewasa.

Ada sejumlah program pemerintah untuk menekan laju penyakit katastropik, seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, dan Pos Pelayanan Terpadu Penyakit Tidak Menular. Tantangannya, gerakan itu harus masif di masyarakat. (DD10/VDL/MZW)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*