ENERGI TERBARUKAN: Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Sidrap I Siap Beroperasi

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Sidrap I yang berlokasi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, akan mulai beroperasi tahun 2018. PLTB pertama di Indonesia dengan kapasitas 75 megawatt ini dibangun dengan biaya sekitar Rp 2 triliun. Dari 30 turbin yang ketinggiannya 80 meter dan panjang baling-paling 57 meter, hingga Minggu (31/12) sudah dirampungkan 20 turbin yang masing-masing berkapasitas 2,5 megawatt. (Sumber: KOMPAS/WAWAN H PRABOWO).

JAKARTA, Baranews.co – Indonesia akan memasuki babak baru dalam penggunaan energi terbarukan. Mulai 2018, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Sidrap I di Kabupaten Sidenreng Rappang yang berkapasitas 75 megawatt akan dioperasikan untuk melayani kebutuhan listrik sekitar 70.000 pelanggan di Sulawesi Selatan.

PLTB Sidrap I yang merupakan PLTB pertama yang dibangun dengan skala komersial total investasinya 150 juta dollar AS atau sekitar Rp 2 triliun. PLTB ini memiliki 30 turbin yang ketinggiannya 80 meter dan panjang baling-baling 57 meter. Hingga Minggu (31/12) sudah terpasang 20 turbin.

”Kami targetkan sisanya terpasang Januari karena rencana peresmian pada akhir Januari,” kata Niko Priyambada, Senior Project Developer PT UPC Renewables Indonesia, yang mengembangkan PLTB di Sidenreng Rappang (Sidrap), Senin (1/1).

Menurut Niko, akhir pekan ini, pihak pelaksana pembangunan proyek PLTB akan melakukan koneksi ke jaringan PLN dan memulai tahapan uji coba. Langkah ini dilakukan agar saat semua turbin terpasang, jaringan sudah terkoneksi dengan sistem kelistrikan PLN.

Dalam kunjungan kerjanya ke PLTB Sidrap beberapa waktu lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menyebutkan, belum banyak negara di Asia yang mengembangkan tenaga angin menjadi listrik. Beberapa negara yang sudah mengembangannya antara lain China, Jepang, dan Korea Selatan.

Dalam Kebijakan Energi Nasional, energi terbarukan ditargetkan berkontribusi 23 persen pada 2025 dalam bauran energi nasional. Angka itu setara dengan pembangkit listrik energi terbarukan berkapasitas 45.000 MW. Saat ini, dari 440.000 MW potensi energi terbarukan di Indonesia, pemanfaatannya masih kurang dari 10.000 MW.

Direktur Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa mengatakan, faktor keekonomian bisnis energi terbarukan di Indonesia adalah salah satu tantangan besar.

”Seiring pesatnya perkembangan teknologi, tarif listrik dari energi terbarukan akan kian kompetitif dibandingkan listrik dari energi fosil,” kata Fabby. (APO/REN/WAK)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply