TKI di Hong Kong: Angka Penganiayaan Fisik, Seksual dan Diskriminasi Rasial ‘Tinggi’

Erwiana dalam jumpa pers di Hong Kong tanggal 22 Desember setelah memenangkan tuntutan ganti rugi. (Sumber: BBC Indonesia/AFP).

Oleh: 

Baranews.co – Kemenangan Erwiana Sulistyaningsih, tenaga kerja Indonesia yang disiksa majikan di Hong Kong, dalam tuntutan ganti rugi atas penganiayaan terhadap dirinya merupakan “terobosan” dalam menangani kasus penganiayaan fisik, seksual, dan diskriminasi rasial.

Pengadilan Hong Kong pekan lalu (22/12) mengabulkan tuntutan Erwiana sebesar 908.430 dolar Hong Kong (Rp1,5 miliar) atas penganiyaan yang dilakukan bekas majikannya dengan hakim menyebut perlakukan itu “tak manusiawi, mengerikan, dan merendahkan martabat.”

Erwiana yang saat ini masih menjalani konseling akibat trauma penyiksaan selama enam bulan mengatakan akan menggunakan dana ini untuk melanjutkan sekolah, pengobatan serta membantu banyak tenaga kerja lain yang mengalami nasib yang sama namun “belum berani bersuara, ketika ditindas.”

Dalam kasus kriminal, pengadilan Hong Kong menjatuhkan hukuman enam tahun penjara dan denda senilai 15.000 dolar Hong Kong atau Rp24 juta, terhadap bekas majikan Erwiana, Law Wan-tung pada Februari 2015.

“Saya ingin menularkan semangat saya, selain itu saya janji untuk membantu mereka yang mengalami nasib seperti saya, dianiaya,” kata Erwiana.

Erwiana Sulistyaningsih ERWIANA SULISTYANINGSIH
Kondisi Erwiana mengejutkan masyarakat internasional pada Januari 2014.

Dari sekitar 300 kasus penganiayaan fisik dan seksual di Hong Kong setiap tahun, 50% di antaranya menimpa tenaga kerja Indonesia, kata Cynthia Abdon-Tellez dari Mission for Migrant Workers, organisasi di Hong Kong yang memberikan advokasi untuk para pekerja asing.

“Kasus penganiayaan ini sangat serius… kasus ini penting karena banyak pekerja yang tidak memiliki peluang untuk mengangkat kasus penganiayaan… dan ini jumlah tuntutan terbesar yang dimenangkan,” kata Cyntia mengacu pada kemenangan tuntutan ganti rugi Erwiana terhadap majikannya.

Foto Erwiana dalam keadaan luka parah, kurus dan berada dalam kondisi krisis di rumah sakit Indonesia pada Januari 2014 menjadi perhatian kalangan internasional, terutama masalah hak pekerja rumah tangga di Hong Kong.

“Ditelanjangi sama dia…”

Erwiana Sulistyaningsih AFP/GETTY IMAGES
Erwiana mengalami cacat seumur hidup dan masih konseling karena trauma.

“Ketika dipukulin, sangat tidak manusiawi,” cerita Erwina tentang hal yang membuatnya trauma sampai sekarang.

“Yang paling menjijikkan, aku dimandikan dan dikasih kipas angin sampe berjam-jam, ditelanjangi sama dia. Tak boleh ke kamar mandi, harus kencing di plastik, harus berak di plastik, karena dia tak mau rumahnya kotor,” kata Erwina.

“Cacat seumur hidup, ada luka gak bisa sembuh. Tulang belakang bengkok, kata dokter kalau hamil akan merasa berat bebannya untuk menyangga karena tak bisa bawa barang berat. Hidung mampet kalau batuk, karena patah tulang saat ditonjok. Mata juga (mengalami) gangguan,” tambahnya.

Perlakuan kejam majikan di Hong Kong lainnya yang terungkap atas pekerja Indonesia adalah yang menimpa Kartika Puspitasari pada tahun 2013.

Majikan Kartika, Tai Chi-wai, dan istrinya Catherine Au Yuk-shan diganjar penjara masing-masing tiga tahun tiga bulan dan lima setengah tahun karena menyiksa Kartika dengan “rantai sepeda, besi panas” dan juga mengikatnya selama lima hari dengan popok di kursi saat keluarga itu liburan. Kejahatan itu dilakukan antara Oktober 2010 hingga Oktober 2012.

Erwiana mengatakan masih banyak tenaga kerja yang mengalami hal serupa namun takut bersuara.

“Masih banyak yang belum ikut berorganisasi, belum belajar banyak tentang haknya dan ketika ada masalah masih takut. Di Hong Kong pun ada, apa lagi di tempat lain, di Singapura, Malaysia, yang sangat tertutup dan pekerja tak boleh ikut berorgansisasi berdemo, apalagi di Arab, sangat mengerikan,” katanya.

Eni Lestari, pegiat pekerja migran Indonesia yang tergabung dalam organisasi Asian Migrant Workers di Hong Kong, mengatakan kasus Erwiana merupakan terobosan bagi para tenaga kerja, terutama yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

“Kasus Erwiana jadi terobosan bagi kami, karena sekian tahun kami mengatakan Hong Kong punya praktik perbudakan modern dan masyarakat membantah kita… Sekarang masyarakat relatif menerima ketika kita katakan Hong Kong ada praktik kerja paksa dan bahkan perdagangan manusia, mereka tak bisa berdebat.”

tenaga kerja di Hong Kong ERWIANA
Para tenaga kerja di Hong Kong.

“Tapi pemerintahnya masih menolak untuk memberikan perlindungan di sisi ini,” kata Eni.

“Kasus Erwiana menjadi senjata bahwa kalau kamu tak merubah sistem perlindungan pekerja asing maka kamu akan ditampari kasus model Erwiana,” tambahnya.

Kondisi tak berubah sejak 1990an

Pekerja Indonesia di Hong Kong         MISSION FOR MIGRANT WORKERS
         Seorang pekerja Indonesia di Hong Kong yang mengalami penganiayaan fisik.

Cynthia Abdon-Tellez dari Mission for Migrant Workers mengatakan kondisi yang dialami para pekerja migran terkait penganiayaan fisik tak berubah sejak 1990-an.

Ia juga mengatakan pekerja Indonesia menjadi rentan karena persiapan di Indonesia yang disebutnya tidak “memberikan cukup penjelasan tentang hak pekerja.”

“Proses yang mereka lalui sebelum ke Hong Kong, di kamp pelatihan (oleh agen) untuk belajar bahasa, mempelajari alat-alat rumah tangga, tapi mereka juga diminta untuk menurut kepada majikan.”

“Kami sempat tanya mengapa mereka tak mengatakan apa-apa (kalau ada masalah) dan mereka bilang karena agen meminta mereka, menurut sebanyak mungkin ke majikan. Bagaimana kalau ilegal, ya diminta untuk ikuti saja kalau tidak Anda akan kehilangan pekerjaan, Anda berhutang banyak,” cerita Cyntia.

Ia mengatakan hutang kepada agen merupakan ancaman yang paling banyak digunakan kepada para tenaga kerja dengan ancaman masuk penjara.

“Jadi dalam tujuh bulan pertama diperlukan untuk bayar hutang. Selama bulan-bulan itu, keluarga tak mendapat kiriman apa-apa kecuali ada majikan yang berbaik hati mengirimkan beberapa ratus dolar untuk keluarga mereka,” kata Cyntia.

Pelatihan ditambah dua hari pada 2018

Erwiana YOSA WARI YANTI
Erwiana

Hermono, Sekretaris Utama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, BNP2TKI, mengatakan pihaknya menganggarkan penambahan pelatihan dari satu hari menjadi dua hari agar tenaga kerja memahami haknya selain kewajiban.

“Untuk tahun 2018 anggaran tambahan agar pre-departure training (pelatihan sebelum keberangkatan) untuk dua hari, sehingga TKI dapat bekal lebih di tempat kerjanya manakala menghadapi situasi yang sifatnya mengancam dan merugikan mereka,” kata Hermono.

“Dengan demikian apabila terjadi pelanggaran oleh majikan, TKI dapat menghubungi Perwakilan Indonesia atau BNP2TKI. Kementerian Luar Negeri juga sudah mengembangkan aplikasi yang memudahkan TKI melaporkan bilamana terjadi pelanggaran terhadap hak-hak TKI termasuk physical atau sexual abuses. Selain itu, perwakilan kita juga selalu siap untuk memberikan perlindungan termasuk menyediakan lawyer,” tambahnya.

“Sangat rasis terhadap pembantu rumah tangga…diPHK karena “hitam”

Eni Lestari dan ErwianaMISSION FOR MIGRANT WORKERS
Eni Lestari (kedua dari kiri) bersama Erwiana dalam jumpa pers Jumat (22/12) di Hong Kong.

Pegiat migran Indonesia, Eni Lestari mengatakan dua hal yang menjadi fokus organisasi mereka adalah akomodasi, makan serta jam kerja karena pada umumnya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tinggal bersama majikan.

“Perbudakan modern masih eksis karena hukum yang ada (di Hong Kong) masih mendiskriminasikan pekerja rumah tangga. Dipaksa hidup serumah dan jam kerja tak diatur, tempat tidur tak diatur (standarnya), dan ini dimanfaatkan majikan jahat.”

Eni mengatakan pekerja asing masuk dalam Undang-Undang Perburuhan Hong Kong sehingga mereka juga memiliki hak cuti, hak libur dan hak sakit seperti pekerja lainnya.

Namun “pemerintah Hong Kong tak bersedia mengatur hak lainnya, di luar hak perburuhan misalnya hak jam kerja, jadi kita mau bekerja 24 jam dalam sehari, itu hak majikan yang menentukan,” kata Eni yang sekarang menjadi ketua International Migrant Alliance.

“Sistem ini mengikat 24 jam sehari, enam hari seminggu, dan membuat majikan punya otonomi penuh, terhadap hidup kita setiap hari mulai hak telepon, hak beribadah,” pungkasnya.

Contoh untuk melawan

TKI di Hong Kong MISSION FOR MIGRANT WORKERS
Lebam yang dialami seorang TKI di Hong Kong bulan lalu karena dipukuli.

“Juga tempat tidur yang layak, hanya deklarasi akan memberi tempat tidur, tapi standar layak itu apa. Dan makanan juga tak mengatur terkait makanan layak apa, jadi mau dikasih makan sisa, kadalurwarsa, atau seperti Erwiana cuma dikasih empat roti per hari untuk makan pagi dan siang dan satu mangkuk kecil nasi untuk makan malam,” tambahnya.

Eni -yang memberikan pidato di Konferensi Tingkat Tinggi PBB tentang pengungsi dan migran di New York pada September 2016 mewakili buruh migran- juga bercerita tentang perlakuan rasis sejumlah majikan di Hong Kong.

“Ada yang di-PHK (putus hubungan kerja) karena kamu terlalu hitam atau karena rambutmu panjang… Ini tak diatur, jadi semena-mena majikan… Kondisnya sangat rasis, diskriminasi ada dua, satu adalah kelas (sosial-ekonomi) karena kita pekerja rumah tangga jadi buruh rendahan dan juga ras karena dianggap dari negara miskin.”

Ia juga mengatakan kasus Erwiana menjadi contoh buat pekerja lain untuk melawan kekerasan.

“Dia menjadi contoh bagi kasus-kasus lain, ternyata mereka bisa dan punya cara untuk melawan kekerasan terhadap pekerja rumah tangga,” tandas Eni. BBC Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*