Polusi Udara Lalu Lintas Berkaitan dengan Berat Badan Rendah pada Bayi

Pengendara motor di India melaju di tengah kabut asap dan debu tebal di pinggiran New Delhi, India, 10 November 2017. (Sumber: VOA Indonesia/AP).

Polusi udara dari aktivitas lalu lintas tampaknya berkaitan dengan meningkatnya risiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah, menurut sebuah studi di Inggris.

Baranews.co – Studi-studi sebelumnya mengaitkan polusi udara di jalanan dengan berat badan rendah pada bayi yang baru lahir. Lalu lintas di jalan menyebabkan polusi udara dan polusi suara. Namun penelitian terhadap dampak polusi suara menghasilkan hasil-hasil yang saling bertentangan.

“Kami mengetahui bahwa suara dikaitkan dengan dampak merugikan pada kesehatan, misalnya gangguan tidur, kenaikan tekanan darah dan penyakit jantung. Jadi, masuk akal kalau lalu lintas juga memiliki dampak pada kesehatan ibu hamil dan kesehatan bayi yang belum lahir,” kata Dr Rachel Smith Smith yang memimpin penelitian, dari School of Public Health of the Imperial College di London, kepada Reuters Health melalui email.

Tim Smith meneliti dampak dari paparan polusi lalu lintas, baik polusi suara maupun polusi udara, selama kehamilan terhadap berat badan bayi.

“Kami menemukan meningkatnya risiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau berukuran kecil untuk usia kehamilannya, pada ibu yang memiliki paparan tinggi dengan polusi dari lalu lintas jalan raya selama kehamilan. Kami tidak melihat dampak independen dari suara lalu lintas jalan pada berat lahir,” kata dia.

Seperti dilaporkan dalam BMJ, Smith dan rekan-rekannya menggunakan pencatatan kelahiran nasional untuk mengidentifikasi lebih dari 540.000 kelahiran hidup sesuai masa kehamilan di London antara 2006 dan 2010. Secara khusus, tim studi itu tertarik meneliti berat lahir rendah (kurang dari 2,5 kg) dan lahir berukuran kecil untuk usia kehamilannya.

Tempat tinggal ibu pada saat kelahiran digunakan untuk memperkirakan rata-rata paparan polutan bulanan, termasuk nitrogen dioksida, nitrogen oksida dan partikel halus atau PM2,5. Para peneliti juga memperkirakan tingkat rata-rata polusi suara jalanan pada siang dan malam hari.

Peningkatan polutan udara lalu lintas, khususnya PM2,5, dikaitkan dengan kenaikan peluang sebanyak 2 hingga 6 persen untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah dan 1 persen hingga 2 persen kenaikan peluang melahirkan bayi yang berukuran tidak sesuai dengan usia kehamilannya, bahkan setelah memperhitungkan polusi udara dari jalan raya.

Ada batasan mengenai apa yang bisa dilakukan oleh perorangan untuk mengurangi paparan polusi. Karena, mengubah drastis gaya hidup, perjalanan atau tempat tempat tinggal, tidak memungkinkan untuk banyak orang. Memperbaiki kualitas udara dan mengurangi polusi udara di kota-kota kita untuk mengurangi dampak polusi udara pada kesehatan membutuhkan tindakan dari pembuat keputusan, kata Smith.

Studi ini “harus meningkatkan kesadaran mengenai paparan partikel polusi udara pada masa sebelum kelahiran yang bisa merugikan bayi yang belum lahir,” kata Sarah Stock dan rekannya yang menulis tajuk rencana di BMJ.

Sayangnya, tidak banyak pilihan bagi perempuan untuk mengurangi risiko secara pribadi, kata Stock.

“Menghindari polusi udara itu sulit dan kami tidak punya bukti bahwa gaya hidup atau menggunakan masker pelindung bisa mengurangi paparan kronis polutan-polutan berbahaya. Kita tahu bahwa menghindari asap rokok itu sangat penting. Perlu lebih banyak riset mengenai hal ini untuk mengetahui cara paling baik bagi perempuan untuk mengurangi risiko mereka,” ujar Stock. [fw]/Reuters/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*