Lari Asal-asalan, Awas Risiko Cedera Mengintai

Olahraga dengan intensitas tinggi selalu memiliki risiko cedera, tak terkecuali lari yang tengah ngehits belakangan ini. Risiko tersebut bisa dihindari dengan mengenali kemampuan diri sendiri dan tidak memaksakan diri.

Jakarta, Baranewsco – Olahraga dengan intensitas tinggi selalu memiliki risiko cedera, tak terkecuali lari yang tengah ngehits belakangan ini. Risiko tersebut bisa dihindari dengan mengenali kemampuan diri sendiri dan tidak memaksakan diri.

Lari sebagai olahraga rekreasional tentu berbeda dengan lari yang dilakukan oleh atlet lari profesional yang sangat terlatih.

“Pada atlet lari umumnya mereka mengejar compet, tapi kalau untuk pelari rekreasional hanya kejar completnya saja,” kata pakar kesehatan olahraga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Rachmat Wishnu Hidayat, SpKO.

Tapi tak jarang, pelari rekreasional juga memasukkan unsur ‘compete’ ke dalam olahraganya tersebut. Tanpa kemampuan dan latihan yang sama seperti atlet profesional, menurut dr Wishnu, bisa meningkatkan risiko cedera pada pelari rekreasional.

Survei yang dilakukan Prodia bersama komunitas Indorunner baru-baru ini mengungkap cedera yang paling sering dialami pelari rekreasional antara lain plantar fasciitis atau cedera di telapak kaki (35,6 persen), dan shin splints atau otot di sekitar tulang kering (29 persen).

Risiko cedera yang membayangi para pelari rekreasional juga menjadi perhatian tersendiri bagi Yasha Chatab, salah seorang pendiri komunitas Indorunner. Menurutnya, komunitas lari yang kini makin banyak bermunculan seharusnya menyemangati anggotanya untuk berlari sesuai kemampuan masing-masing.

“Ada juga komunitas yang terlalu menyemangati untuk semangat lari, seperti memberi semangat lo bisa lo bisa,” jelas Yasha.

Akibatnya, tidak jarang yang akhirnya memaksakan diri dan akhirnya cedera. Bukannya sehat, malah jadi sakit bukan? (detik.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*