PSIKOLOGI: Memberi Dukungan pada Penyandang Disabilitas

Ilustrasi (Sumber: Harian KOMPAS).

Oleh: KRISTI POERWANDARI

Bila disabilitas tidak dapat diubah, itu harus diterima sebagai kenyataan seperti realitas lainnya, menyenangkan ataupun tidak, agar individu dapat bertahan dan bertumbuh. Yang tidak dapat diterima adalah ketidakmampuan yang dipaksakan akibat dunia yang dirancang secara buruk sehingga tidak mengakomodasi situasi penyandang disabilitas, atau kegagalan penyandang disabilitas itu sendiri untuk menerima kenyataan dan melanjutkan hidup dari titik tersebut (Vash dan Crewe, 2004).

Dalam buku Psychology of Disability (2004), Carolyn Vash dan Nancy Crewe dari Amerika Serikat menghadirkan contoh-contoh kisah penyandang disabilitas yang berjuang keras menemukan jati dirinya. Meski berada dalam konteks lingkungan fisik dan sosial yang jauh lebih mendukung daripada di banyak tempat lain, tetap mereka menghadapi banyak tantangan.

Tantangan

Maria lahir dengan cerebral palsy. Ia sangat didukung orangtuanya untuk berkembang, dan khusus untuk menyediakan layanan terbaik baginya, seluruh anggota keluarga pindah dari Amerika Tengah ke Amerika Serikat. Ia belajar berjalan dan melakukan berbagai hal lain, dan diyakinkan orangtuanya bahwa ia dapat melakukan apa pun yang ingin dilakukannya.

Maria tumbuh menjadi anak sangat percaya diri. Sampai di usia 13 tahun, ia jatuh dan retak tulang pinggangnya. Sejak saat itu, ia sama sekali tidak mampu berjalan lagi. Katanya: ”Orangtua saya tidak mengerti mengapa saya tidak dapat berjalan lagi. Mereka menyalahkan saya. Katanya saya malas dan tidak bersyukur. Yang sudah diperjuangkan dan dicapai sepanjang 13 tahun hilang sia-sia. Saya dianggap proyek yang gagal. Sepertinya saya bukan lagi sungguh-sungguh manusia di mata mereka.” Bagaimanapun, Maria melihat penguatan di tahun-tahun awal hidupnya membantunya memerangi keraguan dan penolakan, dan ia dapat bekerja sebagai guru.

Harris menjadi tuli setelah ledakan bom dan bercerita tentang kesepian dan rasa marah karena ”ditinggalkan” dalam percakapan meskipun bila ia hadir dalam kelompok. Setelah mengalami disabilitas, ia bekerja di supermarket. Ada pelanggan yang terus memanggilnya dari belakang dan ia tidak mendengar. Pelanggan itu marah karena menyangka tidak dipedulikan lalu memukulnya. ”Orang yang bisa mendengar tidak mensyukuri betapa mereka dapat menyenangkan diri sendiri, hanya dengan mendengarkan ragam dan lirih suara.”

Kondisi disabilitas dapat menghadirkan rasa takut, marah, sedih. Sebagian marah pada diri sendiri karena tidak mampu melakukan yang dengan mudah dilakukan orang lain. Yang lain marah kepada orang lain yang tidak sensitif untuk membantu atau sebaliknya menganggap mereka tak berdaya dan harus selalu ditolong.

Paul, seorang perawat kesehatan mental, terjebak di bawah derasnya hujan. Ia kesulitan menggerakkan kursi rodanya. Beberapa orang lewat, tetapi tidak ada yang membantu. Ia merasa bingung bagaimana meminta bantuan karena tidak ada yang sengaja menatapnya dan membuat kontak mata. Ia jadi ingat bahwa orangtua sering menegur anaknya agar tidak menatap penyandang disabilitas: ”Hush, jangan melihat terus gitu dong….”

Mungkin tujuannya agar tidak membuat yang ditatap merasa malu karena bertubuh berbeda. Namun, dampaknya anak tumbuh jadi melihat penyandang disabilitas ’berbeda’, mengambil jarak, dan mungkin mati kepedulian dan sensitivitasnya.

Berefleksi dari pengalamannya, Paul mengajak orangtua dan guru untuk justru memotivasi anak-anak untuk melihat, menunjukkan perhatian, dan mengajukan pertanyaan kepada penyandang disabilitas. Tujuannya agar anak cepat menunjukkan kepedulian, mampu melihat penyandang disabilitas sebagai sesama manusia, dan siap membantu ketika dibutuhkan.

Dukungan pendidikan

Inti persoalan penyandang disabilitas, menurut Vash dan Crewe (2004), adalah persoalan perendahan dan penerimaan. Yang ada di balik perlakuan berbeda adalah pandangan merendahkan: dilihat tidak sempurna, kurang mampu, tidak terlalu bermanfaat, mungkin merepotkan. Pandangan merendahkan ini dialami dari orang lain ataupun dari diri sendiri.

Sejauh mana individu dapat menyesuaikan diri, mengatasi tantangan dan menerima diri? Ada banyak faktor berpengaruh, mulai dari karakteristik disabilitas yang dialami, karakteristik individu, situasi dan penerimaan dari lingkungan terdekat, hingga konteks lingkungan sosial budaya yang lebih luas.

Denise Thompson, Karen R Fisher, Christiane Purcal, Chris Deeming, dan Pooja Sawrikar (2011) menelaah berbagai penelitian mengenai sikap masyarakat terhadap penyandang disabilitas dan berbagai langkah untuk mengubahnya menjadi lebih positif. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif dapat membuat anak bersikap lebih positif pada penyandang disabilitas.

Karena kegiatan bersama dan seringnya berkontak, prasangka berkurang. Teman-teman jadi lebih menunjukkan persahabatan, dukungan, dan berkurang dalam tindakan mengganggu dan merendahkan. Bahkan, ada penelitian yang menyatakan bahwa inklusi dapat meningkatkan keberhasilan sosial dan akademik dari siswa, baik yang tanpa disabilitas maupun dengan disabilitas, karena konteks positif yang dipromosikan program inklusi.

Akan baik bila anak-anak tanpa disabilitas disiapkan untuk mengurangi prasangka. Misalnya, dengan sebelumnya membaca cerita yang menunjukkan persahabatan antara anak-anak dengan dan tanpa disabilitas, atau melalui pendekatan dan diciptakannya berbagai alat bantu yang membuat anak lebih paham situasi anak dengan disabilitas.

Program inklusi harus didukung oleh guru dan pekerja yang peduli dan kompeten. Guru perlu memperoleh pelatihan mengenai persoalan disabilitas, berbagai perbedaan dari situasi disabilitas, dan bagaimana melakukan pendidikan inklusi.

Dalam masyarakat kita, dukungan nyata terhadap penyandang disabilitas sangat minim. Kita masih berutang untuk dapat merancang lingkungan yang akomodatif dan mampu mengoptimalkan fungsi, kontribusi, dan kualitas hidup penyandang disabilitas. Semoga dapat mulai dilunaskan. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply