Remaja Australia Lebih Sering Alami Reaksi Alergi Ketimbang Anak-Anak

Emilia sungguh berharap bahwa akan ada obat penyembuh bagi alergi makanan yang dideritanya. (Sumber: australiaplus.com/ABC News: Stephanie Ferrier).

Sebuah studi di Melbourne menemukan, lebih dari 40 persen remaja Australia dengan alergi makanan sering mengalami reaksi alergi, termasuk serangan anafilaksis yang mematikan.

Baranews.co – Studi bertajuk ‘The School Nuts’ (Kacang Sekolah) yang dilakukan oleh Institut Penelitian Anak Murdoch melibatkan lebih dari 10.000 siswa berusia 10 hingga 14 tahun.

Dari 547 anak dengan alergi makanan, 44 persen di antaranya telah mengalami reaksi alergi pada tahun lalu, sementara hampir 10 persen melaporkan reaksi anafilaksis yang berpotensi mengancam nyawa.

Siswa di wilayah Brunswick East, Emilia Habgood, 15 tahun, memiliki alergi terhadap telur, gandum dan kacang tanah masih kecil namun baru mengalami dua reaksi alergi berbahaya di rumahnya dan di rumah seorang teman.

“Banyak penelitian mengamati anak kecil, seperti jika mereka memberi makanan pada anak-anak, mungkin mereka akan kebal terhadap hal itu, tapi untuk kami -kami benar-benar terjebak dengan hal itu.”

Profesor Katie Allen dari institute itu mengatakan, para peneliti terkejut menemukan bahwa reaksi yang paling sering terjadi di rumah, bukan di sekolah atau di restoran dan kafe.

Ia mengatakan bahwa remaja dan dewasa muda paling berisiko meninggal akibat anafilaksis namun sedikit penelitian telah dilakukan terhadap mereka.

“Kami sangat terkejut karena orang-orang yang memiliki alergi makanan seharusnya menghindari makanan itu … dan ini menunjukkan bahwa di masyarakat ada sedikit fenomena gunung es (bom waktu),” jelasnya.

Profesor Allen mengatakan bahwa penelitian tersebut menimbulkan banyak pertanyaan tentang mengapa anak muda sering mengalami reaksi alergi.

“Apakah karena mereka mengambil lebih banyak risiko sekarang karena mereka menjadi kurang diawasi dalam lingkungan transisi kemandirian?” tanyanya.

“Atau itu karena mereka kurang memiliki pengetahuan tentang bagaimana menghindari makanan, atau karena alergi makanan mereka sendiri berubah sifatnya?.”

Emilia mengatakan, ia mengalami reaksi alergi ketika mengonsumsi pesto yang ada kandungan kacangnya.
Emilia mengatakan, ia mengalami reaksi alergi ketika mengonsumsi pesto yang ada kandungan kacangnya. (ABC News: Stephanie Ferrier).

Reaksinya begitu menakutkan

Emilia mengatakan bahwa ia pernah mengalami reaksi alergi setelah secara keliru menyantap beberapa roti pisang di rumah yang telah dipanggang dengan gandum dan telur untuk saudara laki-lakinya.

Pada kesempatan lain, mulutnya terasa gatal dan geli setelah ia makan pesto di rumah seorang teman dan temannya kemudian menyadari bahwa ia telah menambahkan kacang ke dalam saus.

“Saya minum antihistamin tapi kemudian saya mulai mengalami masalah pernapasan dan saya banyak mengisap obat asma saya dan ibu mengatakan jika saya harus menggunakan semprotan (inhaler) itu lagi, saya harus menggunakan EpiPen saya,” ujarnya.

EpiPen adalah semacam suntikan yang digunakan untuk mencegah reaksi alergi mematikan, dan digunakan ketika obat pencegah lain sudah tidak mempan lagi.

Pelabelan makanan bisa membuat orang abai

EpiPens adalah barisan pertama pertahanan jika terjadi reaksi anafilaksis.
EpiPens adalah barisan pertama pertahanan jika terjadi reaksi anafilaksis.

Profesor Allen mengatakan bahwa ‘pelabelan terkait pencegahan’ yang diatur sendiri oleh industri makanan, di mana konsumen diberi peringatan bahwa makanan tersebut “mengandung kacang” telah banyak digunakan secara luas dan bisa menyebabkan rasa abai.

“Ini sebenarnya tidak membantu konsumen karena tidak ada indikasi tentang apa yang aman dikonsumsi,” sebutnya.

“Kami pikir industri makanan ingin menutupi diri mereka sendiri dan sebenarnya itu merugikan konsumen karena konsumen mengambil semua risikonya … menurut saya, ini menjadi hampir tidak berguna.”

Profesor Allen telah mendesak industri ini untuk mengadopsi label yang “permisif”, yang mengindikasikan bahwa produk tersebut telah melalui proses penilaian risiko yang menyeluruh dan bahwa “kami tidak dapat menjanjikan bahwa ini aman tapi kami rasa ini cukup aman.”

“Sayangnya Melbourne adalah ibukota alergi makanan dunia, jadi kami punya masalah besar di sini yang perlu kami hadapi dan kami perlu melakukan sesuatu sekarang ini,” ujarnya. (Stephanie Ferrier/australiaplus.com/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*