PSIKOLOGIS: Trauma Itu Masih Membekas Dalam

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, menghadiri Deklarasi Penolakan Kekerasan, Eksploitasi, Persekusi Terhadap Perempuan dan Anak di Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat (9/6). Peserta kegiatan tersebut juga ikut menandatangani peryataan dukungan untuk menolak kekerasan terhadap perempuan dan anak. (Sumber: KOMPAS/WAWAN H PRABOWO).

Selasa (21/11) siang seharusnya menjadi hari bahagia bagi RN (28) dan MA (20). Hari itu mereka melangsungkan akad nikah secara agama di rumah orangtua RN di Kelurahan Kaduagung, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten.

Akad nikah secara sederhana ini berlangsung pukul 10.30 hingga pukul 11.15. Mereka dinikahkan penghulu Jamal dari Pembinaan Rohani dan Mental Polresta Tangerang Kabupaten. Akad nikah ini dihadiri pejabat pemerintahan dan jajaran di lingkungan Polresta Tangerang Kabupaten. Sebagai saksi pengantin adalah ayah RN dan kakak laki-laki MA.

Namun, berbeda dengan pengantin umumnya yang selalu mengumbar senyum bahagia, pasangan ini lebih banyak tertunduk, bahkan MA terus menunduk selama akad nikah. Suasana haru pun menyelimuti ruangan tempat berlangsung akad nikah itu ketika penghulu dan saksi dengan lantang mengatakan “sah” seusai ijab kabul.

Kepala Polresta Tangerang Kabupaten Ajun Komisaris Besar M Sabilul Alif mengatakan, sebagai kado akad nikah, pihaknya memfasilitasi pendaftaran untuk pasangan ini menikah ke kantor urusan agama (KUA). RN dan MA akan mengikuti nikah massal pada 8 Desember mendatang. “Sekarang ini (proses akad nikah) kami membantu menghadirkan keluarga dari kedua belah pihak,” kata Sabilul.

Hadir juga dalam akad nikah tersebut Lurah Kaduagung Sulaeman dan Lurah Sukamulya Budi Muhdini. Keduanya hadir sebagai pejabat daerah tempat MA tinggal, yang juga menjadi lokasi terjadinya perlakuan sewenang-wenang terhadap RN dan MA yang dilakukan sejumlah warga.

Sabtu (11/11), RN dan MA dianiaya dan dipermalukan oleh warga RT 007 RW 003 Kampung Kadu, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Warga yang dipimpin Ketua RT 007 dan Ketua RW 003 menuduh RN dan MA berbuat mesum di rumah kontrakan MA. Penjelasan RN dan MA bahwa mereka tidak melakukan seperti yang dituduhkan tidak digubris warga.

Selain dipaksa mengaku berbuat mesum dan dianiaya, pakaian mereka juga dilucuti hingga nyaris tanpa busana. Kemudian, mereka digiring dan diarak. Aksi ini direkam dan diunggah ke media sosial. Bukan hanya luka dan lebam di sekujur tubuh, RN dan MA juga mengalami trauma mental yang dalam.

Meski mereka berencana menikah pada Desember mendatang, bukan seperti ini jalannya. Tak heran jika saat akad nikah mereka diam dan terus menunduk. Mereka masih terguncang akibat perlakuan tidak manusiawi tersebut.

Budi Muhdini berharap dengan pernikahan itu, RN dan MA dapat membuka kehidupan baru, dan trauma yang dialami bisa teratasi. Namun, ia tidak mau berkomentar atas kasus yang dialami RN dan MA dengan alasan kasus itu sudah ditangani pihak kepolisian. “Untuk kasusnya, kami serahkan proses hukum kepada pihak kepolisian,” ujarnya.

Polisi telah menahan tujuh tersangka pelaku dalam kasus tersebut. Mereka adalah T (Ketua RT), G, A, I, S, N, dan GSD yang mengunggah video rekaman peristiwa tersebut.

Penyembuhan trauma

Sabilul mengatakan, akad nikah RN dan MA difasilitasi Polresta Tangerang Kabupaten. Langkah ini merupakan bagian dari trauma healing (penyembuhan trauma) untuk pasangan tersebut setelah kejadian yang mereka alami. “Memang secara psikologis keduanya masih trauma. Namun, kami berharap setelah akad nikah ini, akan turut meringankan beban psikis mereka,” katanya.

Setelah kejadian itu, polisi terus menjaga, mengawasi, dan memberikan perlindungan kepada MA. Ia dititipkan di rumah saudara dari RN di Tigaraksa, yang terletak tidak jauh dari rumah orangtua RN di Tigaraksa.

Polresta Tangerang Kabupaten juga memberikan bimbingan konseling dan pendampingan, yang dilakukan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal, Senin (13/11). Selanjutnya, korban diberikan trauma healing dari psikiater, Jumat (17/11). Trauma healingdibutuhkan mengingat MA masih terguncang atas peristiwa yang menimpa dirinya.

Kehadiran psikiater dibutuhkan agar membantu korban mengurangi dan menghilangkan gangguan psikologis yang sedang dialaminya akibat kejadian tersebut.

Kasus yang menimpa MA mengundang simpati pendiri sekaligus CEO Opal Communication, sebuah perusahaan kehumasan di Tangerang Selatan, Kokok Herdhianto Dirgantoro. Kokok menawari MA bekerja di kantornya. Ia juga akan memberikan jaminan dan garansi perlindungan secara psikologis dan sosial untuk MA.

Kokok akan membantu MA menyiapkan tempat tinggal yang dekat dengan kantornya jika tidak nyaman tinggal di tempat lama. Kokok juga menjamin korban tidak akan mendapat perundungan, dan selalu dilindungi oleh karyawan yang lain. Kokok juga menawarkan akan menanggung biaya konseling trauma healing bagi MA jika diperlukan. Niat itu disampaikan kepada Sabilul di Kantor Polresta Tangerang Kabupaten, Senin pekan lalu.

Dalam pertemuan itu, Sabilul mengatakan, MA masih dalam pemulihan atau menjalani penyembuhan trauma oleh psikiater kepolisian dan tinggal di tempat yang aman. Saat ini pihaknya mengutamakan kesehatan fisik dan mental korban. Selanjutnya, kasus ini akan masuk dalam proses hukum. Kemudian, barulah urusan pekerjaan ditindaklanjuti. (PINGKAN ELITA DUNDU)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply