PENGAWASAN MAKANAN: Produk Makanan dan Minuman Perlu Cantumkan Kandungan Kalori

Anak-anak berolahrada dalam kamp musim panas untuk menurunkan berat badan di Shenyang, Provinsi Liaoning, China, 3 Agustus 2009. (Sumber: VOA Indonesia/Reuters).

*Cegah Anak Alami Obesitas

JAKARTA, Baranews.c – Pengawasan produk makanan setelah diluncurkan ke pasar masih kurang. Peran aktif masyarakat untuk melaporkan produk yang kandungannya tidak sesuai ketentuan diperlukan. Ini untuk membantu pencegahan anak-anak mengonsumsi makanan tidak sehat dan terkena obesitas.

Masyarakat selama ini masih tidak mendapatkan informasi utuh kandungan gizi pada produk makanan olahan. Ini karena masih ada produk makanan dan minuman yang mencantumkan kandungan gizi yang tidak sesuai dengan yang terdapat pada bungkus makanan, atau bahkan tidak dicantumkan sama sekali.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, pengawasan makanan yang kandungan isinya tidak sesuai dengan keterangan pada bungkus atau telah kedaluwarsa membutuhkan keterlibatan konsumen. ”Pengawasan makanan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sebelum produk dipasarkan sudah baik. Tetapi, kontrol setelah produk dipasarkan perlu diperkuat,” kata Tulus, di Jakarta, Senin (20/11).

Menurut Tulus, lemahnya pengawasan membuat makanan yang tidak sehat dan kemudian dikonsumsi anak-anak masih beredar. Ini termasuk makanan yang belum mendapat izin, yang biasanya berasal dari usaha kecil dan menengah (UKM).

Dia mengatakan, keterlibatan konsumen seperti yang ada di negara lain membantu pengawasan menjadi lebih baik. Konsumen yang menemukan makanan dan minuman yang kedaluwarsa di China, khususnya susu, akan dihadiahi satu jenis makanan sehat.

Selain konsumen, pada dasarnya kesadaran dari produsen dan pengecer produk makanan juga penting. Produsen bertanggung jawab untuk menghasilkan barang sesuai dengan ketentuan BPOM. Sementara itu, pengecer mengawasi penjualan barang, seperti mengawasi tanggal kedaluwarsa dan menurunkan barang yang telah ditarik produsen.

Tren obesitas pada anak-anak semakin meningkat dari tahun ke tahun karena mereka mengonsumsi makanan yang mengandung gula dan garam yang tinggi. Berdasarkan survei pemantauan status gizi tahun 2016, jumlah anak berusia 18 tahun ke atas yang mengalami obesitas melonjak jadi 38,5 persen dari 29,2 persen pada 2014.

Tulus menilai, perlu dibuat pembatasan kadar gula, garam, atau lemak pada produk makanan yang beredar oleh Kementerian Kesehatan. Pemerintah, khususnya BPOM, dapat melakukan pengecekan sampel makanan di pasar-pasar untuk mengecek dan menjaga kualitas. Penegakan hukum kepada yang melanggar juga perlu dilakukan.

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Eni Gustina mengatakan, Kemenkes mengadakan evaluasi dengan membandingkan pola penyakit pada anak dengan jangka waktu per 10 tahun, yaitu pada 1990, 2000, dan 2010.

Ditemukan fenomena pergeseran penyakit dari penyakit infeksi, seperti malaria, ke penyakit tidak menular, seperti diabetes, jantung, dan stroke. Penyebabnya, perubahan pola makan pada anak-anak zaman sekarang.

Mereka telah dibiasakan untuk mengonsumsi gula dan garam sejak umur satu tahun. Jika sejak kecil terbiasa mengonsumsi sesuatu, kebiasaan itu akan terbawa sampai dewasa.

Selain itu, masyarakat cenderung mengonsumsi makanan yang digoreng. Kebiasaan ini perlu diganti dengan cara direbus. ”Minyak goreng setelah dipanaskan lebih dari 20 menit mengubah lemak menjadi trans. Tubuh tidak mengenal lemak trans yang menjadi zat asing sehingga terjadi kanker,” kata Eni.

Obesitas dapat dikurangi dengan aktivitas fisik, seperti olahraga. Akan tetapi, berdasarkan Global School Health Survey 2015, hanya 60 persen anak remaja berusia 14-18 tahun di 128 kabupaten di Indonesia yang berolahraga.

Pengetahuan orangtua

Pengetahuan orangtua mengenai kandungan gizi makanan penting untuk menjaga pola makan anak sejak dini. Tingkat pendidikan di Indonesia rata-rata 8,2 tahun. Peningkatan pendidikan perlu agar upaya peningkatan derajat kesehatan berhasil.

”Orang yang di daerah kalau belanja untuk anak itu yang murah-murah. Susu kental manis diberikan kepada anak, padahal sebenarnya itu bukan susu,” ujar Eni. Kampanye yang berkesinambungan dibutuhkan agar pemahaman orangtua semakin baik dan kritis sehingga perilaku berubah.

Adapun bergesernya gaya hidup yang mementingkan kepraktisan membuat pola asuh orangtua juga berubah. Orangtua memberikan makanan kepada anak dengan memesan makanan seperti sarapan di restoran cepat saji. Padahal, pola asuh ini seperti menanam penyakit pada anak. ”Masyarakat belum paham kesehatan. (Penting) untuk menyiapkan generasi sehat pada tahun 2045 dengan menjaga kesehatan,” kata Erni. (DD13)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply