Berbagai Makna dalam Rangkaian Upacara Pernikahan Putri Jokowi

Petugas memasang foto putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu (kanan) dengan Bobby Nasution (kiri) saat menyelesaikan dekorasi pernikahannya di Gedung Graha Saba, Solo, Jawa Tengah, Senin (6/11/2017). Resepsi pernikahan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution akan berlangsung pada 8 November 2017 di Graha Saba, Solo.(Sumber: kompas.com/ANTARA FOTO/MAULANA SURYA)

SOLO, Baranews.co – Pernikahan Putri Jokowi tinggal menghitung hari. Rangkaian pertama, wilujeng kenduri, telah dilaksanakan pada hari senin (06/11/2013) pukul 16.00 WIB.

“Yah, ini hari ini hanya acara pengajian bersama saja dengan para tetangga,” ucap Jokowi dihadapan awak media.

Selain itu, Jokowi juga menuturkan bahwa pernikahan putri tunggalnya ini lebih repot daripada pernikahan putra sulungnya, Gibran Rakabuming, yang menikah pada tanggal 11 Juni 2015 silam.

“Yah, lebih repot sedikit. Tapi, dasar persiapannya sebenarnya sama saja,” ucap Presiden RI ke 7 ini.

Adat yang digunakan dalam kedua pernikahan anak Presiden Jokowi ini sama-sama mengangkat budaya Jawa. Pada upacara yang mengangkat budaya Jawa ini terdiri dari beberapa rangkaian, mulai dari wilujeng kenduri, siraman, midodareni, Akad, dan resepsi.

“Berdasarkan adat Jawa, kalo perempuan itu Mantu. Nah, kalau lelaki itu namanya Ngunduh Mantu,” ucap Jokowi.

Menurut budaya Jawa, prosesi ngunduh mantu tersebut tidak wajib dilaksanakan. Hanya saja beberapa orang tua pengantin pria masih melakukannya sebagai ucapan rasa syukur atas pernikahan putra tercinta.

Setiap rangkaian acara memiliki makna dan filosofi masing-masing. Setelah wilujeng kenduri, rangkaian acara berikutnya akan dilanjutkan esok hari, yaitu acara siraman dan midodareni.

Susanto, pakar Sejarah dan Budaya Jawa dari Universitas Sebelas Maret, memaparkan bahwa ritual-ritual dan upacara memang hal yang sakral dan penting dalam budaya Jawa.

“Yah, upacara dan ritual itu penting terutama sejak zaman kerajaan Mataram. Oleh karena itu, setiap prosesi dalam perniakahan adat jawapun memiliki makna dan filosofi masing-masing,” ucap dosen Sejarah Universitas Sebelas Maret Tersebut.

Untuk rangkaian prosesi berikutnya akan dilaksanakan pada Selasa (07/11/2017). Prosesi tersebut berupa siraman yang dilakukan oleh masing-masing mempelai di tempat berbeda.

Untuk pihak pengantin perempuan, setelah prosesi siraman akan dilanjutkan dengan ritual sadeyan dawet (menjual dawet) dan midodareni.

“Siraman ini sebenarnya wujud pamit anak kepada kedua orang tuanya. Ini mengisyaratkan bahwa sebentar lagi anak tersebut sudah tidak lagi ‘siram’ atau dimandikan kedua orang tuanya,” papar Santo.

Presiden Jokowi saat berada di gang masuk tak jauh dari kediamannya, Senin (6/11/2017).
Presiden Jokowi saat berada di gang masuk tak jauh dari kediamannya, Senin (6/11/2017).(Sumber: KOMPAS.com/Labib Zamani)

Selain itu, Santosa juga mengatakan bahwa makna sadeyan dawetdalam rangkaian prosesi tersebut adalah makna bahwa sang anak telah siap mengarungi kehidupan dengan mencari nafkah sendiri.

Sebelum prosesi siraman pihak pengantin putri, juga akan dilaksanakan pemasangan bleketepe atau daun kelapa yang masih hiaju dan dianyam dengan ukuran rata-rata 50 cm x 200 cm. Pemasangan bleketepe ini nantinya akan dilakukan oleh ayah mempelai wanita, yang tak lain adalah Presiden Jokowi sendiri.

“Makna pemasangan bleketepe ini seperti ajakan orang tua mempelai untuk menyucikan hati,” ujar Santosa. (Ariska Puspita Anggraini/kompas.com/bh).

Be the first to comment

Leave a Reply