PENDIDIKAN: Dalam Sepekan, Dua Mahasiswa di Kupang Gantung Diri

Ilustrasi (Sumber: Odyssey)

Oleh: KORNELIS KEWA AMA

KUPANG, Baranews.co – Sandro Alvian Banu (21), mahasiswa semester 3 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Widya Mandira Kupang, dan Fidelia Fatima (22) mahasiswa semester 7 Universitas Muhammadiya Kupang, secara terpisah sama-sama mengakhiri hidup dengan cara menggantung diri. Sejak bulan Januari-September 2017 bahkan telah lima mahasiswa di Nusa Tenggara Timur mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.

Kepala Bidang Humas Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) Ajun Komisaris Besar Jules Abraham Abast di Kupang, Rabu (27/9/2017) mengatakan, korban Sandro Alvian Banu (21) mahasiswa semester 3 Universitas Widya Mandiri Kupang ditemukan tewas gantung diri di dalam kamar mandi, Rabu (27/9) pukul 05.30 Wita oleh adik kandungnya, Marsel Banu (19).

Sebelumnya, hari Jumat (22/9), Fidelia Fatima (22) mahasiswi semester 7 Universitas Muhammadiyah Kupang ditemukan tewas gantung diri di dalam kios milik orangtuanya, pukul 02.00 Wita.

“Keluarga dari dua mahasiswa yang tewas bunuh diri ini, menolak melakukan autopsi terhadap jenazah korban. Tetapi informasi dari rekan dan orang terdekat, kedua orang ini memiliki kesamaan, yakni pendiam dan tidak mau menceritakan persoalan yang tengah mereka hadapi kepada orangtua atau rekan mahasiswa di kampus,” kata Abast

Abast mengatakan, sejak Januari-September 2017 tercatat lima mahasiswa tewas gantung diri di kampus dan tempat berbeda di NTT. Rata-rata para korban memiliki sifat atau perilaku hidup yang mirip selama berstatus sebagai mahasiswa, yakni pendiam dan tidak mau menyampaikan persoalan kepada rekan-rekan, dosen, atau orangtua

Ketua Himpunan Psikolog NTT Santi Sungkono mengatakan, kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa di NTTcenderung meningkat setiap tahun. Tahun 2015 hanya ada tiga kasus, 2016 menjadi lima kasus, dan sampai September tahun ini lima kasus. Dua hal yang mendorong seseorang membunuh diri, yakni persoalan internal dan eksternal.

Persoalan eksternal yakni tantangan hidup sangat kompleks sementara keterampilan menata hidup sangat rapuh. Kemudian, mereka merasa diri gagal dan tak mampu. Kompleksitas tuntutan hidup begitu kuat mendera antara lain dengan hadirnya teknologi informasi, dan media sosial saat ini. Hal ini terjadi karena tipe orang-orang seperti ini pada umumnya tidak memiliki mimpi dan ambisi mengenai masa depan. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply