Gunung Agung: Zona Bahaya Diperluas, Warga di Sekitar Kawah Diimbau Mengungsi

Sejumlah anak yang tinggal di sekitar Pos Pengamatan Gunung Api Agung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (19/9), melihat peta erupsi Gunung Agung. Hingga Selasa malam, Gunung Agung berstatus level III atau Siaga. Masyarakat yang berada sekitar 7 kilometer dari kawah diimbau mengungsi. (Sumber: KOMPAS/AYU SULISTYOWATI)

KARANGASEM, Baranews.co – Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, hingga Selasa (19/9) malam masih berstatus Siaga sejak ditetapkan Senin (18/9) pukul 21.00 Wita. Belum ada hujan abu dan asap belerang.

Pemandangan Gunung Agung di Pos Pengamatan Gunung Api Agung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (19/9) petang. Hingga kemarin malam, status Gunung Agung berstatus level III atau siaga. Intensitas gempa vulkanik masih aktif tercatat sekitar 400 kali per hari. Masyarakat sekitar 7 kilometer dari kawah diimbau untuk mengungsi.
KOMPAS/AYU SULISTYOWATI

Pemandangan Gunung Agung di Pos Pengamatan Gunung Api Agung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (19/9) petang. Hingga kemarin malam, status Gunung Agung berstatus level III atau siaga. Intensitas gempa vulkanik masih aktif tercatat sekitar 400 kali per hari. Masyarakat sekitar 7 kilometer dari kawah diimbau untuk mengungsi.

Meski demikian, intensitas gempa vulkanik tercatat 363 kali dalam waktu 24 jam pemantauan dan menguat selama 18 jam pemantauan mulai pukul 00.00 hingga pukul 18.00 Wita. Oleh karena itu, sekitar 50.000 warga di enam desa yang berada dalam radius 7 kilometer dari kawah gunung diimbau untuk mengungsi.

Petugas tengah memperlihatkan intensitas gempa vulkanik melalui alat seismograf yang memantau aktivitas Gunung Agung di Pos Pengamatan Gunung Api Agung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (19/9). Hingga kemarin malam, status Gunung Agung berstatus level III atau siaga. Intensitas gempa vulkanik masih aktif tercatat sekitar 400 kali per hari. Masyarakat sekitar 7 kilometer dari kawah diimbau untuk mengungsi.
KOMPAS/AYU SULISTYOWATI

Petugas tengah memperlihatkan intensitas gempa vulkanik melalui alat seismograf yang memantau aktivitas Gunung Agung di Pos Pengamatan Gunung Api Agung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (19/9). Hingga kemarin malam, status Gunung Agung berstatus level III atau siaga. Intensitas gempa vulkanik masih aktif tercatat sekitar 400 kali per hari. Masyarakat sekitar 7 kilometer dari kawah diimbau untuk mengungsi.

Pemerintah setempat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali menyiapkan enam lokasi pengungsian untuk mereka, termasuk tenda, kendaraan mandi cuci kakus (MCK), masker, selimut, dan logistik.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika tetap mengimbau warga, terutama yang berada dekat dengan radius bahaya dari kawah Gunung Agung, mengikuti prosedur evakuasi dengan baik.

“Ini demi keselamatan bersama. Pemerintah menjamin keamanan desa yang ditinggalkan dengan meminta polisi dan TNI untuk bekerja sama menjaganya. Soal ternak, pemerintah menyiapkan penampungan yang dekat dengan pengungsian,” kata Mangku Pastika saat memantau aktivitas Gunung Agung di Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Desa Rendang, Selasa sore.

Mengenai adanya api, Kepala BPBD Provinsi Bali Dewa Indra menjelaskan, api berasal dari 11 titik api kebakaran lahan di sekitar kawah. Sumber api masih dipelajari apakah terkait dengan aktivitas kawah dan adanya batu- batu kecil yang keluar dari kawah atau tidak.

Radius 6 kilometer

Seiring dengan peningkatan aktivitas dan statusnya menjadi Siaga, zona bahaya Gunung Agung diperluas. Masyarakat dilarang berada di radius 6 kilometer dari kawah atau berada di gunung ini hingga ketinggian di atas 950 meter dari permukaan laut.

Zona bahaya ini diperluas secara sektoral ke arah utara, tenggara, dan selatan-barat daya dengan radius hingga 7,5 kilometer dari arah kawah.

“Dengan perluasan zona bahaya ini, sudah ada penduduk yang seharusnya diungsikan karena permukimannya ada di dalam zona bahaya tersebut,” kata Kepala Subbidang Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Devi Kamil Syahbana, Selasa.

Ahli Kebencanaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono mengatakan, mengingat besarnya bahaya letusan Gunung Agung, masyarakat sebaiknya jangan berada di zona bahaya. “Jangan ada lagi yang menerobos seperti terjadi dalam kasus-kasus sebelumnya, seperti di Gunung Sinabung (Sumatera Utara), sehingga jatuh korban,” katanya.

Surono mengatakan, karakter letusan Gunung Agung cenderung magmatik atau eksplosif dengan jangkauan awan panas bisa mencapai 13 kilometer. “Sejarah letusan Gunung Agung jauh lebih kuat dibandingkan dengan letusan Gunung Merapi yang jangkauan awan panasnya maksimum mencapai 5 kilometer,” ujarnya. (AYS/COK/GER/BKY/AIK)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply