PCC Sudah Lama Dilarang, Peredaran Dipertanyakan

Korban PCC di Kendari (Sumber: merdeka.com)

MAKASSAR, Baranews.co – Obat bertulis PCC (paracetamol, caffeine, carisoprodol) yang menyebabkan banyak remaja di Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi korban dipastikan mengandung karisoprodol. Obat itu dilarang beredar sejak 2013.

Berdasarkan penelitian Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sebagian PCC juga dicampur tramadol.

“Obat ini sudah dilarang beredar karena banyak disalahgunakan. Dalam sampel yang kami teliti, sebagian obat mengandung atau dicampur tramadol. Dulu obat ini dipakai sebagai pereda nyeri. Dengan konsumsi berlebih, pengguna bisa bertingkah seperti orang gila dan berhalusinasi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara Asrun Tombili, Jumat (15/9), di Kendari.

Di Jakarta, Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik BPOM Hans Kakerissa menyatakan, obat PCC yang disalahgunakan remaja di Kendari adalah obat ilegal. Obat itu ditarik dari peredaran sejak 2013.

Hasil uji laboratorium menunjukkan, tablet PCC positif mengandung karisoprodol. Obat itu memiliki efek farmakologis sebagai relaksan otot atau pereda rasa nyeri dan menimbulkan efek menenangkan.

Karisoprodol kerap disalahgunakan untuk penambah rasa percaya diri, penambah stamina, bahkan digunakan oleh pekerja seks komersial sebagai “obat kuat”.

BPOM, kata Hans, sedang menelusuri asal PCC yang beredar di Kendari. Diduga, PCC dibuat oleh pelaku kejahatan dengan kemampuan produksi obat ilegal yang besar dan selama ini mengedarkan ke sejumlah wilayah.

Berdasarkan data Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara, hingga Jumat, korban penyalahgunaan obat terlarang ini mencapai 66 orang. Saat ini yang dirawat di rumah sakit tinggal 15 orang. Terkait korban tewas, disebutkan ada tiga orang. Namun, polisi hanya memastikan satu orang tewas akibat mengonsumsi obat PCC.

“Dua korban yang menceburkan diri ke laut tak bisa kami pastikan meninggal akibat obat atau tidak karena korban ditemukan tenggelam. Walau keluarga dan saksi menyebut efek obat membuat mereka menceburkan diri ke laut, kami harus pastikan (hal itu) melalui otopsi. Namun, keluarga menolak,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tenggara Ajun Komisaris Besar Sunarto.

Ungkap motif

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan dinas kesehatan mendesak aparat untuk mengusut tuntas motif di balik peredaran obat yang dilakukan bersamaan di banyak tempat. Terlebih sasarannya adalah anak- anak dan remaja, yakni siswa SD hingga SMU.

Asrun mengatakan, dalam pemeriksaan terhadap korban, sebagian ada yang mengonsumsi delapan butir per orang.

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Sulawesi Tenggara Kusnadi mengatakan, Pemprov Sultra sangat prihatin dengan kejadian ini. “Kami bekerja sama dengan pemerintah kota dan kabupaten, BPOM, serta instansi terkait untuk memperketat pengawasan apotek dan tempat yang diduga sebagai lokasi peredaran obat terlarang,” kata Kusnadi.

Saat ini, kepolisian masih mengusut motif peredaran obat tersebut. Hingga Jumat, sembilan tersangka ditangkap, dua orang di antaranya apoteker dan asisten apoteker.

Hal itu juga dikatakan Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul di Jakarta.

Kasus peredaran dan penyalahgunaan obat PCC merebak di Kota Kendari dan sekitarnya sejak Selasa (12/9). Puluhan warga, sebagian besar anak-anak dan remaja, dilarikan ke sejumlah rumah sakit dengan gejala berhalusinasi, hiperaktif, murung, pingsan, dan bertingkah seperti orang gila.

Mewaspadai

Terkait dengan kejadian di Kendari, beberapa kepala daerah di Banten meminta warga mewaspadai dan tak menggunakan obat bertuliskan PCC. Hal itu, antara lain, diimbau Gubernur Banten Wahidin Halim seusai peresmian Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Jumat, di Serang.

Sementara itu, Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Jawa Barat membongkar peredaran narkotika jenis sabu di kawasan Bandung Raya yang dilakukan oleh jaringan Aceh.

Polisi menyita barang bukti sabu seberat 4,1 kilogram senilai Rp 6 miliar. Tujuh tersangka yang ditangkap adalah AL (48), BEN (32), MH (40), TK (40), IR (33), HS (43), dan HK (44). Polisi masih memburu satu orang lagi, yaitu DY. (REN/ADH/DD14/SEM/BAY/RAZ)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply