HIV dan AIDS Bukan Penyebab Kematian pada Pengidap HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: www.avert.org)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Berita di tribunnews.com (3/9-2017) yang bersumber dari Tribun Jogja dengan judul “Kisah Sedih Balita Pengidap HIV, Kedua Orangtuanya Meninggal karena Virus yang Sama” menunjukkan pemahaman wartawan Tribun Jogja yang menulis berita terkait dengan HIV/AIDS sangat rendah.

Kematian pada pengidap HIV/AIDS bukan karena (virus) HIV, tapi karena penyakit-penyakit yang ada di masa AIDS yang disebut sebagai infeksi oportunistik, seperti diare, TB, dll. Masa AIDS sendiri secara statistik terjadi pada pengidap HIV/AIDS antara 5-15 tahun setelah tertular HIV.

Obat ARV

Judul berita ini menyesatkan dan mendorong stigmatisasi (pemberian cap buruk) dan diskriminasi (perlaku berbeda) terhadap orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS (Odha) karena dikesankan HIV-lah sebagai penyebab kematian.

Berita ini bercerita tentang Melati, bukan nama sebenarnya, balita pengidap HIV/AIDS di Yogyakarta. Berita ini sama sekali tidak memberikan gambatan ril tentang HIV/AIDS, seperti cara-cara penularan serta cara-cara pencegahan sehingga tidak membawa pencerahan bagi pembaca.

Keterangan foto pun ngawur. Disebutkan “Balita lima tahun ini kondisinya semakin menurun. Kulitnya menghitam, kaki dan tangannya kering tak ada daging. Kondisi ini diakibatkan karena penyakit HIV yang menggerogoti tubuh kecilnya.”

Kondisi balita dengan kulit menghitam, kaki dan tangan kering tak ada daging bukan karena HIV tapi karena penyakit lain. Sayang wartawan tidak mencari tahu penyebab kondisi itu karena wartawan yang menulis berita ini rupanya sudah sampai pada kesimpulan “ …. diakibatkan karena penyakit HIV yang menggerogoti tubuh kecilnya.”

Sebagai virus HIV tidak menggerogoti tubuh. HIV ada di darah. Yang terjadi adalah HIV menggandakan diri di sel darah putih sehingga sel darah putih banyak yang rusak sehingga tingkat kekebalan turun. Pada kondisi inilah pintu masuk bagi penyakit lain. Hal ini terjadi pada pengidap HIV/AIDS yang tidak meminum obat antiretroviral (ARV). Dengan obat ARV kekebalan tubuh pada pengidap HIV/AIDS bisa tetap terjaga.

Disebutkan: Mengetahui sang suami mengidap penyakit mematikan tersebut, ibu Melati sempat shock dan ketakutan. Pasalnya, bila suaminya mengidap penyakit tersebut, otomatis dia dan buah hatinya dalam bahaya.

HIV dan AIDS bukan penyakit mematikan. HIV adalah virus sedangkan AIDS adalah kondisi seorang yang mengidap HIV setelah 5-15 tahun (disebut masa AIDS). Dalam berita tidak dijelaskan penyakit yang menyebabkan kematian orang tua Melati.

HIV adalah virus yang menular. Penularan HIV bisa dicegah sehingga penularan HIV tidak otomatis. Persoalan pada ibu Melati adalah suaminya diketahui mengidap HIV/AIDS setelah Melati lahir yang berarti ada risiko penularan HIV dari suaminya karena telah terjadi hubungan seksual dengan kondisi suami tidak memakai kondom. Tapi, perlu diingat bahwa penularan HIV tidak ototmatis.

Disebutkan pula “Dokter mengeluarkan keterangan bahwa dia dan buah hatinya menuruni penyakit yang dibawa sang suami.” Maksudnya ibu Melati dan Melati terdeteksi mengidap HIV/AIDS, tapi bukan penyakit bawaan suami dan tidak pula penyakit keturunan.

Insiden Infeksi HIV Baru

Dalam jumlah yang bisa ditularkan HIV terdapat dalam darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu (ASI). Penularan HIV ke ibu Melati terjadi melalui hubungan seksual dengan suaminya karena suami tidak menyadari dirinya mengidap HIV/AIDS. Sedangkan penularan HIV ke Malati dari ibunya bisa terjadi dalam kandungan atau ketika persalinan, bisa juga ketika menyusui.

Itulah sebabnya pemerintah menganjurkan agar perempuan hamil menjalani tes HIV agar bisa diketahui status HIV. Jika tes HIV pada awal kehamilan dokter akan menangani agar risiko penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya bisa ditekan sampai nol persen. Celakanya, banyak ibu hamil enggan menjalani tes HIV karena merasa tidak berisiko karena tidak berganti-ganti pasangan.

Tapi, bisa saja terjadi ada suami yang melakukan perilaku berisiko tinggi tertular HIV, al. melakukan hubungan seksual di dalam dan di luar nikah tanpa kondom dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti pasangan seperti pekerja seks komersial (PSK). Terkait dengan PSK pun banyak pula laki-laki yang merasa tidak berisiko karena mereka tidak melakukan hubungan seksual dengan PSK di lokalisasi pelacuran. Padahal, ada dua jenis PSK yang perilakunya berisiko tertular HIV, yaitu:

(1) PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2) PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.

Dengan kasus kumulatif HIV/AIDS secara nasional sebanyak 330.152 per Maret 2017 merupakan lampu merah bagi Indonesia. Yang perlu diingat adalah angka ini hanyalah kasus yang terdeteksi. Estimasi menyebutkan kasus HIV/AIDS di Indonesia ada di angka 600.000 sehingga banyak kasus yang tidak terdeteksi. Kasus yang tidak terdeteksi jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Celakanya, insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa terus terjadi melalui hubungan seksual dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung. Ini bisa terjadi karena penanggulangan di hulu tidak bisa dijalankan secara efektif al. karena praktek pelacuran tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dilakukan intervensi agar laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Dengan kondisi ini penyebaran HIV di Indonesia akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*