‘Candu’ Baru Itu Bernama Media Sosial ….

Sebuah iklan dari Talkspace, yang menawarkan konseling secara online, untuk meningkatkan kesadaran akan adiksi media sosial (Sumber: BBC Indonesia/TALKSPACE).

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Remaja Cina tewas di ‘pusat pengobatan kecanduan’ internet” Ini judul berita di “BBC Indonesia” (14/8-2017). Selama ini kecanduan yang dikenal luas terjadi karena pengaruh narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) serta obat-obatan psikotropika yang dipakai di luar keperluan medis.

Kecanduan terkait dengan penggunaan Internet untuk media sosial dan game online sudah sampai pada tahap ‘adiksi media sosial’. Kecanduan adalah sesuatu yang menjadi kegemaran, tapi karena kegemaran sudah melewati ambang batas akhirnya sampai pada tahap adiksi (ketergantungan yang berlebihan terhadap sesuau secara fisik dan psikologis).

Belakangan ini kehidupan banyak orang seakan-akan sudah sampai pada kondisi ‘tiada hari tanpa mengecek media sosial’.

Penggunaan Internet yang sudah sampai pada tahap adiksi, terutama game online, sudah masuk ke ranah kesehatan fisik dan psikis. Banyak orang yang kalang-kabut kalau telepon pintarnya ketinggalan atau baterai ponselnya habis.

Banyak orang tua di Cina yang terpaksa membawa anak-anak mereka yang sudah adiksi Internet ke tempat-tempat yang mengiklankan diri bisa mengobati kecanduan terhadap Internet. Orang-orang tua itu mengaku tidak bisa lagi mengatasi kecanduan anak-anak mereka terhadap Internet.

Bermunculanlah tempat-tempat yang menyebutkan dirinya sebagai tempat untuk merawat anak-anak yang kecandungan Internet. Ada yang menjual program dengan kemasan psikologis dan fisik. Celakanya, dikabarkan ada yang memakai cara-cara militer dalam mengangani anak-anak yang kecanduan Internet tsb. Insiden kekerasan pun terjadi yang akhirnya sampai pada kematian.

Biar pun sudah banyak kasus kekerasan dan kematian di tempat-tempat pengobatan itu, seperi dengan memukul dan terapi kejut listrik, tapi tetap saja banyak yang mencari pengobatan kecanduan Internet.

Setelah kasus kematian di pusat pengobatan kecanduan itu muncul reaksi keras dari berbagai pihak di Cina. Tapi, banyak juga yang menyalahkan orang tua yang tidak bisa mengatasi masalah anak-anaknya.

Sebelum kematian di pusat pengobatan kecanduan Internet di Cina itu, “BBC Indonesia” sudah sudah melaporkan bahwa ketergantungan terhaap media sosial jauh lebih parah dampak fisik dan psikologisnya daripada alkohol dan narkoba (Media sosial: Ketergantungan yang ‘lebih parah daripada alkohol atau narkoba’, 9/5-2017).

Ketika seseorang tidak dapat mengelak dari godaan untuk mengecek e-mail, Facebook, WhatsApp, Twitter, atau Instagram di jam kerja di kantor atau ketika mengemudi dan akan gelisah ketika tidak ada sinyal itu menunjukkan ybs. sudah membutuhkan intervensi terkait dengan perilaku. Laporan “BBC” menyebutkan beberapa tahun terakhir pemakai Internet untuk media sosial yang tidak bisa jauh dari perangkat ponselnya mencari pengobatan.

Terapis yang menangan kecanduan Internet menawarkan konseling berupa pelatihan mindfulness (membawa perhatian seseorang ke diri dan momen sekarang) mengadakan retret untuk detoks, dan perusahaan rintisan yang bergerak di corporate-wellness (kebijakan yang mendukung perilaku sehat di sebuah perusahaan).

Di Amerika Serikat dikabarkan oleh “BBC” dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pasien yang mencari bantuan dari Nathan Driskell, seorang terapis di Houston, Texas, untuk yang disebut dengan kecanduan media sosial naik 20 persen dan saat ini setengah dari pasien mengalami kecanduan. Namun, disebutkan ada hal yang menarik yatu klien yang kecanduan game komputer turun.

Di Indonesia pun ‘adiksi media sosial’ sudah jadi bagian dari keseharian banyak orang. Di angkutan umum banyak penumpang yang hanya berkomunikasi melalui perangkat ponsel dan tidak ada lagi relasi sosial. Bahkan, sering terjadi penumpang yang sibuk dengan ponsel terjatuh karena kedua tangannya memegang ponsel.

Prof Trent Bax dari Universitas Perempuan Ewha, yang meneliti kecanduan internet di Cina, mengatakan bahwa banyak tempat yang menawarkan pengobatan kecanduan memakai ‘iklan yang menggugah emosi’ untuk membujuk para orang tua yang menginginkan solusi ‘cepat’ untuk mengatasi masalah anak mereka’. Menurut Prof Bax,  ada juga orang tua yang memegang pandangan ‘tradisional’ tentang pendidikan yang memungkinkan penggunaan kekerasan untuk ‘meluruskan anak nakal’.

Dikabarkan Otoritas Cina mulai awal tahun ini melarang penggunaan kakerasan dalam mengobati kecancuan terhadap Internet melalui rancangan undang-undang.

Bagaimanapun yang diperlukan adalah keseimbangan hidup dalam memanfaatkan teknologi. Jangan sampai teknologi memperkuda atau memperbudak kita, tapi kita yang menjadikan teknologi sebagai ‘kuda’ (baca: alat) untuk mendukung kehidupan. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply