NARKOBA: Edukasi tentang Bahaya Narkoba Masih Kurang

Pasien rehabilitasi menuliskan harapan pada sebuah poster saat berlangsung pembukaan fasilitas Rehabilitasi Narkoba Rumah Sehat Orbit Surabaya (Rumah SOS) di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (21/7). Rumah SOS merupakan tempat rehabilitasi narkoba yang dikembangkan masyarakat sipil dengan latar belakang komunitas korban narkoba didukung Pemerintah Kota Surabaya, Kementerian Sosial, dan Badan Narkotika Nasional. (Sumber: KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Oleh: MADINA NUSRAT

JAKARTA, Baranews.co – Kelemahan dalam pengendalian narkoba di dalam negeri adalah pada pencegahan. Masih sedikit sekali edukasi bahaya narkoba yang diberikan kepada masyarakat. Jika Presiden Joko Widodo menyatakan darurat narkoba, sudah semestinya pencegahan penggunaan narkoba juga dilaksanakan secara masif dan sistematis.

Saat ini ada 5 juta pengguna narkoba aktif yang membutuhkan rehabilitasi, tetapi negara hanya mampu merehab 50.000 orang per tahun. Selama kebutuhan itu tak dapat dipenuhi seluruhnya, maka para pecandu yang membutuhkan rehabilitasi, tetapi tak dapat dilayani, mereka pun masih mengonsumsi narkoba. Hal itu artinya pasar narkoba masih terus berjalan dan subur di dalam negeri.

”Kondisi itu belum ditambah dengan penyalahguna narkoba yang baru mencoba, dan mereka juga merupakan pasar potensial bagi peredaran narkoba,” kata Wakil Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia Benny J Mamoto dalam percakapan dengan Kompas, pekan lalu.

Benny mengatakan, pencegahan penyalahgunaan narkoba saat ini juga masih sangat kurang. Padahal, dengan memberdayakan seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia, itu bisa diwujudkan. Hal ini mengingat peredaran narkoba sudah terjadi di seluruh Indonesia.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pencegahan narkoba itu adalah masyarakat membutuhkan informasi lengkap terkait bahaya narkoba, baik dari segi kesehatan hingga sanksi hukum yang dikenakan. Benny mengaku, dengan biaya yang relatif murah, dia mulai membangun Wale Anti-Narkoba atau Rumah Anti-Narkoba di kampung halamannya di Minahasa, Sulawesi Utara.

”Wale Anti-Narkoba itu dibangun dari kayu dan beratap seng. Namun, yang terpenting materi di dalam rumah itu, mulai jenis-jenis narkoba hingga dampaknya pada kesehatan manusia, sampai dengan sanksi hukum dari mengonsumsi dan mengedarkan narkoba. Sekarang sudah 140.000 siswa sekolah mengunjungi rumah itu,” kata Benny.

Sebagai upaya pencegahan secara masif dan menyeluruh, Indonesia membutuhkan 1.000 rumah edukasi antinarkoba. Setidaknya setiap kabupaten/kota menyediakan 5 sampai 6 rumah edukasi untuk mengedukasi 140 juta rakyat Indonesia usia 10-50 tahun, dan itu bisa dicapai dalam tiga tahun. ”Jangan bangun gedung baru, pakai gedung yang ada, bisa juga gudang, kemudian didekor. Itu murah sekali,” kata Benny. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply