NOVEL BASWEDAN: Tak Sulit Mengungkap Auktor Intelektualis Teror

Novel Baswedan (Sumber: Harian KOMPAS/BIL).

Novel Baswedan masih khusyuk berdoa selepas shalat Subuh pagi itu. Dia baru berhenti setelah masuk waktu syuruk. Tak berapa lama, Novel berdiri, lalu melanjutkan dengan shalat Duha. Seusai shalat Duha, kami bertemu. Kami berpelukan dan bertukar kabar. Masih terlihat jelas jejak teror yang menimpanya.

Novel Baswedan
Novel Baswedan (KOMPAS/KHAERUDIN)

Selaput yang melindungi kornea mata kiri Novel rusak total. Hingga kini, dia masih kehilangan fungsi penglihatan mata kirinya.

Mata kanannya juga belum sepenuhnya pulih, tetapi itu satu-satunya yang masih bisa membantunya melihat. “Untuk mata kanan, alhamdulillah, optimisme untuk kembali pulih cukup besar. Cuma mata kiri yang rasanya sudah pada posisi rusak lebih ekstrem,” kata Novel.

Air keras membuat selaput kornea kedua mata Novel rusak. Selaput kornea mata kirinya tak mau tumbuh karena jaringannya mati akibat siraman air keras seusai Novel menunaikan shalat Subuh, 11 April silam. Dokter tengah mengupayakan mengganti jaringan yang rusak itu dengan jaringan gusi. Gusi dipilih karena, meski diambil, jaringannya akan tetap tumbuh.

Oknum Polri

Dua kali kesempatan mewawancarai Novel, Sabtu (22/7) pekan lalu, dilakukan selepas shalat. Novel bercerita banyak soal teror dan siapa sosok oknum jenderal polisi yang diduga berada di belakang penyiraman air keras terhadapnya. Pagi itu, Novel juga bercerita banyak soal kasus korupsi KTP elektronik yang belum semuanya diungkap KPK meski Ketua DPR Setya Novanto sudah jadi tersangka.

Setelah kejadian, ada informasi Anda dapat foto pelakunya dari Densus 88?

Saya dihubungi secara tidak langsung melalui keluarga dan kemudian saya hubungi balik. Ternyata senior saya dan yang bersangkutan menyampaikan bahwa ada tim yang dibentuk Kapolri. Saya langsung surprise karena sekitar seminggu atau beberapa hari saja dilakukan langkah yang, menurut saya, bagus. Saya, kan, penyidik, saya tahu cara mengungkap perbuatan yang begitu. Kemudian yang bersangkutan menyampaikan foto kepada saya. Jadi, kalau foto itu dari saya, enggak benar. Foto itu dari Polri, dari perwira menengah Polri. Saya yakin proses perolehan foto itu secara profesional dan saya mengapresiasi. Belakangan itu dimentahkan lagi. Bagi saya terserah saja.

Foto itu dikonfirmasi kepada Anda?

Sejak awal saya bilang kepada semua penyidik atau anggota Polri yang bertanya, saya tidak lihat pelaku. Ini menjelaskan, sejak pertama kejadian, saya berulang kali memberi keterangan. Tidak benar kalau ada yang menyatakan saya tidak pernah memberi keterangan. Memang, keterangan bukan dalam bentuk BAP. Ada beberapa tetangga, saya bilang beberapa, karena saksi perbuatan ini banyak. Dan, mereka menyatakan, iya, pelakunya itu.

Yakin pelakunya bakal ditangkap?

Kemarin yakin. Sekarang saya yakin pelakunya tidak akan ditangkap. Soal nanti berubah, ya, semoga Polri mengambil langkah yang positif. Bagi saya, menangkap atau tidak menangkap, kepentingannya banyak.

Dengan semua infrastruktur Polri, sebenarnya polisi mampu tidak mengungkapnya?

Bukan cuma pelaku lapangan, auktor intelektualisnya pun bisa. Tidak sulit. Polisi ini terlatih dan punya pengalaman banyak. Banyak kasus teroris di Indonesia, Anda tahu, ini tidak mudah, tetapi Polri mampu.

Apa karena, kalau auktor intelektualisnya terungkap, banyak kepentingan yang terganggu dan terseret kasus ini?

Di antaranya seperti itu. Ada kemungkinan. Informasi-informasi yang saya terima bahwa ada oknum di internal Polri yang terlibat membuat salah satunya enggak berani mengungkap kasus ini. Saya berkeyakinan itu benar.

Informasi soal dugaan keterlibatan oknum jenderal polisi itu dari mana?

Begini, informasi yang masuk kepada saya banyak, baik dari internal Polri, media, maupun masyarakat. Saya punya beberapa hal yang saya bisa duga bahwa informasi itu besar kemungkinan adalah kebenaran.

Kapolri sudah beberapa kali bertemu dan bicara langsung dengan Anda, sebenarnya adakah komitmen kuat untuk mengungkap kasus ini?

Saya melihat Beliau sosok intelektual Polri. Di antara senior-senior saya di Polri, Beliau sosok yang ingin mengubah Polri menjadi lebih baik. Cuma enggak mudah mengubah begitu. Butuh pengorbanan dan komitmen. Kalau enggak, berat. Tantangan dan hambatan pasti banyak. Resistensi apalagi.

Teror ini apa karena kiprah Anda menyidik kasus KTP-el?

Saya enggak ingin mengerucutkan ke satu hal saja karena semua peluang bisa saja terjadi. Bisa juga karena kepentingan-kepentingan yang lain atau terakumulasi karena beberapa kepentingan.

Jika setelah Anda pulih, pelaku terornya tak terungkap, apakah ada risiko yang sama?

Saya pada dasarnya memahami, setiap kejadian itu takdir Allah. Siapa pun orangnya, sekuat apa pun dia, dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali oleh izin Allah. Di situ saya sama sekali tidak takut. Cuma yang saya takutkan tadi, aparatur yang berkewajiban (mengungkap pelaku) tidak dipercaya lagi. Itu yang jadi problem dan negara akan dipandang gagal melindungi aparaturnya.

Keberanian Anda tidak berubah setelah teror ini?

Insya Allah tidak. Logikanya begini, berbuat jahat saja orang berani, masa kita yang berbuat baik malah enggak berani. Bagi saya, segala sesuatu itu terjadi karena kehendak Allah. Itu yang membuat saya yakin, saya harus berani. (KHAERUDIN)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*