LIGA PRIMER INGGRIS: Manajer Asli Inggris Masih Jauh dari Asa

Sumber: Comcast Corporation - Xfinity
Eddie Howe
GETTY IMAGES/BRYN LENNON

Eddie Howe

Setelah lebih dari seperempat abad era Liga Primer Inggris bergulir, publik terus bertanya, apakah penantian panjang datangnya manajer asli Inggris yang mampu menjadi juara akan segera berakhir? Pertanyaan lain, mengapa pelatih-pelatih asing mendominasi daftar juara pada periode 25 tahun tersebut?

Craig Shakespeare
GETTY IMAGES/LAURENCE GRIFFITHS

Craig Shakespeare

Diluncurkan pada tahun 1992, era Liga Primer Inggris telah berusia 25 tahun pada musim 2016-2017. Pada 10 musim pertamanya, Alex Ferguson, pria Skotlandia berwatak keras itu, menjadi penguasa dengan skuad mudanya yang memesona.

Meski diganggu perjalanan kariernya oleh Arsene Wenger (Perancis) dan Jose Mourinho (Portugal), Sir Alex telah menancapkan tonggak paling bersejarah dalam perjalanan klub Manchester United (MU) dengan mengantarkan gelar ke-20. Pencapaian ini sekaligus kemenangan besar atas rival abadinya Liverpool yang sejauh ini baru mengoleksi 18 gelar Liga Inggris. Namun, tetap Sir Alex bukanlah asli Inggris, dia Skotlandia.

Dalam sepak bola, Inggris memang seakan punya hak istimewa. Jika di Olimpiade mereka turun dengan nama Britania Raya (dengan bendera The Union Jack), di sepak bola mereka punya otoritas untuk memegang bendera masing-masing dan turun di arena internasional dengan identitas-identitas uniknya. Inggris sendiri turun dengan bendera “The St George Cross” untuk semua perhelatan di bawah bendera FIFA.

Musim lalu, Eddie Howe menembus barisan elite 10 besar bersama Bournemouth, secercah harapan mulai timbul. Bagaimana tidak, selama dua dekade, kelompok 10 besar klasemen seolah-olah menjadi teritorial eksklusif manajer asing.

Musim 2017-2018 yang akan bergulir mulai 12 Agustus mendatang, Inggris diwakili oleh Howe, Sean Dyche (Burnley), Paul Clement (Swansea), dan Craig Shakespeare (Leicester). Masih ada manajer asal Inggris Raya, yakni Mark Hughes (Wales/Stoke), Chris Hughton (Irlandia/Brighton and Hove Albion), dan Tony Pulis (Wales/West Bromwich).

Kembali ke manajer asli Inggris. Bagaimana peluang Howe, Clement, Dyche, dan Shakespeare menjuarai Liga Primer? Harus diakui sangat kecil. Dua musim lalu, Leicester City membuat kejutan bak dongeng, tetapi dengan manajer orang Italia. Dongeng itu cerita seratus tahun sekali.

Jauh panggang dari api

Howe dan Bournemouth bertahan di Premiership dan menunjukkan kemajuan pesat. Namun, untuk bertarung di kelompok juara dengan klub seperti Chelsea, Tottenham, MU, Manchester City, Liverpool, atau Arsenal, yang semua bermanajer asing, jauh panggang dari api.

Burnley dengan Dyche yang dipertahankan terus, juga sulit masuk ke jajaran elite. Demikian pula Clement dan Shakespeare, sepertinya hanya akan berjuang habis-habisan untuk tidak terdegradasi.

Dan bagi manajemen klub, pikiran realistis adalah tidak perlu melakukan investasi besar-besaran membeli pemain mahal dan pelatih kelas dunia, asal tetap bisa bertahan di Premiership, sudah cukup.

Bagaimanapun, Liga Primer adalah urusan uang. Bertahan di kelompok top flight merupakan jaminan finansial bagi klub. Bagi klub papan tengah dan papan bawah, prize money dan pembagian hak siar televisi sudah cukup untuk menjamin hidup mereka bermusim-musim ke depan.

Musim lalu, Chelsea yang menjadi juara berhak atas 153,2 juta pound (sekitar Rp 2,3 triliun). Sementara klub terbawah, Sunderland, berhak atas 99,9 juta pound (sekitar Rp 1,5 triliun).

Faktor finansial menjadi lebih dominan sejak diberlakukannya aturan parachute payment, yakni pembayaran yang dilakukan kepada klub-klub yang terdegradasi yang musim lalu jumlahnya mencapai 90 juta pound.

Fenomena inilah yang tampaknya akan tetap mendominasi Liga Primer dalam tahun-tahun mendatang. Manajer asli Inggris atau Inggris Raya, dengan nilai yang “masuk akal” bagi tim-tim medioker, tetap akan berkutat di klub-klub kecil dengan tujuan tetap bertahan di Liga Primer dan tidak ditarget untuk menjadi juara.

Klub-klub papan atas dengan investor kaya raya tetap akan mendominasi kompetisi untuk menjadi juara atau masuk zona Liga Champions, sebuah level yang juga bergelimang uang.

Melihat bursa transfer sejauh ini, formasi favorit tidak akan banyak berubah dari klasemen akhir musim lalu dengan Antonio Conte (Chelsea) dan Jose Mourinho (MU) kini menjadi favorit terkuat.

Bagi publik Inggris, kabar baiknya hanyalah daftar teratas prediksi manajer yang paling awal dipecat adalah Rafael Benitez (Spanyol/Newcastle United) dan Slaven Bilic (Kroasia/West Ham). (JOY)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*