Kena Penyakit Kulit Ayam, Lakukan Ini

Jika kulit kamu tampak belang dan benjol-benjol kecil seperti jerawat, kamu mungkin ingin menutupinya dengan baju tertutup. Penyakit kulit yang satu ini memang terlihat memalukan, tapi ternyata tidak berbahaya.

Baranews.co – Jika kulit kamu tampak belang dan benjol-benjol kecil seperti jerawat, kamu mungkin ingin menutupinya dengan baju tertutup. Penyakit kulit yang satu ini memang terlihat memalukan, tapi ternyata tidak berbahaya.

Penyakit kulit ayam atau keratosis pilaris merupakan kondisi kulit yang kering, kasar, dan muncul benjolan-benjolan kecil dan keras yang biasanya terjadi pada lengan atas, paha, pipi, atau bokong, dan dapat membuat kulit Anda terasa seperti amplas.

Bentol-bentol ini kadang-kadang gatal, tetapi umumnya tidak sakit dan tidak memburuk, biasanya berwarna terang, kadang-kadang dengan kemerahan atau bengkak. Kondisi ini juga dapat muncul di wajah Anda, namun jarang terjadi. Penyakit kulit ayam ini tidak berbahaya.
Haruskah khawatir?

NHS mengungkapkan, penyakit ini merupakan kondisi yang umum dan tidak berbahaya dan kamu tidak perlu menemui dokter kulit.

Kamu harus menghubungi dokter jika ada beberapa perubahan signifikan muncul pada kulit Anda dengan penyebab yang tidak diketahui dan membuat Anda benar-benar khawatir. Dokter dapat membuat diagnosis dengan memeriksa karakteristik kulit dan benjolan yang bersisik.

Keratosis pilaris tidak menular, dan tidak bisa menyebar dari orang ke orang. Biasanya, kulit membaik di musim panas dan semakin memburuk saat musim dingin atau kondisi kering. Di mana di tubuh Anda bisa menerima “kulit ayam”.

Menurut NHS, keratosis pilaris “paling sering menyerang bagian belakang lengan atas, dan terkadang bokong dan bagian depan paha. Namun, forearms dan upper back bisa ikut terserang juga.

“Ada juga varian langka keratosis pilaris yang bisa memengaruhi alis, wajah dan kulit kepala, atau seluruh tubuh,” jelas situs NHS.

Apa penyebab benjolan merah di lengan?

Penumpukan keratin adalah penyebab utama keratosis pilaris atau penyakit kulit ayam. Keratin adalah protein keras yang bertanggung jawab untuk melindungi kulit dari zat berbahaya dan infeksi.

Ketika penumpukan terjadi, gumpalan terbentuk dan menghambat pembukaan folikel rambut dan menyebabkan keratosis pilaris. Namun, alasan mengapa keratin menumpuk masih belum diketahui.

Kondisi ini dapat terjadi karena ada hubungan dengan penyakit genetik atau dengan kondisi kulit lainnya, seperti dermatitis atopik dan eksim.

NHS menjelaskan, kondisi ini berjalan dalam keluarga dan diwariskan dari orangtua kamu. Jika salah satu orangtua mengalami kondisi ini, ada satu dari dua kemungkinan anak-anak mereka juga akan mewarisinya.

“Keratosis pilaris terjadi ketika terlalu banyak keratin terbentuk di folikel rambut kulit. Keratin adalah protein yang ditemukan di lapisan luar kulit yang keras, yang menyebabkan permukaan kulit menebal, maka dinamakan keratosis. Keratin berlebih menghalangi folikel rambut dengan sumbatan kulit keras dan kasar. Tuas mungil itu memperlebar pori-pori, sehingga kulitnya terlihat merah,” ujar NHS.

Bagaimana cara mengobatinya?

NHS merekomendasikan empat cara untuk memerangi keratosis pilaris.

– Menggunakan pembersih non-sabun daripada sabun. Pasalnya, sabun biasa bisa membuat kulit kamu jadi kering dan membuat kondisinya semakin memburuk.

– Dokter umum atau apoteker dapat merekomendasikan krim yang sesuai untuk melembapkan kulit kamu yang kering, meskipun pelembap dan losion hanya mengurangi kekeringan pada kulit dan tidak akan menyembuhkan ruam, krim yang mengandung asam salisilat, asam laktat atau urea dianggap paling efektif mengobati kondisi ini.

– Gosok perlahan kulit dengan busa pengelupas atau batu apung untuk mengelupas kulit kasar. Namun, kamu harus hati-hati saat menggosok lapisan kulit jangan terlalu keras.

– Mandi memakai air suam-suam kuku daripada mandi air panas.

Jika kamu sudah mencoba semua langkah tersebut tidak membantu kondisinya semakin membaik, kamu dapat meminta dokter umum untuk melakukan perawatan intensif. (suara.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply