Ketua Bappenas “Jualan” Indonesia di Australia

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (lima dari kiri) di University of Western Australia (Sumber: australiaplus.com/KJRI Perth).

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat ini sedang berada di Australia dalam serangkaian kunjungan ke beberapa kota guna ‘menjual’ Indonesia kepada kalangan bisnis untuk menanamkan lebih banyak modal.

PERTH, AUSTRALIA, Baranews.co – Hari Minggu dan Senin lalu, mantan menteri keuangan ini berada di ibukota Australia Barat, Perth, untuk mengadakan pembicaraan dengan para pejabat setempat dan juga berbicara dengan kalangan bisnis.

Prof Bambang Brodjonegoro juga akan mengunjungi Canberra, Sydney, Brisbane dan Melbourne.

Hari Senin (19/6/2017) di Parmelia Hotel Perth, Kepala Bappenas memberikan presentasi peluang investasi di Indonesia dalam sesi breakfast meeting dengan kalangan bisnis dari Australia Barat.

Menurut keterangan yang diperoleh ABC Australia Plus dari KJRI Perth, di hadapan sekitar 80 tamu yang hadir, Menteri Bambang menyampaikan perkembangan ekonomi dan pembangunan terkini di Indonesia dan memaparkan situasi dan kondisi Indonesia yang sangat positif untuk investasi.

Dalam presentasinya, Menteri Bambang menilai potensi ekonomi Indonesia utamanya di luar Pulau Jawa belum tergarap optimal disebabklan konektivitas yang terbatas.

Maka dari itu, pembangunan infrstruktur yang masif diperlukan. Menteri Bambang menunjukkan sektor-sektor yang membutuhkan investasi besar dan dinilai cukup menarik antara lain infrastruktur jalan tol, pelabuhan dan bandara, pariwisata, dan fasilitas publik yang membutuhkan keterlibatan swasta dalam pendanaannya seperti penyediaan air bersih dan rumah sakit.

Pemerintah memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara dengan GDP terbesar ke empat di dunia tahun 2045 dengan pertumbuhan ekonomi 5,1% per tahun.

Menteri Bambang menawarkan beberapa opsi pembiayaan bagi investor yang berminat untuk berinvestasi di Indonesia yaitu melalui skema Public Private Partnership (PPP) dan Equity Financing.

Di sela-sela breakfast meeting tersebut, Menteri Bambang bertemu dengan Menteri  Pertambangan, Perdagangan dan Industri, dan Asian Engagement Pemerintah Australia Barat, Bill Johnston membahas antara lain manajemen lingkungan terutama di wilayah pertambangan dan upaya Australia Barat dalam membangun listrik di daerah pedalaman.

Selain itu, Menteri Bambang juga bertemu perwakilan dari beberapa universitas Australia Barat mendiskusikan kerja sama di bidang pendidikan tinggi antara lain program studi/pelatihan bagi pegawai-pegawai Perencanaan pada Pemerintahan Daerah dan kemungkinan diadakannya joint program tingkat Sarjana antara universitas di Indonesia dengan universitas di Australia Barat.

Bambang Brodjonegoro (dua dari kiri) juga bertemu dengan pejabat Australia selama kunjungan.
Bambang Brodjonegoro (dua dari kiri) juga bertemu dengan pejabat Australia selama kunjungan. (Foto: KJRI Perth)

 

Prospek pertumbuhan ekonomi di tahun 2018

Sehari sebelumnya hari Minggu (18/6/2017) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional ini hadir dalam dialog publik berjudul “Growth Outlook Prospect and Key Reform in Indonesia” di kampus University of Western Australia yang Association of Indonesian Postgraduate Students and Scholars in Australia (AIPSSA), Indonesian Diaspora Network Western Australia (IDN-WA), dan Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Perth.

Dalam diskusi teersebut, Bambang Brodjonegoro ini menyampaikan poin-poin penting mengenai proyeksi pertumbuhan Indonesia.

Dalam keterangan Abi Sofyan Ghifari dari AIPSSA kepada wartawan ABC Sastra Wijaya, pokok-pokok penting yang ia paparkan pada dialog ini antara lain ialah outlook makroekonomi dan kebijakan Indonesia, prediksi ekonomi Indonesia pada tahun 2045, serta rancangan kerja pembangunan infrastruktur dan pembiayaan.

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang (emerging country) yang cukup ideal untuk penanaman modal berkat pertumbuhan ekonomi yang stabil serta jumlah penduduk yang besar menjadikan Indonesia suatu pasar yang besar dan potensial.

Hal ini dibuktikan dengan tingkat investasi (investment grade) yang positif dari beragam penilai global seperti Moody’s, Fitch, dan JCR. Indonesia juga merupakan negara tujuan investasi terbesar ketiga Jepang serta negara-negara Asia lainnya.

Bambang juga menyampaikan bahwa sektor-sektor utama pendongkrak ekonomi Indonesia seperti manufaktur, konstruksi, perdagangan, dan jasa keuangan masih akan terus menggeliat tumbuh di 2018.

Hanya saja, untuk mencapai tingkat pertumbuhan tersebut, nilai investasi juga perlu ditingkatkan hingga lebih dari 20% dibanding tahun 2016 mencapai 402 miliar dollar AS. Pihaknya memproyeksikan sektor industri, pertanian, dan pariwisata sebagai prioritas untuk menopang pertumbuhan tersebut.

Lebih lanjut, Bambang mengakui bahwa kendala terbesar Indonesia untuk bersaing dengan negara lain dalam menarik dana dari investor asing ialah kesulitan dalam memulai bisnis di Indonesia, mulai dari aspek perizinan, perpajakan, pinjaman bank, hingga perdagangan lintas batas negara.

Meski demikian, Indonesia mulai berbenah diri dengan beragam jenis pelayanan satu atap untuk penanaman modal asing. (Sastra Wijaya/australiaplus.com/bh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*