Populasi Koala di Australia Terancam Punah Akibat Perubahan Iklim dan Kenaikan Air Laut

Perubahan iklim dan pembalakan menempatkan populasi koala di Australia dalam ancaman. (Sumber: australiaplus.com/ABC News: Colin Kerr).

Populasi koala di Australia dan habitat pohon gum tree-nya di kawasan pesisir pantai terancam hancur akibat naiknya permukaan air laut, kondisi ini akan memicu penyakit mematikan yang beracun. Demikian terungkap dalam sebuah konferensi ilmiah di New South Wales.

Baranews.co – Koala hanya memakan daun pohon gum alami atau ‘gum tree’, dan menghabiskan sebagian besar hidup mereka terlindungi di dahan tinggi pohon-pohon tersebut. Marsupial ikonik ini terdaftar secara nasional sebagai spesies yang rentan, dan jumlahnya terus berkurang.

Dr Rebecca Montague-Drake, ahli ekologi pada Dewan Port Macquarie di New South Wales, telah menerbitkan pemodelan yang menunjukkan 14 persen habitat koala di daerah itu akan mengalami penggenangan air asin dalam kurun waktu 50 tahun tahun ke depan, dan akan terus meningkat menjadi 22 persen pada abad berikutnya.

Dia mengatakan meningkatnya salinitas akibat pasang surut dan banjir yang lebih besar akan meningkatkan racun di pohon gum tree dan “mengurangi ketersediaan makanan koala”.

“Ketika kita mulai bermain dengan keseimbangan salinitas di dalam tanah, keseimbangan halus di dalam daun, antara racun dan nutrisi, konsekwensinya itu akan mengeluarkan keteraturan.”

Data menunjukkan saat ini hanya ada kurang dari 40.000 ekor koala bertahan di alam bebas.

Dr Montague-Drake memperkirakan penghancuran lebih lanjut pohon-pohon gum tree di jalur pesisir sepanjang 1.000 kilometer antara Jervis Bay dan Moreton Bay, berpotensi menghilangkan sepertiga dari habitat koala di wilayah ini.

Dia juga mengatakan pemodelannya memberikan gambaran skenario terbaik, bukan kasus terburuk, skenario peningkatan permukaan ait laut.

“Kami hanya menggunakan perkiraan konservatif, karena kami tahu karakter pohon-pohon gum tree di daerah ini, pohon mahoni rawa dan hutan pohon gum tree merah, sedikit lebih tahan terhadap salinitas daripada beberapa spesies eukaliptus lainnya,” katanya.

Bukan satu-satunya masalah

Peringatan meningkatnya air laut menambah daftar ancaman habitat yang ada untuk koala, seperti pembukaan hutan dan lahan yang tidak sah.
Peta Perusahaan Kehutanan yang baru dirilis dan didapatkan dokumennya oleh ABC News menunjukkan penebangan yang intensif diperkirakan akan terjadi di dalam area habitat utama koala di sekitar Coffs Harbour.

Habitat koala dalam ancaman
Peta ini menggambarkan bagaimana sejumlah habitat utama koala di New South Wales terancam karena perubahan peraturan. (ABC News).

 

Ahli ekologi, Steve Philips, seorang anggota Panel Penasihat Koala di NSW, mengatakan bahwa hutan asli di negara bagian tersebut “telah ditebangi hingga tinggal berjarak satu inci saja dari kehidupan ekologis koala”.

Setelah bertahun-tahun melakukan survei lapangan, dia memperingatkan dalam Konferensi Koala Nasional yang berlangsung akhir pekan ini bahwa populasi hewan ikonik Australia ini bisa punah.

“Gambar itu terbentuk selama beberapa dekade penelitian,” katanya.

Dr Oisin Sweeney, seorang ilmuwan dari Asosiasi Taman Nasional, mengatakan populasi koala bisa punah jika penebangan berskala besar terus berlanjut.

“Kami tahu bahwa koala tidak menyukai penebangan kayu, mereka tidak menyukai gangguan, mereka lebih memilih pohon yang berukuran lebih besar karena mereka menganggap ini sebagai sumber makanan yang lebih besar,” katanya.

“Jadi, tidak perlu jenius untuk mengetahui bahwa menjadikan seluruh sumber makanan mereka di daerah yang terkena penebangan merupakan ancaman utama bagi koala.”

Dr Sweeney mendesak Pemerintah untuk melindungi lebih banyak habitat koala ini dan mengatakan bahwa dia mendukung sebuah Taman Nasional Koala Besar (GKNP) yang diusulkan dihutan-hutan yang terdapat di negara bagian itu.

“Itu adalah kawasan paling penting dari habitat koala, sebuah Taman Nasional Koala Besar di daerah pedalaman di Harbour Coffs yang akan meliputi beberapa habitat koala yang benar-benar bagus,” katanya.

Taman Nasional adalah ‘gimmick politik’

Menteri Lingkungan NSW Gabrielle Upton tidak setuju dengan gagasan ini, Ia menggambarkan gagasan taman nasional ini sebagai gimmick politik.

“Ini bukan tentang taman nasional di satu wilayah negara bagian, ini tentang membantu populasi koala di NSW,” katanya.

Dia menunjuk pada investasi sebesar $100 juta atau sekitar Rp989 miliar yang digelontorkan pemerintah NSW untuk program Spesies Terancam, termasuk dana $10 juta untuk mengambil alih habitat koala dari kepemilikan swasta.

“Pemerintah NSW sedang mengembangkan strategi keseluruhan di negara bagian,” kata Upton.

“Itulah pekerjaan yang kami sedang lakukan sekarang, untuk memastikan kita menciptakan keseimbangan dengan benar.”

Pihak lain dalam konferensi ini berharap dilakukan lebih banyak tindakan mendesak.

Cheyne dan Koala
Cheyne Flanagan (kiri) dan Scott Castle berada di garis depan di Rumah Sakit Koala di Port Macquarie. (ABC News: Emma Siossian).

 

Aktivis konservasi koala  veteran, Cheyne Flanagan, dari Rumah Sakit Port Macquarie Koala, minggu ini merawat 20 ekor koala yang sakit, dengan beragam penyakit mulai dari klamidia yang berhubungan dengan stres, sampai luka-luka akibat serangan kereta api.

Dia mengatakan kepada ABC tentang keputusasaannya dalam melindungi habitat lokal, dengan mengatakan jika pihak berwenang tidak bertindak lebih cepat, komunitas Port Macquarie akan melakukannya.

“Kami mempertimbangkan untuk memindahkan populasi koala ke lokasi rahasia, untuk  menjadikan mereka sebagai sumber populasi dalam rangka melindungi spesies ini agar tetap hidup.” (Philippa McDonald dan Greg Miskelly/ab: Iffah Nur Arifah/australiaplus.com/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*