PERSATUAN INDONESIA: Negara Jangan Membiarkan Kebinekaan Indonesia Terancam

Puluhan penari mengusung kain panjang merah putih pada pawai budaya Bhinneka Tunggal Ika yang digelar di Surabaya, beberapa waktu lalu. (Sumber: KOMPAS/IWAN SETIYAWAN)

Oleh: RINI KUSTIASIH

JAKARTA, Baranews.co – Keberagaman yang menjadi dasar berdirinya Indonesia saat ini semestinya dijaga melalui berbagai upaya oleh negara. Akan tetapi, dalam waktu terakhir ini, terlihat ada pembiaran oleh negara atas tindakan-tindakan yang melukai kebinekaan. Negara seharusnya justru menjadi penjaga utama persatuan Indonesia. Karena itu, sudah seharusnya aparat negara jangan sampai membiarkan apabila ada tindakan yang berpotensi merusak kebinekaan Indonesia.

”Harus ada upaya social engineering, political engineering, dan cultural engineering untuk merawat kebinekaan Indonesia. Sayangnya, ketiga hal itu belum dioptimalkan dan justru ada kesan pembiaran oleh negara,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Imam Pituduh, Senin (22/5), di Jakarta.

Ada ruang-ruang kosong dalam masyarakat yang selama ini rentan untuk dimasuki dan dimanfaatkan kelompok-kelompok yang anti-kebinekaan dan radikal. Ruang-ruang itu dengan mudah dimasuki karena negara tidak cukup menaruh perhatian lebih.

”Ruang kosong itu antara lain guru-guru di sekolah. Paham-paham anti-kebinekaan itu dengan mudah menyebar apabila guru tidak cukup punya pemahaman mengenai kebinekaan. Utamanya guru agama, yang tidak semuanya menguasai ilmu agama yang mengedepankan toleransi dan penghargaan pada keberagaman,” ujar Imam.

”Guru-guru agama ini pun umumnya bukan binaan Kementerian Agama, melainkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” lanjutnya.

Ruang kosong lainnya yang semestinya dikelola ialah ruang digital. Konten-konten negatif di ruang digital mengambil posisi kunci untuk menyebarkan pandangan yang tidak menerima perbedaan.

”Di era digital, siapa pun yang memiliki pengikut atau subscriber paling banyak akan memiliki pengaruh terbesar. Hal ini penting dicermati dan dimanfaatkan oleh pemerintah dalam menciptakan konter narasi yang mendukung kebinekaan,” tuturnya.

Akan tetapi, menurut Imam, benteng terakhir dari kebinekaan adalah ruang paling privat warga negara, yakni keluarga. Keluarga menjadi elemen penting untuk menjaga nilai-nilai keberagaman bagi generasi selanjutnya.

”Jika anak tidak cukup mendapatkan pemahaman tentang kebinekaan dari orangtuanya, akan sulit untuk menumbuhkan rasa toleran di benaknya,” kata Imam.

Ruang-ruang kosong itu memerlukan campur tangan dan perhatian pemerintah. Jika ruang-ruang itu dibiarkan liar tanpa orkestrasi pemerintah, masa depan Indonesia sebagai negara toleran dan majemuk akan terancam.

”Negara harus hadir mengisi dan mengorkestrasi ruang-ruang kosong itu,” ujar Imam. Harian KOMPAS

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*