Cherie Colyer-Morris, Mahasiswa Australia yang Peduli Terumbu Karang Indonesia

Cherie Colyer-Morris (kanan) bersama penyelianya, Pak Saipul, di Pulau Badi, Sulawesi Selatan. (Sumber: australiaplus.com/Cherie Colyer-Morris)

Mahasiswa ilmu kelautan, Cherie Colyer-Morris, menghabiskan masa magang selama enam bulan di proyek keberlanjutan maritim yang berbasis di Makassar pada tahun 2015. Pengalaman ini berdampak besar terhadap karirnya hingga saat ini.

Baranews.co – Cherie Colyer-Morris memiliki ketertarikan pada ilmu kelautan. “Saya sangat penasaran untuk memahami ekosistem pesisir dan laut kita, serta interaksi kita dengan ekosistem tersebut,” tuturnya.

Dalam perjalanan singkat ke Indonesia, sebagai bagian dari studi sarjana-nya di University of Newcastle, Cherie pertama kali menyaksikan beberapa tantangan keberlanjutan maritim yang dihadapi oleh masyarakat di negara berkembang.

“Saya menjadi relawan di program penjangkauan masyarakat, mengenalkan saya pada masalah keberlanjutan yang benar-benar ada di masyarakat,” ungkapnya.

“Masalah ini akan memiliki solusi yang relatif sederhana, jika ada cara untuk memotivasi mereka berbuat,” imbuhnya.

Cherie menjadi tertarik dengan pertemuan antara sains dan masyarakat, serta apa yang dapat menciptakan perubahan perilaku masyarakat.

“Meski Anda mendapat jawaban ilmiah, itu tak akan berarti apapun sampai kita mampu mengaplikasikannya, dan masyarakat mampu mengadopsinya sendiri.” – – Cherie Colyer-Morris, mahasiswa Australia yang magang di Indonesia.

Kemudian saat melanjutkan kuliah ke jenjang berikutnya, Cherie mendapat kesempatan untuk kembali ke Indonesia untuk magang selama enam bulan, sebagai bagian dari beasiswa New Colombo Plan.

Beasiswa ini bertujuan untuk memperdalam hubungan Australia dengan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik, melalui hubungan antar warganya dan antar lembaga.

“Itu seperti cuti panjang padahal belum lulus kuliah,” ujarnya sembari tertawa.

Female scuba diver in front of a coral reef.
Cherie bekerja di Pulau Badi untuk proyek restorasi karang. (Cherie Colyer-Morris)

 

Cherie magang di Mars Symbioscience Indonesia, yang saat ini menjalankan proyek restorasi terumbu karang terbesar di dunia.

Indonesia memiliki banyak ekosistem terumbu karang yang rusak, karena praktik penangkapan ikan yang membahayakan, seperti penangkapan ikan dengan sianida dan penangkapan ikan secara sembarangan, kata Cherie.

Penangkapan ikan menggunakan sianida artinya nelayan menyuntikkan sianida ke dalam karang untuk menjebak ikan, sehingga lebih mudah mengumpulkannya untuk pasar. Praktik ini memiliki konsekuensi berbahaya.

“Habitat mati karena Anda meracuninya dan ikan tersebut akan mati sekitar sebulan kemudian, sehingga orang yang membelinya akan keracunan juga,” kata Cherie.

“Lingkungan merugi, konsumen merugi, metode ini tidak menjadikan industri yang berkelanjutan,” sambungnya.

A group of people sitting in a circle outside.
Diskusi kelompok (FGD) yang dijalankan oleh tim Cherie sebagai bagian dari proyek penelitian sosial mereka. (Cherie Colyer-Morris)

 

Selain bekerja untuk memulihkan terumbu karang, Mars Symbioscience juga bekerja dengan masyarakat yang mengandalkan sektor perikanan.

Cherie terlibat dalam penelitian sosial, mensurvei masyarakat setempat bekerjasama dengan LSM dan universitas untuk membangun profil komunitas.

“Anda bisa mengembangkan cara yang benar-benar luar biasa untuk memulihkan karang. Tapi apakah Anda mengubah perilaku untuk mengatasi masalah [sehingga tak terus berulang] atau tidak, inilah pertanyaan utamanya, apakah ini akan menjadi proyek yang sukses atau tidak,” jelas Cherie.

Perusahaan tersebut juga membantu masyarakat menemukan mata pencaharian alternatif, sehingga merupakan pendekatan holistik dan menyeluruh untuk mengatasi masalah degradasi terumbu karang.

“Daripada nelayan pergi ke laut untuk menggunakan sianida dan mengumpulkan ikan, bagaimana jika mereka kemudian membudidayakan ikannya sendiri?,” ujarnya Cherie.

Woman looking at an aquaculture tank.
Mengunjungi fasilitas akuakultur di Pulau Badi, bagian dari pendekatan mata pencaharian alternatif Mars Symbioscience. (Cherie Colyer-Morris)

 

Ia mengatakan, dari proyek ini ia mendapat perspektif yang sama sekali berbeda tentang isu keberlanjutan maritim.

“Ketika anda mengelola perikanan, anda tak mengelola perikanan, tapi mengelola orang, jadi perlu merubah pandangan itu.”

Saat bekerja dengan budaya yang lain dengan Australia, ada berbagai rintangan yang harus diatasi, seperti hambatan bahasa. Cherie mengatakan pengalaman luar biasanya adalah saat memahami bagaimana cara menangani seseorang sesuai status sosial mereka dan menavigasi sistem transportasi di negara berkembang.

Magang di Indonesia ini memberikan pengaruh besar terhadap rencana karir masa depannya.

“Pengalaman ini menegaskan kembali semangat dan minat saya untuk mengerjakan proyek yang berhubungan langsung dengan masyarakat, terutama proyek kelestarian laut di negara-negara berkembang,” sebutnya.

“Saya ingin mencari proyek yang saya tahu akan bermanfaat untuk masyarakat.”

“Bagi saya pribadi ini menjadi penting… proyek ini bermanfaat untuk memberikan dampak dan meningkatkan kehidupan masyarakat,” imbuhnya.

Group of people taking a selfie on a beach at sunset.
Salah satu pemandangan matahari terbenam di Makassar. (Cherie Colyer-Morris)

 

“Pengalaman ini juga menghubungkan saya dengan beberapa orang yang luar biasa,” kata Cherie, seraya menambahkan bahwa mereka adalah dari kalangan profesional dan teman baru.

Pengalamannya di Indonesia telah mempengaruhi pendekatannya soal menjadi seorang ilmuwan.

“Mengubah cara saya melihat sains, memandang sains, dan saya sangat bersyukur,” utaranya. (Suzannah Lyons – Australia Plus/ab: Nurina Savitri/australiaplus.com/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*