Kecerdasan Buatan Tidak Terelakkan, Keputusan Bergantung Big Data

Isu terkait “Big Data” menjadi tema dalam ekonomi digital yang saat ini menemukan bentuknya dalam era masyarakat informasi. Tema ini bakal merevolusi cara orang-orang berpikir, hidup, dan bekerja. (Sumber: KOMPAS/IWAN SETIYAWAN)

JAKARTA, Baranews.co – Sejak tahun lalu, penggunaan kecerdasan buatan di berbagai bidang makin masif. Hampir semua keputusan bergantung pada kecerdasan buatan. Dampak yang paling signifikan kebutuhan big data – data dalam jumlah besar dan memiliki berbagai bentuk – meningkat.

Penggunaan telepon pintar yang melekat dengan pemakai memberikan data yang melimpah, berupa teks, foto, video, suara, peta, dan lain-lain, hingga bisa memolakan aktivitas dan kebutuhan manusia. Data ini sangat berguna untuk membangun kecerdasan buatan (artificial intelligence). Hingga tahun lalu, jumlah pengguna internet, menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, mencapai 132,7 juta dan sebanyak 67,8 persen diakses melalui telepon pintar.

CEO Daily Social Rama Mamuaya di Jakarta, pekan lalu, mengatakan, penggunaan telepon pintar yang marak memberi data melimpah saat gawai itu digunakan. Sebelumnya, meski komputer sudah lama dipakai, pasokan data terkait aktivitas pengguna sangat minim.

“Setiap aktivitas mulai dari pergerakan orang yang tertangkap GPS, mengakses laman internet, hingga berkomunikasi via media sosial, dan lain-lain merupakan data yang sangat berguna dalam membangun kecerdasan buatan,” kata Rama.

Ia mencontohkan, data interaksi antara konsumen dan produsen bisa digunakan untuk membuat pola jawaban dengan kecerdasan buatan. Sebuah perusahaan yang membuat layanan konsumen di Jakarta ketika belum menggunakan kecerdasan buatan membutuhkan karyawan 200 orang. Dengan kecerdasan buatan, mereka cukup mempekerjakan 30 orang.

“Pertanyaan konsumen melalui surat elektronik atau sistem percakapan yang terpola seperti menanyakan produk, jadwal, dan lain-lain akan dijawab oleh sistem yang menggunakan kecerdasan buatan,” katanya

Daily Social menggunakan kecerdasan buatan untuk menangani siaran pers dari berbagai perusahaan untuk tampil di produk mereka. Semula mereka mengerahkan wartawan untuk menangani 10-20 siaran pers, sekarang dengan kecerdasan buatan hanya dua sampai tiga berita yang harus diperkaya ataupun dikonfirmasi ulang. Sebanyak 10 sampai 20 siaran pers dipasang karena sistem kecerdasan buatan telah mampu mengekstrak siaran pers menjadi berita yang layak.

CEO Bahaso Tyovan Ari Widagdo mengatakan, kecerdasan buatan marak digunakan sejak tahun lalu. Pihaknya tengah membangun usaha rintisan pembelajaran bahasa menggunakan kecerdasan buatan untuk menyusun modul bagi pemelajar. Respons pemelajar secara otomatis akan menentukan modul yang pas untuk dirinya.

“Kami juga tengah mengembangkan aplikasi yang memungkinkan seseorang bisa praktik bahasa asing. Kami tengah menguji coba deep learning dengan kecerdasan buatan. Saat ini masih bayi, tetapi kami latih terus agar bisa lebih dewasa dan memahami kata-kata. Semakin kita banyak melatih robot ini akan semakin cerdas. Fitur ke depan akan berbentuk suara,” paparnya.

Co-Founder KoinWorks Benedicto Haryono menuturkan, kecerdasan buatan digunakan dalam berbagai hal untuk membantu mengambil keputusan (machine aided decision). KoinWorks adalah perusahaan teknologi finansial (tekfin) yang memberikan layanan pinjaman antarpihak. “Total ada 16 use-case penggunaan machine learning di KoinWorks. Jumlahnya makin bertambah,” ujarnya.

Beberapa contoh penggunaan kecerdasan buatan di KoinWorks adalah deteksi kejahatan finansial, peringkat kredit, dan pembacaan karakter optimal untuk memudahkan pembacaan dokumen. Dengan menggunakan kecerdasan buatan, perusahaan tekfin yang memberikan layanan antarpihak tidak lagi menggunakan dokumen yang biasa digunakan oleh perbankan untuk memeriksa rekam jejak calon debitor.

Vice President Engineer Bukalapak Ibrahim Arief menyebutkan, pihaknya juga mengimplementasikan kecerdasan buatan sejak tahun lalu. Kecerdasan buatan dipakai untuk pemodelan prediktif. Dengan sistem ini, Bukalapak bisa mengetahui performa setiap pelapak.

“Kami masih mempunyai sekitar enam proyek yang memanfaatkan big data ataupun kecerdasan buatan. Sampai sekarang, kami percaya pada kekuatan insinyur lokal. Total ada 150 ahli big data ataupun kecerdasan buatan dan kami berencana merekrut 70 orang lagi dalam waktu dekat,” tutur Ibrahim.

Head of Product Grab Jerald Singh mengemukakan, perusahaannya memanfaatkan kecerdasan buatan di setiap kota operasional agar bisa mengetahui perubahan perilaku dari pengemudi ataupun penumpang.

Kebutuhan “big data”

Kecerdasan buatan yang makin banyak digunakan sangat membutuhkan big data. Chief Marketing Officer PT Go-Jek Indonesia Piotr Jakubowski mengatakan, perusahaannya memakai data sebagai dasar semua pengambilan keputusan, baik di divisi operasional, pemasaran, maupun produk. “Kami memiliki tim khusus yang bekerja dengan big data dan menelaah data tersebut,” ujar Piotr.

Tyovan mengatakan, semua keputusan ke depan sangat bergantung pada big data.

Sementara Ibrahim Arief mengutarakan, pemanfaatan big data di Bukalapak dalam bentuk, misalnya, petunjuk barang yang dicari sesuai kesukaan ataupun kebutuhan konsumen. Tim Bukalapak sebelumnya sudah mengumpulkan data pelanggan, kemudian diolah, dan dianalisis. Ketika pelanggan sudah pernah berbelanja sebelumnya, teknologi big data akan mengarahkan kemunculan kategori-kategori barang yang disukai atau dibutuhkan.

“Meski demikian, kami menjamin keamanan data dan peduli dengan privasi. Sebelum mulai bertransaksi, kami sudah menampilkan syarat dan ketentuan yang harus disetujui oleh calon pelanggan. Seluruh data tersebut menjadi milik Bukalapak, tetapi tidak akan diperjualbelikan,” ujarnya. (MED/ELD/AHA/MAR)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*