Gilang Dipenjara 114 Hari Tanpa Dosa atas Tuduhan Pencurian

Ilustrasi (Sumber: andi/detikcom)

JAKARTA, Baranews.co – Ketidakprofesionalan aparat penegak hukum dalam mengusut kejahatan kembali terungkap. Kali ini dialami Gilang Ilham Jaelani (19) yang dituduh mencuri di minimarket kawasan Jakarta Timur. Belakangan terungkap, tuduhan aparat itu isapan jempol belaka.

Berdasarkan cerita versi jaksa, kasus bermula saat Slamet Riyadi mendatangi ruko minimarket tempat ia kerja di Jalan Jengki, Kebon Pala, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, pada 7 September 2013. Slamet menuju ke lantai dua yang dijadikan mess karyawan.

Di lantai dua, Slamet bergabung dengan rekannya, Deri, Rian dan Gilang. Mereka kemudian bekerjasama membobol brankas toko dengan gergaji kecil. Masing-masing berperan agar usaha pembobolan brankas berjalan mulus.

Setelah gembok terputus, Gilang mengambil uang Rp 5,7 juta di dalam brangkas. Uang itu lalu diserahkan ke Slamet dan dibagi-bagi.

Keesokan harinya, pemilik toko kaget brankasnya telah terkuras. Polisi lalu menyidik kasus itu dan meringkus keempatnya. Mereka dijebloskan ke tahanan dan disidangkan dengan berkas terpisah.

Nah, di pengadilan semuanya terbongkar. Gilang ternyata tidak terbukti terlibat pencurian tersebut. Ia hanya disebut-sebut tiga orang lainnya padahal tidak ada satu pun bukti yang menunjukan ia ikut terlibat pencurian.

Akhirnya Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) membebaskan Gilang pada 7 Januari 2014. Tapi jaksa tidak terima dan tetap ngotot bila Gilang terlibat pencurian. Tak tanggung-tanggung, Penuntut Umum meminta Gilang untuk dipenjara selama 1 tahun. Tapi apa kata MA?

“Menolak permohonan kasasi jaksa penuntut umum,” ucap hakim agung Artidjo Alkostar sebagaimana dikutip detikcom dari website MA, Minggu (23/4/2017).

Vonis itu diambil secara bulat. Dua hakim agung lainnya, Sofyan Sitompul dan Sri Murwahyuni sepakat dengan Artidjo. Yaitu satu-satunya alat bukti yaitu kesaksian Slamet yang menyebut Gilang terlibat. Adapun Deni dan Cipto mengetahui bila Gilang terlibat dari polisi.

“Terdakwa Gilang mencabut keterangannya karena keterangan yang diberikan di Penyidik diberikan dalam keadaan ditekan dan diintimidasi sehingga terpaksa menerangkan seperti dalam BAP,” ujar Artidjo dkk pada 22 Desember 2016.

Atas vonis kasasi itu, Gilang kini benar-benar bebas dan tidak pernah bersalah apapun. Tapi apa daya, ia telah merasakan dinginnya penjara selama 114 hari lamanya. 114 Hari lamanya pula HAM dan kebebasannya terrenggut aparat penegak hukum.

Kasus Gilang memperpanjang daftar ketidakprofesionalan aparat menyidik. Kasus yang mencuat sebelumnya seperti kasus laundry di Jakarta Timur. Linda ditahan jaksa dan hakim selama 3 bulan atas tuduhan penggelapan celana dalam yang dicuci. Belakangan, tuduhan itu tak terbukti.

Di Tangerang, Tajudin ditahan karena tuduhan mengeksploitasi anak. Penjual cobek itu dinilai memanfaatkan dan menarik keuntungan dari anak-anak yang membantunya. Tajudin mendekam 9 bulan di penjara dan dibebaskan awal 2017 karena tuduhan itu tak terbukti.

Kasus-kasus di atas dinilai menjadi salah satu faktor penjara over kapasitas. Aparat dinilai begitu gampangnya menahan orang, tanpa melihat bobot layak tidaknya seseorang ditahan. Hasilnya, sel tahanan yang seharusnya diisi 5 orang, bisa membengkak diisi 30 orang.

Oleh sebab itu, Peneliti Pusako Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat, Charles Simabura meminta aparat penegak hukum jangan asal menahan orang. Polisi, jaksa dan hakim diminta profesional dan memikirkan masak-masak apabila hendak menahan.

“Bagi aparat penegak hukum diharapkan untuk tidak terlalu mudah memberikan status penahanan bagi tersangka atau terdakwa khususnya pada tindak pidana umum. Karena selama ini seringkali tahanan dititipkan di LP dikarenakan keterbatasan ruang tahanan penyidik, penuntut dan pengadilan dan rumah tahanan negara. Hal demikian ikut berkontribusi bagi kelebihan daya tampung lembaga pemasyarakatan,” ujar Charles dalam sela-sela diskusi bersama Menkum HAM Yasonna Laoly diskusi di Hotel JW Luwansa, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis-Jumat (20-21/4/2017).  (asp/dnu)/Andi Saputra – detikNews/bh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*