Menjaga Indonesia dengan Rangkulan dan Jabat Tangan

Ilustrasi (Sumber: abulyatama.ac.id)

Indonesia adalah sebuah bangsa yang lahir dari sebuah kompromi atau kesepakatan para pendiri dan pahlawan bangsa. Banyak dari mereka yang sudah berpulang. Ada yang memperoleh anugerah gelar pahlawan tapi ada pula yang tidak menerimanya. Gelar kepahlawanan diberikan karena jasa mereka yang teramat besar untuk bangsa ini. Mereka tidak pernah berpikir untuk mendapatkan kehormatan gelar pahlawan Nasional, yang mereka pikirkan adalah bagaimana bangsa ini merdeka dan tetap bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa melihat suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Mereka merumuskan bentuk dan dasar negara dengan mengakomodir semua kepentingan komponen anak bangsa, sehingga lahirlah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meskipun berbeda beda tetapi tetap satu juga.

Hampir setiap daerah melahirkan pahlawan Nasional, begitu juga setiap agama memberikan sumbangsih perjuangan dengan mengorbankan jiwa dan raga demi sebuah harga diri dan kemerdekaan bangsa.

Dalam masa perjuangan, mereka tidak pernah menonjolkan simbol simbol-simbol agama atau  simbol-simbol kedaerahan, karena bagi mereka ikhtiar yang dilakukan adalah mengusir bangsa asing yang menjajah bumi Indonesia. Bung Karno, Bung Hatta, Muh. Yamin, Jend. Sudirman, KH Hasym Ashari, KH Ahmad Dahlan, Dr. Leimena, Sam Ratulangi, Ignatius Slamet Riyadi, I Gusti Ngurah Rai, Frans Kaisepo, Liem Kon Hian, Jhon Lie dan masih banyak tokoh yang berasal dari lintas agama dan daerah. Mereka semua duduk dalam satu meja, dalam satu medan pertempuran tanpa menyematkan baju keagamaan.

Betapa miris hati ketika hari-hari ini kita disuguhkan sebuah tontonan rasis yang jauh adri nalar akal sehat dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta. Semangat memenangkan calon gubernur dan wakil gubernur lebih besar dari pada semangat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, seolah bangsa ini sudah tidak berharga di mata mereka yang. Mereka mengobarkan semangat kebencian untuk memecah belah bangsa. Ini sangat jauh dari sifat nasionalisme para pahlawan yang mengobarkan semangat persaudaraan untuk mempersatukan bangsa.

Adakah rasa hormat mereka atas perjuangan para pahlawan nasional?

Jawabannya sudah terungkap ketika ada penolakan untuk menshalatkan jenazah hanya karena berbeda pilihan, ketika ada yang berteriak kafir, ketika ada berteriak Cina, ketika ada yang berteriak Jakarta Bersyariah, dan ketika ada yang menggunakan rumah ibadah untuk kepentingan politik yang sifatnya duniawi. Mereka melupakan amanat para pahlawan nasional untuk menjaga keutuhan dan menjaga persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.

Milik siapakah bangsa ini?

Bangsa ini adalah milik anak generasi mendatang yang diwariskan oleh para pendiri dan pahlawan bangsa. Siapapun yang ada dibumi Indonesia, yang memiliki kewarganegaraan Indonesia adalah pemilik sah bangsa dan tanah ini terlepas apapun agama dan dari mana asalnya.

Dan bagi kaum rasis yang lebih memiliki keinginan kuat untuk memecah belah bangsa adalah para penghianat yang dengan sadar ataupun tiudak sadar sudah bekerja untuk kepentingan asing, supaya bangsa ini hancur terpecah belah. Dan ini sudah diingatkan oleh Bapak Bangsa kita, Bung Karno: “Musuhku mudah karena melawan penjajah, namun musuhmu akan lebih sulit karena kau melawan bangsa sendiri.”

Maka untuk menjaga Indonesia tetap utuh, dibutuhkan rangkulan dan jabat tangan seluruh komponen anak bangsa, karena persatuan adalah benteng utama untuk menghalau lawan dari dalam dan luar negeri. *

Yayong Waryono

Relaawan Bara JP

Be the first to comment

Leave a Reply