Polda Kaltim Tangkap 25 Terduga Pelaku Pungli, Presiden Ajak Masyarakat Lawan Korupsi

Sumber: PT. Pelabuhan Indonesia IV

SAMARINDA, Baranews.co –¬†Kepolisian Daerah Kalimantan Timur menangkap 25 orang yang diduga melakukan pungutan liar terkait bongkar muat kontainer di kawasan Terminal Peti Kemas Palaran Samarinda, Jumat (17/3). Dalam operasi tangkap tangan itu, polisi menyita uang senilai Rp 6,1 miliar.

Presiden Joko Widodo di sela-sela kunjungan kerjanya ke Kalimantan Barat mengajak masyarakat melawan korupsi. Pemerintah saat ini tengah berjuang memperbaiki sistem layanan publik. Untuk itu, Presiden mengingatkan semua pihak yang terkait layanan publik agar tidak melakukan pungli.

“Saya ingatkan agar semuanya hati-hati, layani dengan baik dan cepat. Kita melihat Rp 6,1 miliar itu adalah angka yang besar. Pasti sudah dilihat lama,” ujar Presiden menanggapi operasi tangkap tangan yang dilakukan Polda Kaltim.

Kepala Polda Kaltim Inspektur Jenderal Safaruddin saat dihubungi dari Balikpapan mengatakan, ke-25 orang yang ditangkap adalah pekerja di Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Samudra Sejahtera (Komura) dan oknum organisasi kemasyarakatan di Samarinda.

Saat penangkapan, polisi menemukan uang senilai Rp 6,1 miliar yang disimpan dalam empat kardus air mineral dan sebuah plastik berukuran besar di ruang bendahara Komura.

“Dalam pengembangannya, dari 15 orang menjadi 25 orang. Ada sejumlah oknum ormas yang diduga melakukan pungli terhadap kendaraan-kendaraan yang masuk ke terminal,” kata Safaruddin.

Awalnya, katanya, pihaknya menerima informasi dari masyarakat terkait dugaan pungli bongkar muat kontainer. “Misalnya, untuk biaya bongkar muat kontainer yang ukuran 20 feet, pengguna jasa di Palaran harus membayar Rp 180.000 per kontainer. Padahal, sebagai contoh, di pelabuhan di Surabaya, itu hanya Rp 10.000,” ujarnya.

Selain itu, masih ada pungli di jalan masuk menuju terminal peti kemas. “Kalau yang ini dilakukan beberapa oknum dari ormas. Mereka mengutip sejumlah uang. Ormasnya bekerja sama dengan oknum-oknum dari pihak Komura,” kata Safaruddin.

Dibantah

Secara terpisah, Ketua Komura Jafar Abdul Gaffar membantah uang tersebut hasil pungli. Gaffar juga mengaku tidak paham keterkaitan oknum pekerja Komura dengan oknum ormas dalam kasus itu. Ia justru balik mempertanyakan ada apa di balik OTT tersebut.

“Saya yakin itu uang resmi. Uang itu dari pengambilan di bank untuk dipakai sebagai upah para buruh pada hari Sabtu (18/3). Selain itu, Komura juga pegang uang untuk antisipasi jika ada pengeluaran,” ujar Gaffar.

Gaffar yang juga anggota DPRD Samarinda menyebut, semua pihak di kawasan pelabuhan sudah saling mengawasi. Ia pun berencana menanyakan penangkapan itu ke Polda Kaltim dan Pemkot Samarinda.

Sebaliknya, Wakil Wali Kota Samarinda Nusyirwan Ismail mengaku tidak terlalu heran ketika akhirnya dugaan pungli di terminal peti kemas bisa dibuktikan. Terkait pungutan di jalan menuju terminal peti kemas, hal itu sudah berlangsung beberapa waktu.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pihaknya mengapresiasi dan mendukung langkah Polda Kaltim. Kejadian ini akan menjadi momentum koreksi bagi instansinya. (PRA/HAM)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply