Ikhtiar Balasan Leicester, Sampaoli Cemas akan Kebangkitan “The Foxes” oleh Shakespeare

Sumber: You Tube

LEICESTER, Baranews.co – Leicester City optimistis membalikkan kekalahan 1-2 dari Sevilla pada duel balasan babak 16 besar Liga Champions, Rabu (15/3) dini hari WIB, di Inggris. Motivasi mereka kembali lahir semenjak Craig Shakespeare, sang “penyambung lidah”, diangkat manajer tetap.

Leicester, sang juara Liga Inggris, sempat diliputi krisis yang berujung pemecatan Claudio Ranieri, mantan manajernya, setelah kekalahan dari Sevilla, akhir Februari lalu.

Pro kontra pun muncul setelah Ranieri dipecat. Banyak yang menilai tindakan itu keji, tak menghargai jasa manajer yang mengantarkan mereka menjuarai Liga Inggris musim lalu.

Namun, perginya Ranieri nyatanya memberi hikmah. Situasi di internal “The Foxes” lebih kondusif. Para pemain pun kembali punya motivasi di bawah asuhan Shakespeare, mantan asisten Ranieri yang pekan lalu resmi diangkat sebagai manajer Leicester hingga akhir musim ini.

“Kami menyukainya (Shakespeare). Musim lalu, ia membantu Ranieri beradaptasi di tim ini. Ia menjadi penyambung lidah yang hebat (antara Ranieri) dan para pemain. Ia membantu kami menyukai kembali sepak bola,” ujar Danny Drinkwater, pemain Leicester, dikutip dari UEFA.com.

Berkat suntikan motivasi Shakespeare, Leicester pun bangkit. Di bawah asuhannya, The Foxes meninggalkan zona degradasi Liga Inggris menyusul dua kemenangan beruntun, yaitu atas Liverpool dan Hull City.

Rekor sempurna

Tren positif itu ingin mereka lanjutkan di Liga Champions. Rekor 100 persen kemenangan kandang selama Liga Champions musim ini menjadi modal tambahan mereka. “Laga (melawan Sevilla) bakal sulit. Namun, dengan dukungan suporter dan atmosfer (Stadion King Power), kami bisa lolos,” ujar Shakespeare.

Leicester hanya perlu menang 1-0 di King Power untuk lolos ke perempat final. “Kami berpeluang untuk terus melangkah jauh dan menjaga mimpi kami (di Liga Champions). Kalah 1-2 (di laga pertama) bukan hal buruk. Kami hanya perlu mencetak gol (dan tidak kebobolan),” ujar Jamie Vardy, ujung tombak Leicester.

Kembalinya motivasi Leicester membuat Manajer Sevilla Jorge Sampaoli cemas. “Mereka akan menghadapi laga ini seperti final Piala Dunia, sementara kami tidak tampil bagus akhir-akhir ini,” ujar Sampaoli dikutip dari koran Inggris, Daily Mail.

Seperti dikatakan Sampaoli, performa Sevilla akhir-akhir ini tengah menurun. Mereka sulit mengontrol laga maupun memaksimalkan peluang gol di tiga laga terakhir mereka. Tidak ayal, mereka dua kali ditahan imbang lawan-lawannya di Liga Spanyol.

“Kami harus segera keluar dari situasi ini karena akan menjalani laga krusial (kontra Leicester). Jika tidak, kami dalam kesulitan besar,” ujar Sampaoli.

Padahal, nyaris serupa The Foxes, Sampaoli dan Sevilla tengah dalam misi besar, yaitu mencetak sejarah baru klub. Sejak 1958 atau edisi pertama kompetisi itu (dulu bernama Piala Champions), Sevilla tak pernah lagi menembus perempat final.

Penguasa Liga Europa tiga tahun terakhir itu juga ingin “naik kelas”, tidak ingin hanya dikenal sebagai “raja” kompetisi kasta kedua. “Ini adalah laga terpenting dalam sejarah Sevilla. Sejarah baru ada di depan kami,” ujar Jose Castro, Presiden Sevilla, kepada koran Spanyol, Marca. (JON)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply