PERTEMUAN TOKOH: Jokowi dan Yudhoyono Tepis Ketidakpercayaan

Presiden Joko Widodo berbincang dengan presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, di beranda belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (9/3). Dalam pertemuan itu mereka berbicara perihal berbagai isu dan masalah aktual di Indonesia. (Sumber: KOMPAS/WISNU WIDIANTORO)

JAKARTA, Baranews.co –¬†Pertemuan Presiden Joko Widodo dan presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (9/3), dinilai tak hanya positif, tetapi juga akan meminimalkan ketidakpercayaan (distrust) yang sebelumnya terbentuk antara Jokowi dan Yudhoyono serta kekuatan-kekuatan di belakangnya masing-masing.

Pengajar Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya, Haryadi, menilai, pengurangan ketidakpercayaan di antara kedua tokoh tersebut bisa saja berdampak positif terhadap relasi dan dukungan politik riil di masyarakat. Hal ini terkait dengan kepentingan politik taktis dan bukan soal prinsip.

“Dengan pertemuan keduanya, ketegangan politik selama ini dan menjelang putaran kedua Pilkada DKI pada 19 April mendatang diprediksi akan terpecah,” kata Haryadi.

Pertemuan kemarin siang merupakan kelanjutan dari harapan Yudhoyono untuk bisa bersilaturahim dengan Presiden Jokowi. Setelah Presiden Jokowi bertemu dengan sejumlah ketua umum partai politik serta mantan presiden dan wakil presiden, termasuk dua kali dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Presiden justru belum bertemu dengan Yudhoyono.

Padahal, keinginan itu disampaikan Yudhoyono beberapa kali. Misalnya, saat ia merasa dituduh berada di balik aksi massa 4 November 2016 dan dugaan makar. Yudhoyono juga sempat memberikan keterangan pers terkait pembicaraannya dengan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin melalui telepon seperti terungkap dalam sidang dugaan penodaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama.

Presiden Joko Widodo (kiri) mempersilakan presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, untuk duduk di kursi di Beranda Belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (9/3/2017). Dalam pertemuan itu mereka berbicara berbagai isu dan masalah aktual di Indonesia.
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, di Beranda Belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (9/3/2017). Dalam pertemuan itu mereka berbicara berbagai isu dan masalah aktual di Indonesia.
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Saat itu, selain meminta kasus tersebut dituntaskan, Yudhoyono juga ingin bertemu dan bicara blakblakan dengan Presiden Jokowi. “Jika bisa bertemu (Presiden), saya mau bicara dengan beliau blakblakan siapa yang melaporkan kepada beliau info intelijen yang menuduh saya mendanai aksi damai 4/11, mengaitkan saya dengan rencana pengeboman Istana Negara, dan urusan makar,” kata Yudhoyono di Jakarta (Kompas, 2/2).

Menurut Menteri Sekretaris Negara Pratikno, pertemuan tersebut dilakukan untuk merespons kembali keinginan Yudhoyono bertemu dengan Presiden setelah Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan meneleponnya pada Selasa (7/3) saat Konferensi Tingkat Tinggi Asosiasi Kerja Sama Lingkar Samudra Hindia (IORA) di Jakarta Convention Centre. “Pak Hinca menegaskan kembali keinginan Pak SBY bertemu Presiden,” ujarnya.

Tak sempat makan

Saat tiba di Istana Merdeka, Yudhoyono yang ditemani Djoko Suyanto, Menteri Koordinator Politik Hukum Keamanan di Kabinet Indonesia Bersatu II, menunggu Presiden Jokowi yang masih di Istana Negara karena menghadiri peringatan Hari Musik Nasional. Pratikno sempat menemani Yudhoyono dan Joko Suyanto sekitar 10 menit.

Kemudian Presiden tiba dan berbicara empat mata dengan Yudhoyono di Ruang Garuda. Sementara Djoko Suyanto menunggu sembari mengobrol bersama Pratikno dan Juru Bicara Presiden Johan Budi. Setelah perbincangan sekitar 30 menit, Jokowi dan Yudhoyono ke beranda Istana Merdeka, berbincang santai sejenak, dan kemudian memberikan keterangan pers sekitar 10 menit. Lumpia semarang yang disediakan tak sempat disantap habis. Seusai acara, Jokowi mengantar Yudhoyono hingga ke mobil.

Ketika ditanya pers arah Partai Demokrat menyikapi pemerintah, Yudhoyono mengatakan, hanya memosisikan dirinya sebagai mantan presiden. Diskusi dalam pertemuan, katanya, tak masuk ke topik politik teknis. “Kalau itu akan mengalir, ada mekanismenya. Yang penting kita cocok, untuk menyelamatkan negeri ini, negeri Pancasila, saya kira kerja sama politik apa pun itu terbuka,” tutur Yudhoyono.

Saat Kompas menanyakan apa saja hal yang disampaikan blakblakan kepada Presiden Jokowi, Yudhoyono hanya mengangkat cangkir dan minum tehnya. Sementara Presiden Jokowi menoleh dan berseloroh, “Masak blakblakannya diblakkan ke kamu.” Yudhoyono pun ikut terkekeh sambil tetap berkonsentrasi memegang cangkir tehya.¬†(NTA/INA/NDY)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply