AKTIVITAS PRESIDEN: Tak Perlu Cara Rumit Meyakinkan Orang

Sumber: Harian KOMPAS/HANDINING

Dalam pidatonya di Balai Sidang Jakarta, Selasa (7/3), Presiden Joko Widodo menyampaikan, dunia saat ini sedang berubah, mengarah pada revolusi. Tidak terkecuali di bidang perdagangan, tenaga pemasar tidak melulu orang pemasaran. Presiden pun bisa melakukannya. Bagaimana bisa?

Bisa dan itu mudah. Tidak perlu waktu lama dengan bicara berbusa-busa untuk meyakinkan calon pembeli bahwa kursi rotan merupakan produk unggulan Indonesia. Cerita ini terjadi di arena Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara yang tergabung dalam Asosiasi Kerja Sama Lingkar Samudra Hindia (Indian Ocean Rim Association/IORA) di Balai Sidang Jakarta. Lewat tengah hari, Presiden Jokowi mengajak sejumlah kepala pemerintahan dan kepala negara melihat area pameran beragam produk unggulan Indonesia.

Hampir semua stan yang memamerkan mulai dari produk barang hingga makanan disinggahi Presiden. Namun, ada satu stan yang menyimpan cerita berbeda. Presiden dan sejumlah pemimpin negara-negara IORA paling lama singgah di stan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). HIMKI memamerkan produk kerajinan rotan asal Cirebon, Jawa Barat. Satori Rattan, merek produknya yang diambil dari nama pemiliknya, Satori.

“Ini rotan dari mana?” tanya Presiden. Pengusaha rotan itu lalu menjelaskan bahwa bahan baku dan desain semua dari dalam negeri. Presiden penasaran dengan kenyamanan kursi karena desainnya bagus. Katalog produknya juga dibuat menarik sekali, layak bersaing dengan produk luar negeri.

Sesaat kemudian, Presiden duduk di salah satu produk Satori Rattan, yang bernama Elena, sebuah kursi goyang dengan lebar 71 cm dan tinggi 120 cm. Presiden meminta para koleganya ikut duduk di kursi rotan yang berbeda jenis. Obrolan tentang rotan berlangsung di antara orang-orang penting itu. Sesekali mereka mendengarkan penjelasan Satori sambil merasakan kenikmatan kursi itu. Sangat ergonomis.

Kursi rotan

Presiden duduk diapit oleh Wakil Presiden Republik Seychelles Vincent Meriton dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull. Sementara Presiden Mozambik Filipe Jacinto Nyusi dan Perdana Menteri Banglades Seikh Hasina duduk di dekatnya. Entah mimpi apa Satori semalam sebelumnya, kursi-kursi rotannya diduduki pemimpin dari lima negara.

Diam-diam PM Banglades Seikh Hasina memperhatikan kursi yang diduduki Presiden Jokowi. Kursi Elena itu terasa nyaman dan kokoh diduduki. Kursi Elena dijual Satori senilai 160 dollar AS, hanya ada satu contoh di ruang pamer siang itu.

Sebenarnya kursi yang diduduki Hasina tak kalah nyaman, yaitu kursi bernama Terrace, lebar 64 cm dan tinggi 80 cm. Namun, begitu Presiden Jokowi bilang kursinya juga nyaman, Hasina menjadi lebih tertarik pada Elena. Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama?

Obrolan di ruang pamer itu berlangsung kurang dari 15 menit. Presiden pun beralih ke ruang pamer lain, salah satunya yang memamerkan berbagai produk olahan dari kelapa. Di sana Presiden juga mencoba meminum contoh produk olahan kelapa kemasan bernama Kara Coco yang sudah diekspor ke China, Jepang, dan Australia. Obrolan tentang produk itu berlangsung santai sambil menikmati minuman di kedai. Sambil para kepala pemerintahan dan kepala negara menikmati minuman segar, penjaga ruang pamer menjelaskan produknya.

Acara ke ruang pamer diagendakan setelah kesepakatan bersama dokumen “Jakarta Concord” ditandatangani. Dokumen bersejarah lahir lewat rentetan pertemuan dan debat umum peserta konferensi. Acara di ruang pamer itu pun menjadi semacam penyegaran di tengah ketatnya jadwal konferensi. Para delegasi menikmati.

Pemimpin negara-negara IORA pun kembali ke arena sidang untuk melanjutkan agenda berikutnya. Namun, ada juga yang kembali ke ruang pamer Satori Rattan. Dia adalah ajudan PM Banglades Seikh Hasina yang bernama Hassan. Ia diperintahkan PM Hasina membeli kursi Elena. Satori sempat ingin mempertahankan kursinya karena barang di ruang pamer bukan untuk dijual, melainkan contoh produk.

Hassan memohon dengan sangat, dirinya ingin membawa kursi itu langsung ke hotel tempat PM Hasina menginap. Jika ada barang serupa, dia membeli tiga kursi Elena sekaligus. Satori kewalahan menjelaskan. “Okelah, demi nama negara, saya persilakan dibawa. Tetapi, dua pesanan lain masih perlu saya buat,” kata Satori.

Kursi Elena merupakan buatan tangan. Untuk membuat dua kursi lain, dia butuh waktu satu bulan. “Nanti jika sudah jadi, kami kirim ke alamat Anda,” kata Satori kepada Hassan.

Transaksi selesai, tanpa kerumitan, dan menghasilkan. (ANDY RIZA HIDAYAT)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply