Antasari-SBY Saling Tuding, Kasus Pembunuhan Nasrudin Akan Dibuka Lagi

Sumber: Tribunnews

JAKARTA, Baranews.co –¬†Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar menuding presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, merekayasa pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen sehingga ia dikriminalisasi. Sebaliknya, selain meminta kasusnya dibuka kembali, SBY menuding langkah Antasari karena ada dukungan penguasa.

Pernyataan Antasari sebelumnya disampaikan saat mendatangi kantor Badan Reserse Kriminal Polri di kompleks Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa (14/2). Kedatangannya didampingi pengacaranya, Harjadi Jahja, dan adik Nasrudin, Andi Syamsudin Iskandar.

Untuk mengungkap kasus itu, Antasari berharap SBY bersedia membantu kepolisian untuk menemukan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus Antasari tersebut. Antasari menduga SBY memerintahkan sejumlah pihak merekayasa dan mengkriminalisasi kasus pembunuhan Nasrudin sehingga ia dipidana pada Mei 2009.

Namun, dalam laporan polisi yang disampaikannya, Antasari tak menyebutkan pihak terlapor dalam dugaan pelanggaran pidana itu. Antasari melampirkan sejumlah barang bukti, di antaranya rekaman percakapan dari telepon selulernya pada medio Maret-Mei 2009. Salah satu dugaan rekayasa diawali dengan adanya pesan singkat palsu. “Saya minta Pak SBY jujur, terbuka kepada publik, kepada kita semua. Saya sudah mengalami hukuman penjara selama 8 tahun,” ujar Antasari.

Lebih lanjut, Antasari menjelaskan, dugaan keterlibatan SBY dalam kasusnya dimulai ketika Cikeas memerintahkan CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo pada Maret 2009 untuk menemui Antasari di rumahnya. Dalam pertemuan itu, Hary, sesuai perintah Cikeas, diminta membujuk Antasari agar tak menahan Aulia Pohan, terpidana kasus korupsi aliran dana BI.

Namun, Antasari menolak memenuhi permintaan tersebut. Selanjutnya, Mei 2009, ia disangka telah menjadi otak dari pembunuhan Nasrudin. Terhadap kepolisian, Antasari berharap dapat menindaklanjuti laporannya tersebut. Terkait mengapa laporannya baru dilakukan sekarang, Antasari menilai, saat ini adalah waktu yang tepat.

Sementara itu, SBY yang memberikan keterangan pers di kediaman pribadinya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, kemarin malam, membantah semua tuduhan Antasari yang menduga dirinya mengatur rekayasa keterlibatan Antasari dalam kasus pembunuhan Nasrudin.

Terkait tuduhan Antasari, SBY juga telah menempuh jalur hukum dengan dugaan fitnah dan pencemaran nama baik. Pengaduan ke Mabes Polri dilakukan tim kuasa hukum SBY pada Selasa malam. Meski demikian, SBY merasa pesimistis keadilan akan diperolehnya dalam kasus itu.

“Antasari mengeluarkan pernyataan yang menuduh, menyerang, dan merusak nama baik saya. Sudah sejak dua bulan saya perkirakan ini akan terjadi karena sudah ada yang pernah menyampaikan kepada saya,” ujar SBY yang berbicara 16 menit.

Mengenai grasi yang pernah diberikan Presiden Joko Widodo kepada Antasari, SBY menilai bermuatan politik. Ia menduga Antasari mengeluarkan pernyataan tersebut karena mendapat dukungan dari penguasa. “Saya punya keyakinan saudara-saudara, apa yang dilakukan Antasari tidak mungkin tanpa blessing dan restu dari kekuasaan. Para penguasa, hati-hatilah menggunakan kekuasaan,” ucapnya.

Ia juga menegaskan, dirinya tak pernah mengintervensi penegakan hukum ketika 10 tahun berkuasa. Oleh karena itu, SBY meminta semua aparat penegak hukum yang menangani kasus Antasari membuka dan menerangkan semua fakta dan data selama penanganannya.

SBY menambahkan, tuduhan Antasari itu berkaitan erat dengan pencalonan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono, dalam Pilkada DKI Jakarta. Ia meyakini tuduhan itu ditujukan untuk menjatuhkan suara Agus.

Polri bentuk tim

Untuk memproses laporan Antasari itu, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul menuturkan, pihaknya akan membentuk tim untuk menyelidiki adanya dugaan pidana dalam laporan tersebut. Penyelidik kepolisian, lanjutnya, akan menghimpun barang bukti terkait kasus itu sehingga dapat menyimpulkan pelanggaran pidana dari laporan itu.

Dihubungi terpisah, lewat pengacaranya, Andi Simangunsong, Hary Tanoesoedibjo membantah keterlibatannya dalam kasus Aulia Pohan dan pertemuannya dengan Antasari Maret 2009. Andi mengatakan, pernyataan Antasari mengada-ada.

Di Kompleks Istana, Juru Bicara Presiden Johan Budi menampik adanya muatan politis pada grasi yang diberikan Presiden kepada Antasari. “Pemberian grasi diberikan berdasarkan saran Mahkamah Agung,” ujarnya. (SAN/NDY/IAN)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply