Sepakat Menata Pagar Pembatas

Sumber: Harian KOMPAS

Oleh:  B JOSIE SUSILO HARDIANTO

Negara, seberapa pun rumitnya, adalah entitas yang tak ubahnya seperti sebuah keluarga, yang bertetangga dengan keluarga lain. Kadang bersilang pendapat, sedikit ribut karena masalah batas tanah saat hendak membuat pagar. Alas soalnya adalah pihak masing-masing ingin menegaskan hak atas wilayah yang didaku sebagai bagian dari dari kedaulatannya.

Demikian pula Indonesia dan Singapura. Sebagai negara berdaulat, baik Indonesia maupun Singapura memiliki batas-batas wilayah yang menjadi arena tempat mereka memiliki hak menguasai, mengelola, dan menerapkan aturan- aturan yang harus dipatuhi siapa saja. Pada saat yang sama, batas wilayah itu juga bersinggungan dengan batas teritorial negara tetangga.

Menjadi rumit ketika batas- batas itu-seperti disebutkan sebelumnya, karena alasan sejarah, landas kontinental, atau alasan lain-saling tumpang tindih. Indonesia dan Singapura yang menjadi bagian dari komunitas modern berperadaban memilih proses diplomasi untuk menyelesaikan persoalan seperti itu. Hal itu pula yang menandai kehadiran Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi pada 9-10 Februari ke Singapura.

“Keberadaan saya di Singapura selain meluncurkan rangkaian kegiatan perayaan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura, juga melakukan penukaran instrumen ratifikasi perjanjian antara Indonesia dan Singapura mengenai penetapan garis batas laut wilayah kedua negara di bagian timur selat Singapura,” kata Retno setelah bertemu dengan mitranya, Menlu Singapura Vivian Balakrishnan, di Singapura, Jumat lalu.

Menurut Channel News Asia, ratifikasi perjanjian itu terkait batas laut sepanjang 9,5 kilometer di bagian timur Selat Singapura, antara Changi di Singapura dan Pulau Batam di Indonesia. Dengan demikian, sekitar 90 persen masalah batas maritim dari kedua negara-sepanjang 67,3 km-telah rampung.

Kedua negara pun sepakat segera mendaftarkan instrumen ratifikasi itu kepada PBB. Dengan penukaran instrumen ratifikasi itu, Indonesia dan Singapura kini hanya menyisakan sebagian kecil perbatasan maritim yang belum diselesaikan.

10 pertemuan

Kesepakatan itu dicapai setelah melalui proses pembicaraan intensif selama tiga tahun dan melalui 10 putaran pertemuan. Ringkasnya, waktu pembicaraan menunjukkan betapa kedua negara memiliki niat kuat membangun perdamaian di kawasan, sekaligus jaminan pada stabilitas dan keamanan jalur pelayaran strategis itu. Menurut Retno, proses itu merupakan salah satu negosiasi dan pengesahan tercepat yang dilakukan Indonesia dengan negara lain.

Di sisi lain, Balakrishnan melihat proses itu menggarisbawahi hubungan baik kedua negara. “Ini menunjukkan bahwa kita memiliki hubungan fungsional yang baik dan lebih penting lagi, menunjukkan ada kepercayaan strategis. Tanpa itu, semuanya menjadi lebih rumit,” kata Balakrishnan.

content

Kesepakatan itu tentu memiliki arti strategis bagi kedua negara. Di bawah rezim hukum laut, kedua negara kini lebih leluasa mengelola batas teritorial masing-masing dan menjalankan hak berdaulat di wilayah zona ekonomi eksklusif. Sebagai catatan, selat yang berada di antara Changi dan Batam hanya memiliki lebar kurang dari 24 mil laut, sedangkan batas perairan antara Singapura dan Indonesia yang berada di Selat Malaka memiliki jarak lebih dari 24 mil laut tetapi kurang dari 200 mil laut (Farid Yuniar, geospasial.info).

Dengan tuntasnya pembicaraan terkait batas maritim antara Indonesia dan Singapura, kedua negara tidak lagi memiliki persoalan dalam mengelola wilayah perairan mereka. Keduanya dapat menerapkan kebijakan masing-masing, sekaligus bekerja sama di wilayah yang menjadi jalur terpendek penghubung Asia Tengah dan Asia Timur.

Kado pesta emas

Tuntasnya pembicaraan batas maritim kedua negara menjadi hadiah perayaan 50 tahun hubungan Indonesia-Singapura. “Kita bersama sudah melalui masa-masa sulit. Saat ini setelah 50 tahun, kita mampu berdiri di sini dan memberi tahu dunia bahwa kita memiliki hubungan yang sangat kuat, mendalam, dan luas,” kata Balakrishnan.

Senada dengan mitranya, Retno pun mengapresiasi hubungan baik kedua negara. Hal itu tidak saja tampak dalam intensifnya hubungan ekonomi, tetapi juga komunikasi yang baik antara Indonesia dan Singapura. Sekalipun Retno mengatakan masih ada tantangan dalam hubungan baik itu.

“Namun, karena ada komunikasi yang baik sehingga berbagai tantangan dan masalah dapat diselesaikan dengan baik secara terbuka,” katanya.

Saat ini Singapura merupakan mitra dagang terbesar kelima Indonesia setelah Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, dan India. Menurut catatan Kementerian Luar Negeri RI, hingga Oktober 2016, total perdagangan bilateral Indonesia dan Singapura mencapai 20,90 miliar dollar AS.

Investasi Singapura di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 9,2 miliar dollar AS. Investasi itu diwujudkan dalam 1.932 proyek, dan menjadikan Singapura sebagai investor asing terbesar dalam lima tahun terakhir. Semua itu bermuara pada satu kata, kedaulatan. (Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply