SISI LAIN ISTANA: Puisi Spontan Sujiwo Tejo

Ilustrasi (Sumber: Harian KOMPAS/HANDINING).

Baranews.co – Baru kali ini di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (23/1), dalang Sujiwo Tejo baca puisi di depan Presiden Joko Widodo. Meskipun puisinya berjudul “Surat untuk Mbak Mega”, isinya bukan hanya untuk presiden ke-5 RI itu, melainkan juga untuk Presiden Jokowi.

Sujiwo Tejo lebih banyak membawakan puisinya dengan kalimat celetukan spontan, improvisasi dengan iringan kata penuh canda. Ia membawakan puisi seperti sedang mendalang sambil memetik ukulele. “Saya hanya membuat draft dan pointers di kertas yang saya pegang di panggung itu,” ujarnya.

Inilah cuplikan “Surat untuk Mbak Mega”. Mbak, izinkan saya memanggil Mbak Mega walaupun yang lain sibuk memanggil Bu Mega. Karena aku mengikuti jejakmu tetap memanggil Kiai Haji Abdurrahman Wahid Mas Dur meskipun yang lain sibuk memanggil Gus Dur”.

“Mbak Mega, di mana sih Mbak Mega,” lanjut Sujiwo sambil mencari posisi duduk Megawati di antara hadirin. Setelah melihat Mega, Sujiwo berkata lagi, “Oh Mbak Mega…. Oh ya Pak Jokowi, maaf saya tiru seragam Pak Jokowi tapi saya pakai topi. Surat ini saya tulis, Mbak Mega, ketika setiap kali ada kerusuhan Kapolri bahkan Presiden selalu mencari siapa dalang kerusuhan, bukan koreografer atau sutradara kerusuhan. Seolah-olah, kami para dalang ini hina. Mbok sekali-sekali Pak Jokowi bertanya siapa konduktor dan siapa koreografer 411 dan 212. “Di bagian ini sorak dan tawa hadirin, termasuk Presiden.

“Bagaimana kalau kita berbagi tugas. Pak Jokowi jarang nonton wayang. Ini serius. Tapi saya tahu dan saya bilang ke teman-teman, beliau bukan tak suka wayang, beliau ini orang Jawa. Mungkin beliau ingin mendapat kesan bekerja, maka beliau mesti metal. Bagi-bagi tugas. Mbak Mega mengurus wayang dan Pak Jokowi metal. Generasi metal dan wayang adalah bangsa kita,” tutur Sujiwo.

“Aku ingat saat engkau tetap memanggil Mas ke Gus Dur. Bagi saya, Gus Dur adalah Semar. Janoko atau Arjuna yang selalu memanggil Semar dengan panggilan Kakang Semar. Kau adalah Arjuna. Wayang Arjuna selalu diperankan perempuan. Arjuna suka memanah, itulah muncul di Pak Jokowi,” katanya. Hadirin tertawa.

Walaupun lebih memilih kata “Mbak”, Jiwo sering menyebut “Bu Mega”. “Ibu pernah sesumbar ke Jokowi. Jangan takut ke siapa pun yang memecah belah NKRI. Karena kami punya anak buah. Begitu kata Ibu Mega. Sedangkan saya tak punya anak buah. Tapi saya punya air mata. Maka ketika kau akan lari dari tanggung jawabmu aku akan menyanyi.”

Sujiwo melanjutkan puisi dengan lagu “Lautan Tangis”. “Tertawalah di lautan air mata kami. Berselancarlah di lautan air mata kami. Berpesiarlah di lautan air mata kami.”

Seusai pentas, Presiden menjabat tangan Sujiwo. Apa komentar Jokowi? “Beliau tak apa-apa kok. Tampaknya beliau gembira. Tapi tak tahu di hatinya,” kata Sujiwo. Sekali lagi ini hanya cuplikan puisi spontan Sujiwo. Dengarkan lengkapnya di tempat sang dalang. (J Osdar)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply