Cari Kerja di Australia? Pikirkan Keterampilan, Bukan Hanya Karir

Lucy MacKinnon, insinyur sipil lulusan Australia. (Sumer: ABC News: Norman Hermant)

Jika Anda adalah orang muda yang siap-siap memasuki pasar kerja di Australia, keterampilan yang Anda miliki dapat memberikan peluang pekerjaan lebih besar daripada yang Anda perkirakan. Sepanjang Anda berada dalam “klaster pekerjaan” yang tepat.

Baranews.co – Demikian salah satu hal yang mengemuka dari laporan terbaru yang dirilis Foundation for Young Australians (FYA).

Laporan itu menyebutkan keterampilan yang Anda peroleh dari satu pekerjaan rata-rata bisa ditransfer ke 13 posisi pekerjaan lainnya. Laporan juga menyatakan di masa depan anak-anak muda harus berfokus pada kelebihan dan minat mereka bukan hanya pada satu pekerjaan impian.

Laporan bertajuk The New Work Mindset itu meneliti 2,7 juta iklan lowongan pekerjaan. FYA menggunakan algoritma untuk melihat lebih 1.000 pekerjaan, dan menemukan adanya tujuh kelompok pekerjaan besar berdasarkan keterampilan yang sama yang dicari oleh para pemberi kerja.

Klaster tersebut meliputi: pertukangan (baik yang membuat maupun memelihara), generator (penjual dan pelayan), koordinator, informer (mengajarkan dan menyiapkan informasi), desainer, carer (perduli keadaan orang lain), dan teknologis (memahami dan mampu gunakan teknologi digital).

The seven clusters of employment
Anak-anak muda pencari kerja sebaiknya memperhatikan klaster pekerjaan yang paling cocok dengan minat dan kelebihan mereka.(Supplied)

Klaster carer misalnya, bisa mencakup 131 pekerjaan. Yaitu segala jenis pekerjaan mulai dari dokter, pekerja anak, hingga instruktur kebugaran.

“Saya kira ini memberikan wawasan baru, bagaimana pengelompokan itu dapat membantu Anda,” kata CEO FYA, Jan Owen.

“Ini seharusnya meyakinkan para pekerja muda bahwa mereka memiliki keterampilan dan kemampuan, bahkan jika mulai dengan pekerjaan dasar, hal itu bisa membuka banyak jalan lain,” ujarnya.

Yang pertama tak harus yang terakhir

Salah seorang pekerja muda bernama Lucy MacKinnon (25 tahun) merupakan contoh dari bagaimana memahami klaster pekerjaan ini.

Dia lulus pada 2013 sebagai insinyur teknik sipil. Dia tadinya berpikir akan merancang penataan lalu-lintas di pinggiran kota. Sebaliknya, karirnya justru sebagai perencana bandara.

“Mencari pekerjaan setelah tamat universitas benar-benar sulit,” katanya.

“Jadi, jika Anda dapatkan tawaran pekerjaan namun tidak sempurna, ketahuilah bahwa apa yang Anda pelajari dari pekerjaan itu atau apa yang Anda pelajari di universitas dapat Anda gunakan lebih lanjut dalam hal yang mungkin Anda lebih nikmati,” katanya.

Dia menyarankan mereka yang memasuki pasar kerja agar menyadari kemampuannya. Dan ingat, pekerjaan pertama Anda tidak akan menjadi yang terakhir.

“Dengan tidak membatasi diri serta tahu adanya pilihan lain yang bisa dilakukan, saya kira akan menghibur bagi kebanyakan orang,” katanya.

Seorang remaja bernama Eleanor West (17) ingin belajar fisioterapi di universitas tahun depan, namun mengatakan kehidupan pekerjaannya tidak akan tetap untuk waktu lama.

“Saat ini tidak biasa untuk mulai pekerjaan dan bertahan di sana,” katanya seraya menambahkan, “Sangat penting memiliki keterampilan yang … fleksibel, sehingga ketika kita pindah-pindah kerja, keterampilan itu dapat disesuaikan juga.”

Waitress
Pencari kerja perlu memikirkan keterampilan bukan hanya karir. (AAP)

 

Keterampilan bukan pengalaman?

Menurut Sally Mortimer dari perusahaan rekruitmen Randstad, usaha meyakinkan para pemberi kerja untuk lebih mempertimbangkan keterampilan dan kemampuan daripada sekadar jabatan merupakan sebuah tantangan.

“Ini terkait dengan mengubahnya jadi (mentalitas) ‘kami ingin seseorang yang bisa laksanakan peran ini selama tiga tahun’,” katanya.

“Sejalan dengan masa depan pekerjaan berubah, saya kita mereka tak punya pilihan,” katanya seraya menambahkan, “Kami lihat juga adanya keterampilan sama yang bisa dibawa kemana-mana.”

Apa klaster Anda?

Masa depan beberapa klaster pekerjaan lebih cerah daripada yang lain.

Laporan itu mengatakan klaster pertukangan – pembangun dan pengelola – merupakan yang paling terpengaruh oleh otomatisasi, dan berprospek paling rendah untuk berkembang.

Sementara klaster teknologis – spesialis teknologi digital – akan paling berkembang.

Namun meskipun berada dalam kelompok pertumbuhan yang rendah, tidak semuanya akan hilang.

“Bahkan jika Anda berada dalam pekerjaan yang mungkin akan diotomatisasi, Anda tidak tahu sampai melihat bagaimana keterampilan dan kemampuan bagaimana bisa dibawa kemana-mana,” kata Jan Owen. (Norman Hermant/Alih bahasa:¬†Farid M. Ibrahim/australiaplus.com/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply