PSK Asing Sebagai Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS Indonesia

PSK asal Maroko ditangkap Imigrasi di Puncak, Jabar (Sumber: tempo.co)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Beberapa tahun belakangan ini dunia pelacuran di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Puncak, diramaikan oleh pelacur-pelacur, disebut pekerja seks komersial (PSK), dari berbagai negara, seperti China, Uzbekistan, Maroko, Vietnam, dll.

Dalam ‘buku pintar’ pelacuran dunia di Indonesia sudah dikenal 5 daerah dengan tujuan ‘wisata seks’ khusus, yaitu: (1) Batam yang menerima wisatawan dari Singapura dan Malaysia, bahkan ada laki-laki WN Singapura dan Malaysia yang menjadikan PSK di sana sebagai istri simpanan yang dikunjungi tiap akhir pekan, (2) dan (3) Cilegon dan Cikarang jadi sasaran wisatawan penggemar seks dari Korea, (4) Puncak tujuan wisata seks dari Timur Tengah dan Afrika Utara yang juga dikenal terjadi praktek ‘kawin kontrak’, dan (5) Singkawang merupakan kota di Kalbar yang jadi sasaran wisatawan China dan Taiwan yang juga sebagai tempat mencari jodoh.

Ratusan PSK asal luar negeri yang sudah tertangkap dan ditangkap, baik oleh polisi maupun Imigrasi, membuktikan pasaran mereka di Indonesia sangat tinggi. Tarif short time bervariasi mulai dari Rp 1,75 juta – Rp 4 juta (detiknews, 13/1-2017).

Disebutkan bahwa laki-laki ‘hidung belang’ tergiur melihat PSK-PSK asing yang tinggi semampai, putih, mulus, rambut panjang dan tutur kata yang halus. Tapi, di balik kemulusan mereka ada risiko besar yang bisa menyengsarakan diri dan keluarga seumur hidup yaitu tertular HIV/AIDS.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah risiko tertular HIV/AIDS dari PSK-PSK asing tsb., karena selain kasus HIV/AIDS ada di negera asal mereka bisa jadi mereka pun sudah mampir di berbagai kota yang ada industri hiburan malam dan transaksi seks.

Itu artinya PSK asal luar negeri berisiko tertular HIV karena perilaku mereka yang melayani hubungan seksual dengan banyak laki-laki di banyak kota atau negara. Tidak ada negara yang tidak melaporkan kasus HIV/AIDS di dunia ini. Negara-negara dengan hukum agama sekali pun tetap ada kasus AIDS yang dilaporkan.

Estimasi (perkiraan berdasarkan cara-cara ilmiah) pada tahun 2005 seperti yang dilaporkan oleh UNAIDS (Badan PBB yang khusus menangani AIDS) dan Pemerintah China menyebutkan jumlah PSK di kalangan pekerja seks di negeri itu antara 2,8 – 4,5 juta (www.aidsdatahub.org). Di Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan (2004) dilaporkan sepertiga dari kasus HIV/AIDS pada perempuan sebagian besar kasus terdeteksi pada PSK (www.rferl.org).

Sedangkan di Maroko dan negara-negara Timur Tengah serta Afrika Utara prevalensi (perbandingan antara yang HIV-positif dan HIV-negatif) rendah, tapi tidak berarti risiko penularan HIV rendah karena banyak faktor yang membuat angka yang dilaporkan rendah. Di Vietnam diperkirakan ada 25.700 PSK, tapi yang bisa diawasi hanya 6.256 (www.thanhniennews.com).

Razia yang dilakukan Ditjen Imigrasi disebutkan ada ‘alat kontrasepsi’ (detiknews, 13/1-2017). Tapi, tidak jelas apa yang dimaksud dengan ‘alat kontrasepsi’ tsb. Jika itu kondom tetap saja ada risiko karena laki-laki Indonesia paling tidak suka memakai kondom ketika ngeseks dengan PSK dengan 1001 macam alasan.

Lagi pula tidak ada mekanisme yang mengawasi ketaatan laki-laki memakai kondom dan sikap PSK asing tsb. terhadap laki-laki yang tidak mau memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual.

Selain di Jakarta Ditjen Imigrasi sering melakukan razia terhadap PSK asing di kawasan Puncak, Jabar. Tentu amat ironis di daerah yang selalu memakai jargon-jargon agamis tapi membiarkan pelacuran merajalela. Bahkan, ada pula praktek kawin-kontrak antara laki-laki dari Timur Tengah dan Afrika Utara dengan perempuan di Puncak.

Wapres Jusuf Kalla, pada pemerintahan SBY, mengatakan bahwa anak-anak yang lahir dari ‘perkawinan singkat’ berupa keturunan Arab di Puncak kelak bisa diandalkan sebagai pemain sinetron. Tapi, Pak JK lupa kalau kelak anak-anak itu lahir dnegan HIV/AIDS akan jadi beban negara seumur hidupnya [Lihat: Syaiful W. HarahapPernikahan Singkat’ (Bisa) Mewariskan AIDS].

Ketika pemerintah tidak bisa berbuat banyak dalam menanggulangi HIV/AIDS karena penolakan terhadap kondom dan lokalisasi pelacuran, maka kehadiran PSK-PSK asing itu pun menambah mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Jakarta, Bogor dan Puncak khususnya dan di Indonesia umumnya.

Dengan kasus kumulatif HIV/AIDS lebih dari 300.000 di Indonesia itu artiuya tinggal menunggu ‘ledakan AIDS’ yang kelak jadi beban negara di tengah korupsi yang merajalela. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*