Dari “Temu Ilmiah” Hari AIDS Sedunia: Belum Ada Pengganti Obat Antiretroviral

Ilustrasi: Obat ARV (Sumber: www.usatodya.com)

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP

JAKARTA, Baranews.co – Belakangan ini ada suara-suara sumbang yang menolak pengobatan dengan obat antiretroviral (ARV) bagi pengidap HIV/AIDS, disebut juga dengan Odha (Orang dengan HIV/AIDS). Fakta menunjukkan Odha yang meminum obat ARV hidup tanpa gangguan penyakit, seperti yang dialami oleh Didi, bukan nama sebenarnya, yang sudah 22 tahun terdeteksi tertular HIV. “Saya menjalani hidup tanpa gangguan kesehatan,” kata Didi, 50 tahun, pada acara Temu Ilmiah Menyambut Hari AIDS SeduniaHidup Gemilang Tanpa Penularan HIV” yang diselenggarakan oleh Masyarakat Peduli AIDS Indonesia (MPAI) di Ruang Kuliah Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta, 28/11-2016.

Obat ARV adalah obat yang menekan laju perkembangan HIV di dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh tetap bertahan. Bahkan, “Enam bulan pertama setelah minum obat ARV virus (HIV) tidak terdeteksi lagi,” kata Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD, KOHM, pakar HIV/AIDS di MPAI, yang jadi pembicara di temu ilmiah tsb. Itu artinya sistem kekebalan tubuh tidak terganggu. Soalnya, ketika HIV sudah masuk ke tubuh seseorang maka HIV akan menggandakan diri di sel-sel darah putih yang dijadikan sebagai ‘pabrik’. Sel-sel darah putih yang jadi ‘pabrik’ itu rusak. HIV yang baru akan mencari sel darah putih pula untuk menggandakan diri. Begitu seterusnya sehingga jumlah sel darah putih berkurang yang menyebabkan sistem kekebalan darah rendah sehingga mudah terkena penyakit yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare, jamu, TB, dll. Penyakit inilah kemudian yang menyebabkan kematian pada Odha.

Didi sendiri mulai minum obat ARV sejak tahun 2001. Ketika itu Didi meminum obat ARV lini 1 dengan harga Rp 3 juta untuk konsumsi 1 bulan. Karena ada masalah dengan obat ARV lini 1, Didi pun terpaksa pindah ke obat ARV lini 2. Celakanya, obat ini tidak ada di Indonesia sehingga harus dibeli di Bangkok dengan harga Rp 15 juta untuk konsumsi 1 bulan. Belakangan sejak tahun 2004 obat-obat ARV tersedia di Indonesia secara gratis.

Itulah sebabnya Didi heran ada Odha yang tidak minum obat ARV dengan teratur, padahal obat ini gratis. “Belum ada obat yang bisa menggantikan obat ARV untuk Odha,” ujar Prof Samsuridjal, SpPD, KAI, pakar HIV/AIDS di MPAI, yang juga jadi pembicara pada temu ilmiah ini. Prof Samsu mengingatkan agar Odha taat minum obat ARV sesuai dengan anjuran dokter pada jam yang ditetapkan. Ketaatan minum obat ARV sangat penting agar virus tidak berkembang biak.

Dengan meminum obat ARV secara teratur sesuai anjuran dokter HIV tidak terdeteksi setelah enam bulan sehingga risiko menularkan HIV pun tidak ada lagi. Bagi pasangan suami istri yang salah satu atau dua-duanya mengidap HIV/AIDS hubungan suami-istri bisa dilakukan tanpa kondom pada saat virus tidak terdeteksi. Itu artinya meminum obat ARV dengan taat potensi menularkan HIV bisa ditekan sampai nol.

Tentang risiko penularan HIV dari ibu pengidap HIV ke bayi yang dikandungnya setelah lahir melalui menyusui dengan air susu ibu (ASI) perlu pertimbangan medis. Jika si ibu terdeteksi mengidap HIV menjelang persalinan dan obat ARV baru diberikan dekat persalinan sebaiknya bayi tidak menyusui ke ibunya. Bayi diberikan susu sebagai pengganti ASI. Tapi, kalau si ibu meminum obat ARV sejak awal kehamilan, maka risiko penularan HIV melalui ASI sangat kecil karena virus di tubuh ibunya tidak terdeteksi.

Dengan minum obat ARV secara teratur Odha bisa ‘menghadang’ penyakit menular, tapi belakangan ini, menurut Prof Zubairi, justru penyakit noninfeksi meningkat di kalangan Odha, seperti diabetes, jantung, dll. Penyakit ini pun jadi co-infeksi bagi Odha. Penyakit lain yang jadi co-infeksi adalah kanker serviks. Tanpa infeksi HIV pun kanker serviks menjadi salah satu penyebab kematian bagi perempuan. Dr dr Evy Yunihastuti, SpPD, dokter ahli di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, membeberkan infeksi anal pada LSL (Lelaki Suka Seks dengan Lekaki).

Di bagian lain, Prof dr Budi Utomo, MPH, PhD, staf pengajar di FKM UI, sangat khawatir dengan pertambahkan kasus HIV/AIDS. Laporan Ditjen P2P, Kemenkes, menyebutkan dari tahun 1987 sampai 30 Juni 2016 kasus kumulatif HIV/AIDS mencapai 291.465 yang terdiri atas 208.909 HIV dan 82.556 AIDS dengan 14.234 kematian. “Perlu ada program yang bisa mengendalikan penyebaran HIV/AIDS,” kata Prof Budi.

Soalnya, menurut Prof Budi, sejak tempat-tempat pelacuran ditutup pengidap HIV/AIDS di kalangan PSK berwujud cluster kecil yang tersebar luas tapi bersinggungan langsung dengan masyarakat luas. Dengan melokalisir PSK tidak ada lagi cluster kecil yang tersebar sehingga langkah-langkah konkret untuk memutus penyebaran HIV/AIDS dari PSK ke masyarakat bisa dilakukan yaitu dengan intervensi berupa mewajibkan laki-laki pakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Prof Budi menunjuk Thailand yang sudah membuktikan intervensi pemakaian kondom bisa menurunkan insiden infeksi HIV baru di kalangan laki-laki dewasa. Kasus kencing nanah (GO) dan raja singa (sifilis) yang terseteksi pada warga menunjukkan ada perilaku berisiko tertular HIV yaitu hubungan seksual tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

Prevalensi HIV sekarang ini 0,4 dan sifilis 0,8. “Kalau tidak ada penanggulangan infeksi HIV yang efektif prevalensi HIV akan melewati sifilis,” kata Prof Budi mengingatkan. Bahkan, HIV bisa menyamai kasus GO yang angkanya secara nasional mencapai 40 persen.

“Kita perlu duduk bersama agar isu pelacuran dan kondom bisa dipahami secara objektif,” pinta Prof Budi. Soalnya, salama ini muncul anggapan lokalisasi pelacuran dan promosi kondom sebagai bentuk pembenaran terhadap pelacuran. Membiarkan cluster-cluster pengidap HIV/AIDS menyebar sama saja dengan memberikan peluang penyebaran HIV/AIDS secara luas ke masyarakat. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

Be the first to comment

Leave a Reply